Lebih Utama Berbuat Dosa Daripada...

“Pak Kyai mana yang paling utama berbuat dosa sebesar gunung dengan berbuat dosa sekecil lalat.” Tanya seorang seorang pada pak Kyai.
“ Tentu saja yang paling utama berbuat dosa sekecil lalat dibanding berbuat dosa sebesar gunung.” Jawab pak Kyai mantap.
“Kenapa Pak Kyai?”
“Karena Allah tidak suka hambanya berbuat dosa. Makanya lebih utama berbuat dosa sekecil lalat daripada berbuat dosa sebesar gunung. Mengertikah Engkau?”
“Ya pak Kyai saya mengerti” kemudia santri tersebut pergi dengan ceria.
Dihari lain datang seorang santri dan bertanya kepada pak Kyai.
“Lebih utama mana pak Kyai berbut dosa sekecil lalat dengan berbuat dosa sebesar gunung?”
“Tentu saja lebih utama berbuat dosa sebesar gunung daripada berbuat dosa sebesar lalat”
‘ Kenapa pak Kya!” tanyanya agak terperanjat dan agak aneh.
“ Karena Allah sangat-sangat senang hambanya yang berbuat dosa sebesar gunung kemudian mau bertobat. Allah sendiri yang membuat perumpaan tentang kehilangan anak. Itu eperti seseorang yang kehilangan anak, yang sangat di cintai, lenyap di tengah padang pasir. Kemudian dia menemukan anak tersebut walaupun anak tersebut dalam keadaan kelaparan . Alangkah luar biasa senangya menemukan anak yang sangat dicintai itu kembali? “
“Iya betul sekali pak Kyai.”
“Apakaha kamu sudah paham bahwa berbuat dosa sebesar gunung lebih utama daripada berbuat dosa sekecil lalat?”
“Saya sudah paham pak Kyai” kemuian santri itu pergi dengan muka ceria senang bukan main atas jawaban yang sangat memuaskan.
Suatu hari pak Kyai di datangi lagi santri yang lain dan ditanya.
“ Lebi utama mana pak kyai berbuat dosa sekecil lalat atau berbuat dosa sebesar gunung?”
“Tentu saja lebih utama berbuat dosa keduanya, berbuat dosa sekecil lalat dan berbuat dosa sebesar gunung?”
“Kenapa pak Kyai?
“Karena” pak Kyai diam sebentar
“Mana ada manusia yang tidak pernah berbuat salah sekecil lalat atau pun sebesar gunung? Bagi allah apakah gunung itu besar? Tentu saja tidak. Gunung itu sangat kecil bagi Allah. Dan apakah lalat itu kecil? Tentu saja tidak. Lalat itu besar sekali jika engkau menjadi bakteri. Bukankah berbuat dosa kecil saja bagi orang beriman tentu saja dianggap dosa besar, sehingga meminta ampun kepada Allah berkali-kali?. Dan jika orang yang berbuat dosa itu kurang beriman, maka dianggap dosa besarpun kadang dianggp kecil, walaupun dosanya sebesar gunung kadang dianggap sekecil lalat!”
“Betul sekali pak Kyai”
“ Apakah engakau sekarang sudah paham ?
“Sudah paham pak Kyai. Bahwa berbuat dosa sekecil lalat dan berbut dosa sebesar gunung lebih utama daripada hanya berbuat dosa sekecil alat atau berbuat dosa hanya sebesar gunung” Kemudian satri ini pergi sambil tersenyum puas.”
Rupanya kejadian seperti itu di dengar oleh salah satu santri yang selalu mengikuti. Dalam hatiny bertanyaa ,mengapa pertanyaaan sama, lebih utama mana berbuat dosa sebesar lalat atau sebesar gunung, tapi jawabannya bisa berlainan. Dan semuanya menerima dengan paham dan puas. Maka Ia memberanikan diri bertanya.
“Pak kyai, mengapa pertanyaan yang sama, lebih utama mana yang berbuat dosa sekecil lalat dengan yang berbuat dosa sebesar gunung, jawabannya bisa berbeda-beda, tapi mereka sama-sama puas dan senang dengan jawabanya pak Kyai?”
Santri ini yang selalu mengikuti ternyata mendapat jawaban yang sama sekali berbeda dengan tiga santri lainnya. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa jawabannya pak Kyai tidak logis, tidak akurat, tidak proporsional. Ia yang menduga jawabannya pak Kyai tentu di dasari oleh ayat-ayat AlQuran ataupun Hadist. Atau mungkin pak Kyai akan berfilsafat dengan Confuisme, Budhaisme, Thao, ataupun filusuf Rene Descartes. Ataupun filusuf Yunani semacam Demokritos, Phitagoras, Aristoteles, Plato dan sebagainya. Atau Filusuf Al Ghozali, Ibnu Sina, Ibnu Chaldum, Ibnu Rusdi. Ataupun pak Kyai akan berbicara tentang Al Hallaj, Ibnu Arabi ataupun Syeh Siti Jenar. Yang terkenal dengan ‘Ana Al Haqq”. Tapi itu juga bukan.
Karena pak Kyai hanya diam kemudian
“ Ha…ha…ha..” Tertawa terbahak-bahak!!!!