AL-BAHRU DALAM ALQURAN (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alquran adalah al-nur yang diwahyukan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Malaikat Jibril, laksana samudera yang keajaibannya dan keunikannya tidak akan pernah sirna ditelan masa.[1] Ini disebabkan karena Alquran adalah sebuah kitab suci yang mempunyai metode yang jauh berbeda dengan kitab-kitab yang lain, baik dari segi penulisannya maupun pen-jelasannya. Hal ini dijelaskan oleh Allah swt. di dalam QS. al-Kahfi (18): 109 ;

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109)
Terjemahnya:
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).[2]
Sehubungan dengan ayat di atas, Allah swt. juga menjelaskan dalam QS. Luqmân (31): 27 sebagai berikut :
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(27)

Terjemahnya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[3]

Dari uraian kedua ayat di atas, nyatalah bahwa-sanya Alquran itu tidak mempunyai tandingan jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Oleh karena itu, Alquran adalah penyempurna dari kitab-kitab terdahulu yang diturunkan oleh Allah sebagai pendoman umat Islam dan menjadi petunjuk yang benar terhadap kesalahan dan sinar bagi kegelapan.[4] Bagi orang-orang yang berfikir, yang perlu kita perhatikan bahwa Alquran memberikan bimbingan dan penjelasan yang berkenaan dengan suatu masalah, hal ini tidaklah dicukupkan dalam suatu ayat melainkan dijelaskan dalam surat dan ayat yang lain pula.[5]
Hal ini dapat kita lihat pada satu sentral yang menjadi pembahasan dalam skripsi ini adalah kata al-Bahr yang berarti laut. Kata ini, diulang hingga beberapa kali dari satu surat ke surat yang lain dan bahkan ada yang bersamaan suratnya akan tetapi ayatnya yang berbeda, serta berlainan pula penjelasannya.
Pada hakekatnya masalah lautan akan tetap menjadi persoalan yang sangat penting, pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Alquran memperingatkan kepada kita bahwa lautan itu diciptakan oleh Allah berguna untuk manusia dan perlu diambil manfaatnya sebanyak mungkin.[6] Itulah sebabnya penulis merasa perlu mengangkat judul yang berkenaan dengan kata al-Bahr, dengan menitikberatkan kepada ayat-ayat Alquran yang menjadi acuan pada pembahasan selanjutnya. Di antara-nya: QS. al-Maidah (5): 96, QS. al-Thur (52): 6, QS. al-Rum (30): 41, QS. al-Isra’ (17): 66, 67, 70, QS. al-Nahl (16): 14, QS. al-A’raf (17): 138, 163, QS. al-Jatsiyah (45): 12 dan QS. Lukman (31): 27.[7]
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Untuk lebih mengarahkan pembahasan skripsi ini, penulis membatasi diri dengan merumuskan permasalahan yang menjadi kajian di dalamnya sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep al-Bahr dalam Alquran ?
2. Bagaimana fungsi al-Bahr dalam hubungannya dengan
manusia ?
3. Apa Manfaat al-Bahr dalam kehidupan manusia ?
C. Pengertian Judul
Untuk memudahkan serta memberikan pemahaman yang sama dan menghindari terjadinya kesalah pahaman maka penulis akan memberikan pengertian judul sebagai berikut :

1. Al-Bahr, merupakan jamak dari abhuru, wabuhuru, wabiharu yang berarti laut.[8] Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia dikatakan bahwa laut itu adalah kumpulan air asin (dalam jumlah yang banyak dan luas) yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau-pulau.[9] Dan lautan adalah laut yang sangat luas.
2. Dalam, adalah ilmu pengetahuan (pengetahuan yang benar-benar)
3. Alquran, didefinisikan dari segi etimologi dan terminologi. Dari segi etimologi ulama mempunyai perbedaan dalam memberikan pengertian terhadap Alquran, hal ini dapat kita lihat pendapat Imam Syafii yang mengatakan bahwa Alquran itu memakai al-ma’rifat, tidak memakai hamzah (ghairu mahmuz) dan bukan diambil dari kata lain adalah resmi bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Bukan berasal dari kata قرأت sebab jika berasal dari kata قرائن jamak dari kata قرينة tanpa hamza (ghairu mahmuz) dan nun-nya huruf asal. Ia beragumentasi, karena ayat-ayat Alquran ini satu sama lain saling serupa, sehingga seakan-akan bahagian ayat-ayatnya merupakan indikator dari apa yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa itu. Dalam arti terminologi Alquran juga telah banyak didefinisikan para ulama. Namun demikian, ada definisi Alquran yang bisa diterima oleh kalangan ulama dari berbagai keahlian.[10] Sehubungan dengan definisi ini Muhammad Muhammad Abd. Azim al-Zarqani menuliskan :
هو الكلام الله المعجز المنـزل علي النبي صلي الله عليه وسلم المكتوب في المصاحف
المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته
Terjemahnya:
Alquran adalah kalamullah yang bersifat mu’jizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tertulis di dalam mushaf, dinukil (disampaikan) dengan jalan mutawatir dan membacanya dinilai sebagai per-buatan ibadah.
Berdasar dari keterangan-keterangan di atas, maka judul ini dimaksudkan sebagai wacana tentang masalah kelautan yang signifikansi pembahasannya berdasar pada ayat-ayat Alquran.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam pembahasan skripsi ini adalah :
1. Mengetahui konsep al-bahr dalam Alquran
2. Mengetahui fungsi al-bahr dalam hubungannya dengan manusia
3. Mengetahui manfaat al-bahr dalam kehidupan manusia
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang hendak dicapai dalam pembahasan skripsi ini adalah :
1. Memberikan sumbangsi pemikiran kepada kita semua mengenai konsep, fungsi dan manfaat al-bahr dalam kehidupan manusia
2. Sebagai bahan (bacaan) bagi penulis dan para peneliti berikutnya, dalam upaya menyusun karya ilmiah yang berkaitan dengan al-bahr
F. Metodologi Penelitian
Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langka-langka sistematis. Sedangkan metodologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam penelitian.[11] Dalam hal ini penulis menggunakan metode :
1. Metode Pendekatan, metode ini didasarkan kepada obyek permasalahan yakni ayat-ayat Alquran dengan meng-gunakan cara; sistematis, logis, empiris dan deduktif.
2. Metode pengumpulan data, metode ini bertujuan untuk mengumpulkan data dari berbagai leteratur yang ada.
3. Metode Tematik
Metode tematik[12] yang dimaksudkan di sini adalah, penulis menghimpun ayat-ayat yang terkait dengan al-bahru. Baik ayat-ayat yang secara langsung berterm al-bahru maupun yang tidak tetapi di dalamnya terkait dengan makna al-bahru. Ayat-ayat tersebut dianalisis dan dinterpretasikan sesuai kaidah-kaidah tafsir.
G. Tinjauan Pustaka
Sehubungan dengan persoalan di atas, penulis meng-gunakan berbagai literatur yang ada, di antaranya :
1. Ahmad Mushthafa al-Maraghi, dalam tafsirnya yang berjudul Tafsir al-Maragiy. Tafsir ini memberikan penafsiran mirip dengan tafsir al-Azhar, akan tetapi mempunyai perbedaan dalam memberikan penjelasan dari setiap ayat yang ada dalam al-Qur’ân al-Karîm akan tetapi mempunyai makna yang sama dalam rangka memaknai ayat itu karena kedua-duanya didasari oleh ayat Alquran.
2. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), dalam tafsirnya yang dikenal dengan Tafsir al-Azhar, dalam ini dijelaskan makna dan penjelasan dari setiap ayat dalam Alquran dan kemudian memberikan kesimpulan dari persoalan yang dijelaskan itu, dalam tafsir ini pula dia memberikan penjelasan dari ujung ayat sampai penggalan ayat, sehingga tafsir ini memudahkan penulis untuk memberikan penjelasan dari setia persoalan yang menjadi pembahasan dari skripsi ini, dan tafsir ini terbagi dalam setiap juz-juz yang sesuai dengan juz Alquran.
3. Departemen Agama RI., Al-Quran dan Tafsirnya. Dalam kitab ini mempunyai kesamaan dari setiap tafsir yang ada, namun kitab ini memberikan penjelasan dari setiap ayat-ayat yang ada dalam Alquran, kemudian dikuatkan pula oleh hadis-hadis yang berhubungan dengan persoalan yang menjadi penjelasan tersebut. Oleh karena itu, penulis hanya berkisar kepenjelasan singkat dari literatur yang menjadi acuan dalam pembahasan skripsi ini.
Literatur yang disebutkan di atas, memang di dalamnya terdapat uraian-uraian tentang al-bahr, namun term al-bahr tidak dijadikan sebagai variabel utama, karena ia merupakan kitab-kitab tafsir yang terbatas pada penginterpretasian ayat-ayat secara ijmali. Bahkan literatur yang disebutkan terkahir di atas, hanya berfokus pada penerjemahan ayat-ayat, termasuk ayat-ayat tentang al-bahr.
Atas dasar itulah, sehingga penulis belum men-dapatkan buku yang membahas tentang bagaimana keberadaan al-Bahr dalam Alquran, maka dalam skripsi ini nantinya penulis akan memberikan penjelasan tentang al-bahr melalui penafsiran tematik.
Walaupun demikian, kitab-kitab literatur yang antara lain disebutkan di atas tetap menjadi rujukan sehubungan dengan persoalan yang menjadi pangkal utama dalam skripsi ini.
H. Garis-garis Besar Isi Skripsi
Untuk memberikan gambaran awal tentang muatan dari skripsi ini, penulis akan memberikan penjelasan sekilas tentang garis-garis besar isi skripsi sebagai berikut :
Pada bab I, dijelaskan tentang latar belakang, yang memberikan dorongan terhadap penulis untuk meneliti dan membahas persoalan di atas, selanjutnya dirumuskan pula permasalahan dan batasan masalah, kemudian dijelaskan pengertian judul, kemudian di-uraikan pula tujuan dan manfaat penelitian sekaligus metode yang digunakan, dan kemudian diakhiri dengan garis-garis besar isi skripsi. Kesemua penjelasan-penjalasan tentang hal ini telah diuriakan terdahulu dan ia merupakan kerangka awal atau konsep awal dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya.
Pada bab II, dijelaskan tentang paradigma Alquran tentang al-bahr, yang meliputi pengertian al-Bahr, ayat-ayat tentang al-bahru dan klasifikasi kandungan ayat-ayat tentang al-bahr.
Pada abad III, akan dijelaskan paradigma al-Bahr dalam konteks kronologis, sosio historis dan keserasian ayat-ayat Alquran. Yakni, ayat-ayat tentang al-bahr diurut dari aspek Makkiyah dan Madaniyahnya. Kemudian, dikemukakan kandungan (syarah) ayat-ayat tersebut yang meliputi sebab turunnya ayat dan munasabah-nya
Pada bab IV, ini akan dijelaskan tentang analisis ayat-ayat tentang al-bahr, yang berkisar pada persoalan berkah, kehidupan, pemisah atau pembatas wilayah dan diakhiri dengan tanda-tanda kebesaran Allah.
Pada bab V, akan diakhiri kepada kesimpulan sebagai jawaban atas persoalan yang dibahas. Di samping itu, dikemukakan pula saran atau implikasi penelitian sebagai rekomendasi yang lahir dari uaraian-uraian dalam skripsi ini.


BAB II
PARADIGNA ALQURAN TENTANG AL-BAHR

A. Pengertian al-Bahr
Dari segi etimologi kata al-Bahr terambil dari huruf al-ba’ al-ha’ dan al-ra’ sehingga terbaca al-Bahru (البحر) yang artinya; انبساط و وسع yakni; sesuatu yang luas dan dalam.[13] Sedangkan dalam Kamus al-Munawwir dinyatakan bahwa kata al-Bahr, merupakan jamak dari kata abhuru, buhuru, biharu yang berarti laut.[14] Selanjutnya, dalam Kamus Bahasa Indonesia dikatakan bahwa laut itu adalah kumpulan air asin (dalam jumlah yang banyak dan luas) yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau-pulau.[15]

14

Dari pengertian kata al-Bahr di atas, maka penulis mengistilahkan secara terminologi bahwa laut adalah suatu tempat yang amat luas dan dalam yang digenangi oleh air yang asin.
Di dalam laut, terdapat pula makhluk hidup yang disebut binatang laut, bahkan ditemukan pula banyak jenis tumbuh-tumbuhan di dalamnya.
Laut ini, terbentang begitu luas dan amat dalam sehingga ia memisahkan daratan dengan daratan lainnya. Karena demikian halnya, maka pada satu sisi ia membela suatu samudra, sehingga ada yang disebut dengan samudra Fasifik, samudera Atlantik dan Samudera India. Pada sisi lain, laut ini membatasi antara pulau dengan pulau, antara benua dengan benua, yang hanya dapat dilalui dengan alat perhubungan laut atau melintasinya dengan perhubungan udara.
Dengan demimikian, penulis dapat merumuskan bahwa kata laut di dalam Alquran diistilahkan dengan al-Bahr dan memiliki istilah lain, yakni al-Yammu. Kedua istilah tersebut, akan dikemukan dalam berbagai ayat Alquran pada sub bab berikutnya.
B. Ayat-Ayat tentang al-Bahr
1. Term al-Bahr
Dalam kamus Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim karya Abd. al-Baqy, ditemukan ayat-ayat
tentang al-Bahr terdapat dalam ; QS. al-Baqarah (2) 50, 164; QS. al-Maidah (5(: 96; QS. al-An’am (6): 59, 63, 97; QS. al-A’raf (7): 138, 163; QS. Yunus (10): 22, 90; QS. Ibrahim (14): 32; QS. al-Nahl (16): 14; QS. Bani Israil (17): 66, 67, 70; QS. al-Kahfi (18): 60, 61, 63, 63, 79, 109; QS. Thaha (20): 77; QS. al-Hajj (22): 65: QS. al-Nur (24): 40; QS. al-Furqan (25): 53; QS. al-Syura (26): 63; QS. al-Naml (27): 61, 63; QS. al-Rum (30): 41; QS. Luqman (31): 27, 31; QS. Fathir (35): 12; QS. al-Syura (42): 32; QS. al-Dukhan (44): 24; QS. al-Jatsiyah (45): 12; QS. al-Thur (52): 6 dan QS. al-Rahman (55): 19, 24.[16]
Berdasarkan data di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam Alquran, term al-Bahr muncul sebanyak 39 kali yang terungkap dalam 32 kali bentuk mufrad dan 6 kali dalam bentuk mutsanna. Dalam konteks mutsanna ada 2 lafaz yang digunakan dalam Alquran yakni lafaz bahrani dan bahruni, serta satu kali dalam bentuk jamak yakni kata abhar pada QS. Luqman (31): 31.
Adapun bunyi dari ayat-ayat tentang al-Bahr ter-sebut di atas adalah sebagai berikut :
1) QS. al-Baqarah (2): 50
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(50)

Terjemahnya:
Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.[17]
2) QS. al-Baqarah (2) 164
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.[18]
3) QS. al-Maidah (5): 96
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ(96)
Terjemahnya:
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.[19]
4) QS. al-An’am (6): 59
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ(59)

Terjemahnya:
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).[20]


5) QS. al-An’am (6): 63

قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ(63)
Terjemahnya:
Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur."[21]
6) QS. al-An’am (6): 97
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(97)
Terjemahnya:
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.[22]
7) QS. al-A’raf (7): 138
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ(138)

Terjemahnya:
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".[23]
8) QS. al-A’raf (7): 163
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ(163)
Terjemahnya:
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.[24]
9) QS. Yunus (10): 22
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ(22)

Terjemahnya:
Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo`a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta`atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika engkau menyelamat-kan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".[25]
10) QS. Yunus (10): 90
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ(90)

Terjemahnya:
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".[26]
11) QS. Ibrahim (14): 32
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ(32)

Terjemahnya:
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.[27]
12) QS. al-Nahl (16): 14
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ (14)

Terjemahnya:
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya.[28]
13) QS. Bani Israil (17): 66
رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا(66)
Terjemahnya:
Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-Kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.[29]
14. QS. Bani israil (17): 67
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا(67)

Terjemahnya:
Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.[30]
15. QS. Bani israil (17): 70
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا(70)

Terjemahnya:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[31]
16. QS. al-Kahfi (18): 60
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا(60)

Terjemahnya:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".[32]
17) QS. al-Kahfi (18): 61
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا(61)
Terjemahnya:
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.[33]
18) QS. al-Kahfi (18): 63
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا(63(

Terjemahnya:
Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."[34]
19) QS. al-Kahfi (18): 79
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا(79)

Terjemahnya:
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.[35]
20) QS. al-Kahfi (18): 109
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا(109)

Terjemahnya:
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).[36]
21) QS. Thaha (20): 77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى(77)

Terjemahnya:
Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".[37]
22) QS. al-Hajj (22): 65
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(65)
Terjemahnya:
Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.[38]
23) QS. al-Nur (24): 40
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ(40)

Terjemahnya:
Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.[39]
24) QS. al-Furqan (25): 53
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا(53)

Terjemahnya:
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang meng-halangi.[40]
25) QS. al-Syu’ara (26): 63
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ(63)

Terjemahnya:
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.[41]
26) QS. al-Naml (27): 61
أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ(61)

Terjemahnya:
Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.[42]
27) QS. al-Naml (27): 63
أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(63)

Terjemahnya:
Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).[43]
28) QS. al-Rum (30): 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(41)

Terjemahnya:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).[44]
29) QS. Luqman (31): 27
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(27)

Terjemahnya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[45]
30) QS. Luqman (31): 31
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ ءَايَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ(31)

Terjemahnya:
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni`mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.[46]


31) QS. Fathir (35): 12
وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(12)

Terjemahnya:
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.[47]
32) QS. al-Syura (42): 32
وَمِنْ ءَايَاتِهِ الْجَوَارِي فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ(32)

Terjemahnya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung.[48]
33) QS. al-Dukhan (44): 24
وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ(24)
Terjemahnya:
Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan.[49]
34) QS. al-Jatsiyah (45): 12
اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(12)
Terjemahnya:
Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan se-izinNya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.[50]
35) QS. al-Thûr (52): 6
وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ(6)
Terjemahnya:
Dan laut yang di dalam tanahnya ada api,[51]
36) QS. al-Rahman (55): 19
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ(19)
Terjemahnya:
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,[52]
37) QS. al-Rahman (55): 24
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ(24)
Terjemahnya:
Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.[53]
2. Term al-Yammu
selain term al-Bahr, dalam Alquran term lain yang bermakna laut adalah term al-yammu. Berangkat dari kamus karangan Muhammad Fuad Abd. al-Baqy yakni Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfaz al-Qur’an al-Karim,[54] penulis mendapatkan data bahwa kata al-yammu terulang dalam Alquran sebanyak tujuh kali. Kata-kata tersebut terdapat pada QS. al-A’raf (7): 136; QS. Thaha (20): 39, 78, 97; QS. al-Qashashs (28): 7, 40; dan QS. al-Dzariyat (50): 40.
Adapun bunyi ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut :
1) QS. al-A’raf (7): 136
فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ(136)
Terjemahnya:
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.[55]
2) QS. Thaha (20): 39
أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي(39)
Terjemahnya:
Yaitu: 'Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya'. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.[56]
3) QS. Thaha (20): 78
فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ(78)
Terjemahnya:
Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.[57]
4) QS. Thaha (20): 97
قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا(97)

Terjemahnya:
Berkata Musa: "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: "Janganlah menyentuh (aku)". Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembah-nya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).[58]
5) QS. al-Qashashs (28): 7
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ(7)
Terjemahnya:
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.[59]
6) QS. al-Qashashs (28): 40
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ(40)
Terjemahnya:
Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.[60]
7) QS. al-Dzariyat (50): 40
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ(40)
Terjemahnya:
Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela.[61]
C. Klasifikasi Kandungan Ayat-ayat tentang al-Bahru
Pada bagian ini, penulis akan mengklasifikasi ayat-ayat tentang al-Bahru berdasarkan kandungannya. Dari hasil pemikiran dan pemahaman penulis terhadap ayat-ayat tentang al-Bahr, maka penulis dapat meng-klasifikasikannya sebagai berikut :
1. Adanya Unsur Bahaya di Lautan
قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ(63)
Terjemahnya:
Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur."[62]
Selain ayat di atas, persoalan tersebut juga disebutkan dalam QS. Bani Israil (17): 67.
2. Manusia Diangkat di Darat dan di Laut
Pernyataan ini dikemukakan oleh Allah swt. dalam QS. Bani Israil (17): 17
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا(70)
Terjemahnya:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[63]
3. Adanya Unsur Perhiasan di Lautan
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(14)
Terjemahnya:
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.[64]
4. Adanya Kegelapan di Darat dan di Laut
Permasalahan ini ditegaskan dalam QS. al-An’am (6): 97 yang berbunyi :
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(97)
Terjemahnya:
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.[65]
Kemudian, kegelapan di laut diumpamakan sebagai orang yang tidak mendapat pancaran sinar (hidayah) dari Allah swt. Hal ini disebutkan dalam QS. al-Nur (24): 40 yang berbunyi :
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ(40)
Terjemahnya:
Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.[66]
5. Di Laut Dilemparkan atau Ditenggelamkan Fir’aun
dan Bala Tentaranya
Hal ini disebutkan dalam QS. al-A’raf (7): 136 yang berbunyi :
فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ(136)
Terjemahnya:
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.[67]
Selain pada ayat di atas, masalah ini juga di-tegaskan oleh Allah swt. dalam QS. Thaha (20): 78; QS. al-Qashahs (28): 40; QS. al-Dzariyat (51): 40 dan QS. al-Rahman (55): 19 serta al-Baqarah (2): 50.
6. Penyelamatan Bani Israil dari Kerajaan Fir’aun
dan Bala Tentaranya melalui Laut
Persoalan ini ditegaskan dalam QS. al-Baqarah (2): 50 yang berbunyi :
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(50)

Terjemahnya:
Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.[68]
Hal di atas disebutkan juga dalam QS. al-A’raf (7): 138: QS. Yunus (10): 90. Proses penyelamatan Nabi Musa dan pengikutnya dijelaskan dalam QS. al-Syu’ara (26): 63.
7. Laut Merupakan Sarana Pelayaran Kapal laut
Asumsi ini berangkat dari firman Allah swt. pada QS. al-Syura (42): 32; QS. Luqman (31): 31; QS. al-Hajj (22): 65; QS. al-Jatsiyah (45): 12; QS. al-Baqarah (2): 164.
Pada bagian ini, dapat dikelompokkan dalam tiga hal yakni :
a. Pelayaran kapal merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, sebagaimana dalam QS. al-Syura (42): 32 yang berbunyi :
وَمِنْ ءَايَاتِهِ الْجَوَارِي فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ(32)
Terjemahnya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung.[69]
b. Pelayaran kapal di laut atas nikmat Allah swt. Hal ini disebutkan dalam QS. Luqman (31): 31 yang berbunyi:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ ءَايَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ(31)
Terjemahnya:
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni`mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.[70]
c. Pelayaran di lautan merupakan sumber kurnia Allah dan bermanfaat bagi manusia. Asumsi ini berdasarkan pada QS. al-Jatsiyah (45): 12 yang berbunyi :
اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(12)
Terjemahnya:
Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari se-bagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu ber-syukur.[71]
Persoalan itu juga dikemukakan oleh Allah swt. dalam QS. al-Baqarah (2): 164; QS. al-A’raf (7): 138; QS. Yunus (10): 90.
8. Di Laut terdapat Hewan dan Makanan yang Halal bagi Manusia.
Pernyataan ini ditegaskan oleh Allah swt. dalam QS. al-Maidah (5): 96 yang berbunyi sebagai berikut :
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ(96)
Terjemahnya:
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.[72]
9. Di Laut Terdapat Ilmu Pengetahuan
Hal ini, dijelaskan oleh Allah swt. dalam QS> al-An’am (6): 59 yang berbunyi :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ(59)

Terjemahnya:
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).[73]
10. Laut Ditundukkan oleh Allah swt.;
Asumsi ini, berdasarkan firman Allah swt. QS. bani Israil (17): 66; QS. al-hajj (22): 65 dan QS. al-Jatsiyah (45): 12.
Dalam QS. al-Hajj (22): 65 Allah swt. berfirman :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(65)
Terjemahnya:
Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.[74]

11. Mengenai Laut, Diceritakan dalam Kisah Nabi Musa dengan Khidir.
Masalah ini, dikisahkan oleh Allah swt. dalam QS. al-Kahfi (18): 60-61 sebagai berikut :
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا(60)
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا(61)
Terjemahnya:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.[75]
Selain pada ayat di atas, kisah tentang Nabi Musa dan Khidir yang berkenaan dengan laut, juga disinggung dalam QS. al-Kahfi (18): 79 yang berbunyi :
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا(79)
Terjemahnya:
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.[76]
12. Laut akan Rusak Akibat Tangan Jahil Manusia
Hal ini digambarkan oleh Allah swt. dalam QS. al-Rum (30): 41 ;
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(41)
Terjemahnya:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).[77]
13. Adanya Pemisahan antara Dua Lautan
Asumsi ini berangkat dari firman Allah swt. yang terdapat dalam QS. al-Naml (27): 61 ;
أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ(61)
Terjemahnya:
Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.[78]
Pemisahan antara dua lautan lebih lanjut dijelaskan dalam QS. al-rahman (55): 19-20. Adapun obyek pemisah antara dua lautan dijelaskan dalam QS. al-Furqan (25): 53. Hal ini, juga dinyatakan dalam QS. Fathir (35): 12.
14. Laut Diumpamakan Menjadi Tinta Untuk menulis karena Kurnia Tuhan
Persoalan ini disebutkan dalam QS. al-Kahfi (18): 109, yakni :
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا(109)
Terjemahnya:
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).[79]
Di ayat yang lain pula Allah swt. menjelaskan se-hubungan dengan ayat di atas, yakni QS. Luqmân (31): 27 sebagai berikut :
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(27)

Terjemahnya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[80]
Demikianlah penjelasan tentang makna al-Bahru serta pengungkapan ayat-ayat yang berkenaan dengannya, disertai dengan topik kandungan masing-masing ayat. Analisis lebih lanjut mengenai ayat-ayat yang dimaksud akan diuraiakan pada bab selanjutnya.
وَمِنْ ءَايَاتِهِ الْجَوَارِي فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ(32)
Terjemahnya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung.[81]


[1]Lihat Abd. Al-Hayy al-Farmâwiy, Al-Bidâyah Fiy Tafsîr al-Mawdhû’iy, diterjemahkan oleh Suryan A. Jamrah dengan judul, Metode Tafsir Mawdhu’iy; Suatu Pengantar (Cet. II; Jakarta: Rajawali Pers, 1006), h. 11.
[2]Depatemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Mahkota, 1989), h. 460
[3]Ibid., h. 656.
[4]Lihat Mahmud Ayyûb, Qur’an dan Para Penafsirnya (Cet.I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1979), h. 14.
[5]Lihat Fahruddin HS., Ensiklopedi Al-Qur’an (Cet.I; Jakarta: t.p.: 1992), h. v (kata pengantar)
[6]Ibid., h. 633.
[7]Lihat Muhammad Fu’ad Abd. Al-Baqy, Al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfaz al-Qur’an al-Karim (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th), h. 114.
[8]Lihat Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia (Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1992), h. 60.
[9]Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 503.
[10]Lihat Ahmad Mustafa Hadna, SQ., Problematika menafsirkan al-Qur’an (Cet.I; Semarang: Dina Utama, 1993), h. 12.
[11]Lihat Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial (Cet.I; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 42.
[12]Tafsir tematik, dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Tafsîr bi al-Mawdhu’iy. Yakni; menghimpun ayat-ayat Alquran yang mempunyai maksud yang sama dalam arti sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasar kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Kemudian, penafsir memberi keterangan, penjelasan dan melakukan analisis terhadap ayat-ayat tersebut berdasar ilmu yang benar. Uraian lebih lanjut lihat Abd. al-Hayy al-Farmâwiy, Al-Bidâyah Fiy al-Tafsîr al-Mawdhu’iy, diterjemahkan oleh Suryan A. Jamrah dengan judul Metode Tafsîr Mawdhu’iy; Suatu Pengantar (Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1994), h.36-37
[13]Lihat Abû Husain Ahmad bin Fâris bin Zakariyah, Mu’jam al-Maqâyis al-Lughah (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), h. 201.
[14]Lihat Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia (Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1992), h. 60.
[15]Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 503.
[16]Lihat Muhammad Fu’ad Abd. Al-Baqy, Al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfaz al-Qur’an al-Karim (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th), h. 114. Untuk memperkuat data yang diperoleh, penulis juga menggunakan jasa buku, Azharuddin Sahil, Indeks al-Qur’an; Panduan Melalui Ayat Alquran Berdasarkan Kata Dasarnya (Bandung: Mizan, 1981), h. 215. Demikian pula Ali Audah, Konkordansi Qur’an; Panduan Kata dalam mencari Ayat Al-Quran (Cet.I; Jakarta: Pustaka Litera Antar-Nusa), h. 158.
[17]Depatemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Mahkota, 1989), h. 8.
[18]Ibid., 23.
[19]Ibid., h. 122-123
[20]Ibid., h. 123.
[21]Ibid., h. 127.
[22]Ibid., h. 151.
[23] Ibid., h. 191.
[24]Ibid., h. 198.
[25]Ibid., h. 234.
[26]Ibid., h. 242
[27]Ibid., h. 261
[28]Ibid.
[29]Ibid.
[30]Ibid.
[31]Ibid.
[32]Ibid., h. 272.
[33]Ibid.
[34]Ibid.
[35]Ibid., h. 273.
[36]Ibid., h. 275.
[37]Ibid., h. 287.
[38]Ibid., h. 307.
[39]Ibid., h. 321.
[40]Ibid., h. 329.
[41]Ibid., h. 335.
[42]Ibid., h. 347.
[43]Ibid.
[44]Ibid., h. 368-369.
[45]Ibid., h. 373.
[46]Ibid.
[47]Ibid., h. 393.
[48]Ibid., h. 439.
[49]Ibid., h. 448.
[50]Ibid., h. 450.
[51]Ibid., h. 472.
[52]Ibid., h. 479.
[53]Ibid.
[54]Lihat Muhammad Fu’ad Abd. al-Baqy, op. cit., h. 774.
[55]Departemen Agama., op. cit., h. 151.
[56]Ibid., h. 283.
[57]Ibid., h. 286
[58]Ibid., h. 287-288.
[59]Ibid., h. 350.
[60]Ibid., h. 354.
[61]Ibid., h. 471.
[62]Ibid., h. 127.
[63]Ibid., h. 433.
[64]Ibid., h. 399.
[65]Ibid., h. 151.
[66]Ibid., h. 557.
[67]Ibid., h. 151.
[68]Ibid., h. 8.
[69]Ibid., h. 439.
[70]Ibid., h. 785.
[71]Ibid., h. 450.
[72]Ibid., h. 175.
[73]Ibid., h. 123.
[74]Ibid., h. 307.
[75]Ibid. h. 175.
[76]Ibid., h. 273.
[77]Ibid., h. 648.
[78]Ibid., h. 602.
[79]Ibid., h. 459.
[80]Ibid., h. 656.
[81]Ibid., h. 439.
BAB III
PARADIGMA AL-BAHRU DALAM KONTEKS KRONOLOGIS,
SOSIOLOGIS, HISTORIS DAN KESERASIAN AYAT-AYAT AlQURAN


A. Ayat-ayat Alquran tentang al-Bahru dalam Perspektif Makkiyyah dan Madaniyyah
Dalam kajian ‘Ulum al-Qur’an, ayat-ayat Alquran dibagi dalam dua bagian yakni ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat Makkiyyah turun selama 12 tahun 5 bulan dan 13 hari. Tepatnya mulai 17 Ramadhan tahun 41 hingga awal Rabi’ul Awal tahun 54 dari kelahiran Nabi Muhammad saw. komposisi ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah berkisar 19/30 dan yang diturunkan di Madinah berkisar 11/30.[1]
Pengetahuan tentang surah-surah atau ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah sangat signifikan. Oleh karena itu, para ulama menganggap penting terhadap keduanya.[2]

Untuk mengidentifikasi secara pasti ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyyah agak sulit. Hal ini disebabkan karena urutan tertib ayat (tertib al-ayah) tidak mengikuti kronologis waktu turunnya ayat, tetapi berdasarkan petunjuk Nabi (tawqifiy), dan yang dapat diidentifikasi ialah surah-surat Makkiyyah dan surah-surah Madaniyyah.[3]
Surah-surah Makkiyyah tidak berarti seluruh ayat yang ada dalam surah tersebut diturunkan di Mekkah sebelum Hijrah, dan surah-surah Madaniyyah tidak berarti seluruh ayat di dalamnya diturunkan di Madinah, akan tetapi penamaan itu berdasarkan karena surah-surah tersebut mayoritas ayat-ayat Makiyyah atau Madaniyyah.[4]
Ayat-ayat dan surah-surah yang turun di Mekkah (Makiyyah) dan yang turun di Madinah (Madaniyyah) terdapat konteks yang berbeda.[5] Perbedaan dan ciri-ciri khusus dari kedua kelompok ayat tersebut adalah sebagai berikut:[6]
1. Ayat dan surah Makiyyah umumnya pendek, sedangkan ayat dan surah Madaniyyah umumnya panjang.
2. Ayat dan surah Makiyyah pada umumnya di mulai dengan ياأيها الماس (wahai sekalian manusia), sedangkan ayat dan surah Madaniyyah di mulai ياأيها الذين آمنوا(wahai orang-oprang yang beriman).
3. Umumnya ayat dan surah Makiyyah berbicara tentang masalah ketauhidan, sedangkan ayat dan surah Madaniyyah pada umumnya berbicara tentang masalah ke-masyarakatan.
4. Setiap surah yang di dalamnya mengandung ayat-ayat sajadah adalah Makiyyah.
5. Setiap surah yang mengandung lafal kalla adalah Makiyyah.
6. Surah-surah yang mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu, kecuali surah al-Baqarah adalah Makiyyah.
7. Setiap surah yang di mulai dengan huruf-huruf Muqaththa’ah kecuali surah al-Baqarah dan surah Ali Imran adalah Makiyyah. Sedangkan surah al-Rad masih diperselisihkan para ulama.
Untuk mengendentifikasi ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah dalam Alquran, para ulama meng-indentifikasi melalui dua cara, yaitu riwayat dan analogi hasil ijtihad (qiyas ijtihadi). Metode pertama diperoleh melalui informasi dari sahabat yang mengatakan turunnya ayat-ayat itu, atau riwauyat dari tabi’in yang mndengar langsung dari sahabat mengenai turunnya ayat-ayat Alquran. Metode kedua, yaitu memperhatikan ciri-ciri ayat Makiyyah atau Madaniyyah pada suatu ayat, sebagaimana terlihat pada perbedaan surah Makiyyah dan Madaniyyah di atas.[7]
Untuk menentukan ayat-ayat Alquran tentang al-Bahr yang termasuk dalam kategori Makiyyah dan Madaniyyah, penulis berangkat dari kategorisasi yang dibuat oleh M. Hasby Ashshiddieqy,[8] dalam bukunya Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran / Tafsir, tentang surah-surah Makiyyah dan surah-surah Madaniyyah ber-dasarkan kronologi turunnya.[9]
Berdasarkan kategorisasi tersebut, maka ayat-ayat Alquran tentang al-Bahr yang termasuk dalam kategori Makiyyah menurut urutan mushaf Utsmani adalah QS. al-An’am (6): 59, 63, 97; QS. al-A’raf (7): 138, 163; QS. Yunus (10): 22, 90; QS. Ibrahim (14):32; QS. al-Nahl (16):14; QS. Bani Israil (17): 66,67,70, QS. al-Kahfi (18):60-61, 63,79.109; QS. Thaha (20): 77; QS. al-Furqan (25):53; QS. al-Syuura (26):63; QS. al-Naml (@7):61,63; QS. al-Rum (30):41; QS. Luqman (31):27,31; QS. Fathir (35):12; QS.al-Syuura (42):32; QS. al-Dukhan (44):24; QS. al-Jatsiyah (45):12; QS.al-Thur (52):6; dan QS,al-Rahman (55):19,24.
Jika disusun berdasarkan kronologi turunnya, maka urutannya adalah QS. al-Furqan (42);53; QS. Fathir (43):12; QS.Thaha (45): 77; QS. al-Syuara (47):63, QS. al-Naml (48):61,63; QS. Bani Israil (50): 66,67,70; QS. Yunus (51): 22 dan 90; QS. al-An’am (55):59, 63, 97; QS. Luqman (57): 27,31; QS. al-Syura (62):32; QS. al-Dukhan (64):24; QS. al-Jatsiyah (65):12; QS. al-Kahfi (69):60-61,63,79,109; QS.an-Nahl (70):14; QS. Ibrahim (72):32; QS. al-Thur (76):6; dan QS. al-Rahman (89): 19, 24.
Hasbi Ash Shiddieqy tidak memasukkan QS. al-Rahman sebagai golongan Makiyyah. Tetapi hal ini be-rangkat dari pendapat al-Khudari bahwa surah al-Rahman dimasukkan ke dalam kelompok Makiyyah. [10]
Adapun ayat-ayat Alquran tentang al-Bahr yang masuk dalam kualifikasi Madaniyyah berdasarkan mushaf Utsmani adalah QS. al-Baqarah (2):50,164; QS. Al-Maidah (5):96; QS, al-Hajj (22): 65; dan QS. al-Nur (24):40.
Namun jika disusun berdasarkan kronologi turunnya maka urutannya adalah QS. al-Baqarah (1); 50,164; QS. al-Nur (11): 40; QS. al-Hajj (12):65; dan QS. al-Maidah (21): 96.
Berdasarkan data di atas, maka ayat-ayat Alquran tentang al-Bahr yang termasuk dalam kelomnpok Makiyyah ada 33 (tiga puluh tiga) ayat yang terdapat dalam 19 (sembilan belas) surat dalam Alquran. Sedangkan ayat-ayat Alquran tentang al-Bahr yang termasuk dalam kelompok Madaniyyah ada 5 (lima) ayat yang terdapat dalam 4 (empat) surat dalam Alquran.
Asumsi ini memberikan sebuah makna bahwa kebanyakan ayat-ayat Alquran tentang al-Bahru turun di Mekkah yakni 33 (tiga puluh tiga) ayat dan sebagiannya turun di Madinah yakni 5 (lima) ayat.
B. Ayat-Ayat Alquran Tentang al-Bahr dalam Perspektif Asbab al- Nuzul.
Ayat-ayat dalam Alquran dapat dikelompokkan pada dua bagian dilihat dari asbab al-nuzul[11] (sebab di-turunkannya). Sekelompok ayat diturunkan tanpa dihubungkan dengan suatu sebab-sebab secara khusus, sekelompok ayat-ayat lainnya diturunkan atau di-hubungkan dengan sesuatu sebab khusus. Kelompok yang terakhir ini tidak banyak jumlahnya, tetapi mempunyai pembahasan khusus dalam ‘Ulum al-Qur’an.[12]
Kata asbab (tunggal: sebab) berarti alasan atau sebab. Asbab al-Nuzul berarti pengetahuan tentang sebab-sebab diturunkannya suatu ayat.[13]
Berbagai batasan yang dikemukakan oleh para ulama tentang pengertian asbab al-nuzul. Tetapi, yang utama diketahui dalam hal asbab al-nuzul adalah adanya suatu kasus yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat dan ayat-ayat itu dimaksudkan sebagai penjelasan tentang kasus tersebut.[14] Oleh karena itu, ada beberapa bagian yang tidak boleh diabaikan dalam analisa asbab al-nuzul. Yaitu, adanya suatu kasus atau peristiwa, adanya pelaku peristiwa, adanya tempat peristiwa dan adanya waktu peristiwa.
Dengan demikian, asbab al-nuzul memiliki makna penting dalam menafsirkan Alquran. Dalam arti, se-seorang tidak akan mencapai pengertian yang baik, jika tidak memahami riwayat asbab al-nuzul tersebut.
Dari keterangan-keterangan di atas, jelaslah bahwa pengutipan asbab al-nuzul ayat-ayat tentang al-bahru sangat signifikan guna menghasilkan interpretasi secara utuh yang benar.
Untuk menentukan ayat-ayat Alquran tentang al-Bahru yang memiliki asbab al-nuzul, maka penulis meng-gunakan jasa kitab yang ditulis oleh Abi Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naysaburiy, yakni kitab yang ber-judul Asbab al-Nuzul.
Berdasarkan hasil uraian dari kitab yang di-sebutkan di atas, maka ayat-ayat Alquran tentang al-Bahru yang memiliki Asbab al-Nuzul hanya dua. Yakni QS. al-Baqarah (2): 164 dan QS, al-Kahfi (18): 109. Pen-jelasannya adalah sebagai berikut :
1. Asbab al-Nuzul QS. al-Baqarah (2): 164
Ayat ini, turun berkaitan dengan diturunkannya beberapa ayat yang mendahuluinya. Yakni, ayat 163 di yang berkenaan dengan keta’ajjuban orang-orang musyrik yang bertanya; Apakah benar Tuhan itu Esa. Jika hal itu
benar, maka berikanlah kepada kami bukti yang kongkrit. Dari pertanyaan ini, maka turunlah ayat 164 dari QS. al-Baqarah (2) yang menerangkan tentang bukti-bukti ke-Esaan Allah swt.[15] Yakni, adanya pergantian siang dan malam dan adanya transfortasi air yang berguna bagi manusia, serta adanya hujan yang turun dari langit sehingga menghidupkan berbagai tanam-tanaman di bumi ini. Inilah antara lain (sebagian kecil) tanda-tanda ke-Kuasaan sekaligus ke-Esaan Allah swt.
2. Asbab al-Nuzul QS. al-Kahfi (18): 109.
Menurut Ibn ‘Abbas, Ayat ini diturunkan berkaitan dengan pernyataan (sabda) Nabi saw ; وما اتيم العلم الا قليلا yang disampaikan kepada orang-orang Yahudi. Mendengar per-nyataan ini mereka bertanya: Bagaimana kami diberikan ilmu sedikit, padahal kami telah diberikan kitab Taurat. Dari kasus ini, turunlah ayat 109 dari QS. al-Kahfi (18).[16] Yakni, قل لو كان البحر مدادا … .
C. Ayat-ayat Alquran tentang al-Bahru dalam Perspektif Munasabah
Munasabah[17] atau persesuaian terkait erat dengan persoalan i’jaz (kemukjizatan) Alquran yang merupakan sebuah kajian akan mekanisme teks yang bersifat khusus yang membedakannya dari teks-teks yang lain. Perbedaan antara ilmu munasabah dengan ilmu asbab al-nuzul adalah perbedaan antara kajian tentang kaitan-kaitan teks dalam bentuknya yang final dengan kajian terhadap bagian-bagian teks dari perspektif kaitan-kaitannya dengan kondisi eksternal, atau konteks eksternal dari pembentukan teks. Dalam ungkapan lain, perbedaan itu merupakan perbedaan antara kajian tentang keindahan teks dengan kajian tentang realitas eksternal.
Asumsi ini memberikan gambaran tentang bagaimana kegigihan ulama kaum kuno dalam memegang pendapat bahwa ilmu asbab al-nuzul adalah ilmu “historis”, sementara ilmu munasabah adalah ilmu “statistika” dengan makna bahwa ilmu ini memberikan perhatiannya pada bentuk keterkaitan antara ayat dan surat.
Dalam ‘Ulum al-Qur’an, ditemukan pola munasabah atas delapan jenis, yakni; (1) hubungan antara satu surah dengan surah sebelumnya; (2) hubungan antara nama surah dengan isi atau tujuan surah; (3) hubungan antara antara fawatih al-suwar dengan isi surah; (4) hubungan antara ayat pertama dengan ayat terkahir dalam satu surah; (5) hubungan antara satu ayat dengan ayat lain dalam satu surah; (6) hubungan antara antara kalimat dengan kalimat lain dalam satu ayat; (7) hubungan antara fashilah dengan isi ayat; dan (8) hubungan antara penutup surah dengan awal surah berikutnya.[18]
Dari klasifikasi munasabah di atas, dirumuskanlah bahwa semua ayat-ayat Alquran saling ber-munasabah atau saling berkorelasi antara satu dengan lainnya. Termasuk di dalamnya munasabah ayat dengan ayat lain dalam surah yang berlainan.
Jika ayat-ayat tentang al-bahr dipahami pe-maknaannya dengan baik, tentunya ia saling berkorelasi antara satu dengan lainnya.
Pada ayat 50 dari Qs. al-Baqarah memiliki munasabah dengan ayat 136 dari QS. al-A’raf; ayat 78 dari QS. Thaha; ayat 40 dari al-Qashash; ayat 40 dari QS. al-Dzariyat dan ayat 19 dari QS. al-Rahman. Serlain itu, ayat-ayat tersebut masih memiliki keterkaitan dengan ayat 138 dari QS. al-A’raf; ayat 90 dari QS. Yunus, serta ayat 63 dari QS. al-Syu’ara. Ayat-ayat yang dimaksud munasabah-nya terletak terletak pada kesamaan kandungan, yakni sama-sama menginformasikan tentang kisah Nabi Musa dan pengikutnya berhadapan dengan Fir’aun.
Pada ayat 63 dari QS. al-An’am berhubungan dengan ayat 97 dari surah yang sama, serta ayat 67 dari QS. Bani Israil. Ayat-ayat yang dimaksud memiliki munasabah dari aspek tentang informasi bahwa di laut ada usnur malapetaka.
Selanjutnya, ayat 70 dari QS. Bani Israil memiliki keterkaitan dengan ayat 14 dari QS. al-Nahl; ayat 22 dari QS. al-rahman; ayat 32 dari QS. al-Syura; ayat 31 dari QS. Lukman, ayat 65 dari QS. al-Haj; ayat 12 dari QS. al-Jatsiyah dan ayat 164 dari QS. al-Baqarah. Ayat-ayat yang dimaksud ber-munasabah tentang informasi bahwa manusia sebagai pengguna laut, termasuk dalam masalah tranfortasi laut, makanan-makanan dari laut dan yang lainnya, sehigga mereka harus meng-hindarkan diri untuk berbuat kerusakan di dalammnya.
Ayat 60 dari QS. al-Kahfi mempunyai hubungan dengan ayat 61 dan 79 dari surah yang sama. Ayat-ayat yang dimaksud ber-munasabah dalam arti sama-sama menginformasikan kisah Nabi Musa as dan kisah Nabi Khaidir as.
Ayat 61 dari QS. al-Naml, memiliki ke-terkaitan dengan ayat 19-20 dengan QS, al-Rahman dan ayat 53 dari QS. al-Furqan. Ayat-ayat yang dimaksud ber-munasabah dalam arti sama-sama membicarakan tentang adanya eksistensi laut dan daratan.
Ayat 109 dari QS. al-Kahfi, memiliki hubungan dengan ayat 37 dari QS. Luqman. Kedua ayat ini ber-munasabah dalam arti sama-sama memberikan informasi bahwa laut yang begitu luas, tidak dapat dijadikan airnya untuk menghitung dan menulis ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah.
Dengan demikian, penulis perlu kemukakan bahwa ayat-ayat Alquran yang terkait dengan al-Bahr memiliki paradigma yang asasi dan koheren berdasarkan disiplin ‘Ulum al-Qur’an. Khususnya, dalam aspek Makkiyyah dan Madaniyyah, asbab al-nuzul al-ayah dan munasabah al-ayah.

BAB IV
ANALISIS AYAT-AYAT TENTANG AL-BAHRU

A. Al-Bahru dan Relevansinya dengan Manfaat dan Berkah dari Kisah
Nabi Musa dan Fir’aun
Dalam berbagai ayat yang berkenaan dengan pe-makaian term al-bahru, ternyata seringkali peng-ungkapannya bersamaan dengan pengungkapan kisah Musa dan Fira’un. Ayat-ayat yang demikian, ditemui dalam delapan ayat, yakni; QS. al-Baqarah (2): 50; QS. Thaha (20); 77; QS. al-A’raf (7): 138; QS. Yunus (10): 90; QS. al-Syura (26): 63; QS. al-Qashash (28): 40; QS. al-Dzariyat (51): 40 dan QS. al-Dukhan (44): 24.
Ayat-ayat yang disebutkan di atas, mengkisahkan tentang proses penyelamatan Nabi Musa dari Kekejaman Raja Fir’aun yang berlokasi di Laut Merah. Analisis tentang ayat-ayat tersebut dapat dicermati dalam sub-sub uraian berikut :

61

1. Ketika Nabi Musa as berdoa agar Fir’aun diberi balasan yang setimpal atas keserakahan dan kesombongan-nya, bermuara pada kehancuran Fir’aun dan pengikutnya, di mana mereka mereka ditenggelamkan oleh Allah swt. di laut. Dalil atas doa Nabi Musa as. ketika itu adalah sebagaimana yang terungkap dalam QS. al-Dukhan (44): 22, yakni : فدعا ربه أن هؤلاء قوم مجرمون .
2. Mendengar doa Nabi Musa as. tersebut, Allah swt. menyuru Nabi Musa untuk berangkat bersama pengikutnya pada malam hari, karena Fir’aun dan bala tentaranya akan mengejar mereka. Hal ini dilukiskan pada ayat selanjutnya dari QS. al-Dukhan (44) 23, yakni : فارس بعبادي ليلا انكم متبعون … . Hal ini, dijelaskan juga dalam QS. al-Syura (26): 52.
3. Fir’aun dan tentaranya mengejar mereka di waktu matahari terbit (QS. al-Syura (26): 60 dan menyuruh mereka mengambil jalan pintas lewat lautan (QS. Thaha (20): 77. Ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa dengan cemas: “kita benar-benar dapat dikejar mereka (QS. al-Syura (26): 61)”. Musa menjawab”: “sekali-kali kamu tidak akan terkejar, Sungguh Tuhan bersamaku. Dia akan menunjukkan jalan kepadaku (QS. al-Syura (26): 62.
4. Kemudian, Allah swt. mewahyukan kepada Musa as. agar memukulkan tongkatnya ke laut. Dengan demikian, menjadilah laut itu daratan untuk dijalani Musa as dan pengikutnya (QS. al-Syura (26): 63 dan QS. al-Baqarah (2): 50).
5. Allah swt. menyeberangkan Musa as. dan para pengikutnya dari Laut Merah tersebut, sampai mereka di Kan’an (QS. al-A’raf (7): 138 dan QS. Yunus (10): 90). Ketika mereka sampai ke tujuan, Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka.
6. Akan tetapi, ketika Fir’aun dan pengikutnya ditengah perjalanan, tiba-tiba jalanan yang dilalui-nya berubah ke bentuk semula, yakni laut yang membentang dan mengakibatkan mereka terperosok dan tenggelam di dalamnya.
Analisis lebih lanjut tentang kronologis kisah di atas, bermula dari QS. Thaha (20); 77, yakni ;
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى(77)
Terjemahnya:
Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".[19]
Dalam beberapa kita tafsir memberikan penjelasan bahwa ayat di atas akan menyebabkan Fir’aun hancur karena kesombongannya.[20] Adapun sebab kehancuran (teng-gelamnya) Fir’aun dan pengikutnya, bermula dengan adanya instruksi Allah swt. kepada Musa as untuk memukulkan tongkatnya di laut, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Syu’ara (26): 63 sebagai berikut :
فأوحينا الي موسي ان اضرب بعصاك الحجر فافلق كان كل فرق كا الطود العظيم
Terjemahnya:
Lalu Kami wahyukan kepada Musa, Pukullah lautan itu dengan tongkatmu, maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.[21]
Hamka menyatakan bahwa dengan datangnya wahyu Allah swt. menyuruh kepada Musa as. untuk membawa kaumnya pada waktu yang telah ditentukan, mereka bersegera meninggalkan tempat itu melalui lautan Qulzum, ke Pantai sevelah Utara yaitu bumi Jazirah Arab.[22] Adapun kalimat فاضرب لهم طريقا في البحر … bermakna bahwa wahyu ini hanya disampaikan kepada Musa as. saja, untuk menyakinkan bagaimana menyelesaikan penyebrangan beratus ribu manusia itu di lautan Qulzum, padahal tidak ada kapal dan alat-alat transportasi lainnya.[23]
Informasi tentang tenggelammnya Fir’aun dan para pengikutnya sebagai mana dalam QS. al-Baqarah (2): 50 :
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(50)
Terjemahnya:
Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.[24]
Fadhlullah Hani menyatakan bahwa bukti utama tenggelamnya Fir’aun adalah masih disaksikannya tubuh Fir’aun yang di-mummi-kan (saat ini) sebagai fakta sejarah masa silam. Lebih lanjut dikatakan bahwa kasus ini mengindikasikan adanya hubungan causalitas antara manusia dengan alam, di mana orang-orang beriman terlindung dari bencana sementara yang kafir tertimpa bencana.[25]
Dari uraian-uraian analisis di atas, lebih lanjut dapat dinyatakan bahwa laut bagi Nabi Musa as dan pengikutnya merupakan penyebab utama keselamatanya dan bagi Fir’aun merupakan penyebab utama kebinasaannya.
Dengan demikian, haruslah diyakini bahwa laut sangat bermanfaat bagi manusia yang bukan hanya manfaat dan berkah yang kita dirasakan saat ini, akan tetapi jauh sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa habitat laut itu dipelihara dengan sebaik-sebaikya. Dalam arti, sedapat mungkin bagi setiap manusia untuk menghindarkan tangannya (dirinya) untuk berbuat kerusakan di laut.
B. Fungsi Laut sebagai Sumber Kehidupan Manusia
Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah swt.[26] Implikasi dari kemuliaan itu adalah diangkatnya manusia di darat dan di lautan.[27] Selain sebagai khalifah di muka bumi,[28] pengangkatan manusia itu diberikan hak untuk menikamati fasilitas yang ada di dunia, termasuk sarana-sarana yang ada (terkait) dengan laut. Dalam QS. Yunus (10): 90 Allah swt. berfirman :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ(90)

Terjemahnya:
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".[29]
Ayat di atas, jelas memberikan gambaran bahwa Allah menunddukkan segala yang ada di bumi termasuk lautan, demi kepentingan manusia. Di laut terdapat berbagai kekayaan alam, misalnya makanan dan kebutuhan lainnya hanyalah diperuntukkan bagi manusia. Bukan hanya itu, tetapi termasuk pula kapal-kapal yang melintasinya, adalah sebagai sarana utama bagi manusia dalam beraktifitas. Dalam QS. al-Syu’ara (42): 32 Allah berfirman :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ ءَايَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ(31)
Terjemahnya:
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni`mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.[30]
Al-Maragiy menyatakan bahwa keberadaan laut bagi manusia di samping karena sebagai tanda-tanda kebesaran yang diperlihatkan Allah swt. juga dengan izin-Nya kapal-kapal yang berlayar di lauti itu sebagai alat pengangkut barang-barang, makanan dan dagangan agar segala urusan yang penghiupan manusia dapat terlaksana. Hal yang demikian itu pula sebagai dorongan bagi manusia untuk mencari rezki.[31] Dari keterngan ini, sehingga dapat dipahami bahwa sumber rezki itu, bukan hanya di darat yang dapat diperoleh melalui berburu, bercocok tanam, berbisnis dan lain-lain tetapi rezki yang dimaksud dapat pula diperoleh di laut dengan berbagai cara, asalkan saja cara yang dimaksud adalah halal.
C. Fungsi Laut sebagai Pemisah atau Pembatas Wilayah
Laut yang terbentang begitu luas dan amat dalam, lazimnya dijadikan ukuran dalam menentukan batas-batas wilayah, misalnya batas negara atau benua. Pada sisi lain laut yang terdiri atas beberapa laut kecil yang disitilahkan dengan pulau atau pantai, lazimnya dijadikan pula pembatas wilayah-wilayah kecil. Misalnya batas kecamatan atau batas kabupeten. Demikian halnya, karena ia memisahkan daratan satu dengan daratan lain-nya. Dalam QS. al-Furqan (25): 53 Allah swt, berfirman:
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا(53)
Terjemahnya:
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang meng-halangi.[32]
Berkenaan dengan ayat di atas, dalam Tafsir al-Maragiy diperoleh penjelasan bahwa di antara tanda-tanda nikmat Allah swt. yang diberikan kepada manusia. Di antaranya adalah dipisahkannya antara dua laut yang berdekatan dan menjadikan keduanya tidak bercampur. Di kedua laut tersebut sama asin airnya dan tidak mengubah zatnya menjadi tawar. Dari kedua yang disebutkan ini laut sekan-akan ada tabir yang menjadikannya tidak melampau satu dengan yang lain.[33]
Pada ayat lain, misalnya dalam QS. al-rahman (55): 19-20 Allah berfirman :
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ(19)بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ(20)
Terjemahnya:
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.[34]
Ayat yang terkahir disebutkan di atas, semakna dengan ayat yang dikemukakan terdahulu. Yakni, sama-sama membicarakan tentang posisi laut yang membentang dan memisahkan satu tempat dengan tempat yang lain.
Di samping pemaknaan kedua ayat di atas adalah sebagai pembatas wilayah, dapat pula dimaknai dengan pembatasan zat air. Yakni, air asin dan air tawar. Dalam hal ini, Bahtiar Surin mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “pembatasan” antara dua lautan ialah lautan yang berair asin, danau, telaga dan sungai-sungai yang berair tawar. Sekalipun keduanya sama-sama berada di bumi namun berbeda fungsi. Air tawar untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap air, demikian pula binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Sedangkan air laut untuk pembersih udara penyebab hujan.
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa laut itu memisahkan daratan dengan daratan lainnya. Karena demikian halnya, maka pada satu sisi ia membela suatu samudra, sehingga ada yang disebut dengan samudra Fasifik, samudera Atlantik dan Samudera India. Pada sisi lain, laut ini membatasi antara pulau dengan pulau, antara benua dengan benua, yang hanya dapat dilalui dengan alat perhubungan laut atau melintasinya dengan perhubungan udara. Pada sisi lain pula laut membatasi zat air itu sendiri, dalam hal rasanya yakni asin dan tawar, dimana diketahui bahwa air laut iru asin sedangkan air sungai, danau dan lain-lain adalah tawar.
D. Fungsi Laut sebagai Tinta untuk Menulis Tanda-tanda Kebesaran Allah
Dari uraian-uraian terdahulu telah dijelaskan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah swt. sangat banyak dan bervariatif. Manusia tidak mampu menghitungnya bahkan dalam Alquran dinyatakan bahwa manusia tidak mampu menulisnya walau mereka menggunakan air laut sebagai tintanya. Dalam QS. al-Kahfi (18): 109 Allah swt. berfirman :
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا(109)
Terjemahnya:
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).[35]
Di ayat yang lain pula, Allah swt. menjelaskan sehubungan dengan ayat di atas, yakni QS. Luqmân (31): 27 sebagai berikut :
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(27)
Terjemahnya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[36]
Kedua ayat yang dikemukakan ini, adalah suatu motifasi terhadap segenap manusia untuk mengakui bahwa kebesaran Allah swt. tidak ada yang menandinginya.
Berbagai mufassir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat di atas adalah menginformasikan kepada mereka yang bergelut di bidang ilmu pengetahuan kiranya dapat menahan dirinya dari kesombongan. Betapun ia (mungkin) diakui sebagai orang yang banyak ilmu, tetapi sebenarnya ia adalah orang memiliki sedikit ilmu. Dalam hal ini, al-Maragi memberikan komentar bahwa biarpun sampai habis air laut dijadikan tinta untuk menulis tanda-tanda kebesaran Allah swt. tidak akan terwujud penulisan itu sampai selesai. Itu disebabkan karena ilmu Allah swt. sangatlah banyak luas sedangkan ilmu manusia sangat sangatlah sedikit dan sempit.[37]
Dengan memahami maksud kedua ayat di atas, akan menjadikan manusia menemukan jati dirinya bahwa ia sangat terbatas dalam segala hal.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian terdahulu, maka di-rumuskan kesimpulan bahwa :
1. Dari berbagai ayat-ayat Alquran, ditemukan suatu konsep bahwa Al-Bahru adalah genangan air yang terbentang luas dan amat dalam yang memisahkan daratan dengan daratan lainnya. Term al-bahru tersebut merupakan suatu istilah yang serupa dengan term al-Yammu, di mana keduanya berarti “laut”. Dalam Alquran, term al-Bahru beserta derivasinya terulang sebanyak 32 kali, sedangkan term al-yammu beserta derivasinya terulang sebanyak 7 kali.
2. Hasil interprtesi yang dicapai dalam berbagai ayat yang menggunakan term al-Bahr atau al-Yammu, me-nunjukkan bahwa dari aspek asbab al-nuzul dalam beberapa ayat, ternyata pengungkapan kata “laut” di dalam Alquran berfungsi untuk meyakinkan setiap orang (muslim atau kafir) tentang tanda-tanda kebesaran Allah sangat luas. Pada sisi lain, jika tinjau dari aspek munasabah ayat ternyata pengungkapan kata “laut” di dalam Alquran berfungsi untuk meyakinkan setiap orang (muslim atau kafir) bahwa mereka sangat lemah.
3. Hasil analisis ayat yang dicapai berkenaan dengan pemakaian kata “laut” di dalam Alquran, jika dihubungkan dengan sejarah Nabi Musa as. dan Fir’aun, ternyata laut lah sebagai penyebab utama keselamatan orang-orang beriman. Sementara itu, laut pula sebagai penyebab utama kebinasaan orang-orang kafir. Terkait dengan itu, jika ditinjau dari segi manfaatnya, maka laut sebagai salah satu sumber utama kehidupan manusia, di mana di dalamnya terdapat makanan-makanan yang nikmat dan lezat, misalnya ikan dan berbagai tumbuh-tumbuhan lainnya, bahkan berbagai mutiara-mutiara yang sangat bernilai harganya. Manfaat yang lain adalah laut sebagai pembatas antara wilayah satu dengan wilayah lainnya, selain itu, ia sebagai pembatas zat air yang asin dan tawar. Dalam hal ini, air laut yang asin bermanfaat sebagai alat pensuci atau pembersih, sedangkan air tawar yang berada di luar laut bermanfaat sebagai sumber kehidupan manusia, hewani dan tumbuh-tumbuhan.
B. Implikasi
Implikasi akhir yang timbul dari hasil kajian tentang al-Bahru menurut perspektif Alquran adalah :
1. Pengungkapan kata “laut” dalam Alquran, akan melahirkan berbagai kosenp-konsep ilmiah. Karena demikian halnya, maka segenap pihak dituntut untuk menganalisisnya secara cermat dan mendalam, yang bukan saja dalam bentuk format skripsi tetapi perlu dikaji dalam forum-forum diskusi.
2. Fungsi laut yang begitu banyak, akan bermuara pada suatu rekomendasi tentang pentingnya pengungkapan fungsi laut yang bukan hanya dalam bidang disiplin ilmu tafsir, tetapi juga dalam disiplin ilmu-ilmu lainnya, misalnya ilmu alam, ilmu geografis, ilmu falak dan lain-lain.
3. Manfaat laut yang sangat signifikan itu, di-harapkan kepada segenap pihak untuk menikmatinya. Dengan demikian, dituntut pula untuk menjaga ke-lestariannya agar supaya tidak terjadi kerusakan di dalamnya.

KEPUSTAKAAN

Al-Qur’an al-Karim
al-Anshariy, Ibn Mandzur. Lisan al-Arab, jilid I. Madinah: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th.
al-Atthar, Dawud. Mu’jaz ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad dengan judul Perspektif Baru Alquran. Cet.I: Bandung: Pustaka Hidayah, 1994.
Audah, Ali. Konkordansi Qur’an; Panduan Kata dalam mencari Ayat Al-Quran. Cet.I; Jakarta: Pustaka Litera Antar-Nusa.
Ayyub, Mahmud. Qur’an dan Para Penafsirnya. Cet.I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1979.
al-Baqy, Muhammad Fu’ad Abd. Al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfaz al-Qur’an al-Karim. Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya, juz IX. Jakarta: Proyek Pengadaan Penafsir dan Penterjemah Al-Quran, 1997.
. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: Mahkota, 1989.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
Fahruddin HS., Ensiklopedi Al-Qur’an. Cet.I; Jakarta: t.p.: 1992.
al-Farmawiy, Abd. Al-Hayy. Al-Bidâyah Fiy Tafsîr al-Mawdhû’iy, diterjemahkan oleh Suryan A. Jamrah dengan judul, Metode Tafsir Mawdhu’iy; Suatu Pengantar. Cet. II; Jakarta: Rajawali Pers, 1006.
Hadna, SQ., Ahmad Mustafa. Problematika menafsirkan al-Qur’an. Cet.I; Semarang: Dina Utama, 1993.
Hamka, Tafsir al-Azhar, juz XIV. Jakarta: Pustaka Panjimas, t.th.
Hani, Fadhlullah. The Cow; A Comentari of Chafter 2 Surat al-Baqarah, diterjemahkan oleh Satrio Wahono dengan judul Jiwa Al-Quran; Tafsir Surah al-Baqarah. Cet.I; Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001.
Ibn Zakariyah, Abû Husain Ahmad bin Fâris. Mu’jam al-Maqâyis al-Lughah. Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir al-Maragiy, juz VII, XXII. Kairo: Mustafa al-Baby al-Halabi, 1973.
Munawwir, A. W. Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia. Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1992.
al-Qaththan, Manna’. Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an Mesir: Mansyurat al-Asr al-Hadits, 1979.
Sahil, Azharuddin. Indeks al-Qur’an; Panduan Melalui Ayat Alquran Berdasarkan Kata Dasarnya. Bandung: Mizan, 1981.
al-Shalih, Shubhi. Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an, di-terjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan judul Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran. Cet. VIII; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.
Shihab, M. Quraish. et al., Sejarah dan Ulum al-Quran. Cet.I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.
Ash-Siddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/ Tafsir. Cet. IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
Usman, Husaini. Metodologi Penelitian Sosial. Cet.I; Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
al-Wahidiy, Abu Husayn. Asbab al-Nuzul. Beirut: Dar al-Fikr, 1991.
Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung, 1992.
al-Zawiy, Thahit Ahmad. Al-Tartîb al-Qamûs al-Muhît Ala Tariq al-Misbah al-Munîr Wa Asas al-Balagah, juz IV. Cet.III; Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.





[1]Lihat M. Quraish Shihab, et al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Cet.I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 64.

[2]Lihat Shubhi al-Shalih, Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an, di-terjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan judul Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran (Cet. VIII; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 203.

[3]Lihat M. Quraish Shihab, et. al, loc. cit.

[4]Lihat ibid., h. 72.

[5]Lihat Manna’ al-Qaththan, Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an (Mesir: Mansyurat al-Asr al-hadits, 1979), h. 61.

[6]Lihat M. Quraish Shihat, et al., op. op. cit., h. 74. Banding-kan dengan Dawud al-Atthar, Mu;jaz ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad dengan judul Perspektif Baru Alquran (Cet.I: Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 148.

[7]Lihat M. Quraish Shihab, et al., ibid.

[8]Hasbi Ash-Siddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/ Tafsir (Cet. IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 34-35.

[9]Ibid.

[10]Ibid.

[11]Kata asbab al-nuzul terdiri dari dua suku kata. Yakni, asbâb dan al-nuzûl. Kata asbâb adalah bentuk jamak dari sabab yang sercara leksikan berarti memotong dan memaki. Jadi, sabab berarti setiap sesuatu yang dapat sampai pada lainnya. Lihat Ibn Mandzur al-Anshâriy, Lisan al-Arab, jilid I (Madinah: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th), h. 440. Sedangkan kata nuzûl adalah bentuk masdar dari kata nazala-yanzilu-nuzûl yang berarti turunnya atau jatuhnya. Lihat Ibid., jilid XI; h. 48. Jadi, asbâb al-nuzûl di sini adalah sebab-sebab turunnya ayat dalam pengertian menunjukkan adanya hubungan kausalitas.

[12]M. Quraish Shihab, et al., op. cit., h. 77.

[13]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), h. 161.

[14]M. Quraish Shihab, et al., op. cit., h. 78.

[15]Lihat Abu Husayn al-Wahidiy, Asbab al-Nuzul (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), h. 4.

[16]Ibid., h. 95.

[17]Term munasabah berasal dari akar kata nasabah, yunasibu, munasabatan yang berarti kedekatan. Lihat Lihat al-Thahit Ahmad al-Zawiy, Al-Tartîb al-Qamûs al-Muhît Ala Tariq al-Misbah al-Munîr Wa Asas al-Balagah, juz IV (Cet.III; Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.), h. 360.

[18]Lihat M. Quraish Shihab, et al., op. cit., h. 75-76.

[19]Depatemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Mahkota, 1989), h. 287.

[20]Departemen Agama, Al-Qur’an dan Tafsirnya, juz IX (Jakarta: Proyek Pengadaan Penafsir dan Penterjemah Al-Quran, 1997), h. 184-185.

[21]Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 579.

[22]Hamka, Tafsir al-Azhar, juz XIV (Jakarta: Pustaka Panjimas, t.th.), h. 190-191.

[23]Ibid.

[24]Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 8.

[25]Disadur dari Fadhlullah Hani, The Cow; A Comentari of Chafter 2 Surat al-Baqarah, diterjemahkan oleh Satrio Wahono dengan judul Jiwa Al-Quran; Tafsir Surah al-Baqarah (Cet.I; Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001), h. 45-46.

[26]Lihat QS. al-Thin (94): 4.

[27]Lihat QS. al-Isra (17): 70.

[28]Lihat QS. al-Baqarah (2): 30.

[29]Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 242

[30]Ibid.h. 657.

[31]Uraian lebih lanjut, lihat Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragiy, juz VII (kairo: Mustafa al-Baby al-Halabi, 1973), h. 60.

[32]Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 329.

[33]Lihat Ahmad Mushtafa al-Maragiy, juz V, op. cit., h. 90.

[34]Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 479.

[35]Ibid., h. 459.

[36]Ibid., h. 656.

[37]Ahmad Mushtafa al-Maragiy, juz, XXII, op. cit., h. 195.

http://www.artikelbagus.com/2011/04/al-bahru-dalam-alquran-suatu-kajian.html