Obat Panas (Demam), Batuk, Pilek, Flu, Alergi Yang Biasa Digunakan

http://umuseke.com/wp-content/uploads/2012/02/paracetamol-01.jpg
Demam, batuk, pilek, flu, atau alergi memang termasuk kondisi yang sering dialami banyak orang; menyangkut hal ini penulis memiliki jenis obat-obatan tertentu yang berdasarkan pengamatan biasa dikonsumsi atau digunakan dalam meringankan kondisi atau penyakit tersebut. Dalam hal ini saya tak akan membahas “merek” dagang obat, akan tetapi lebih kepada senyawa kimia obat tersebut, yang biasanya tertera dalam kemasan merek obat.
Demam atau panas tubuh yang tinggi sebenarnya bukanlah penyakit. Akan tetapi demam adalah reaksi alami tubuh ketika sedang sakit atau menghadapi kuman penyakit. Ada bagian otak yang mengontrol suhu tubuh, termasuk dalam “memerintahkan” kenaikan suhu setelah mendapat “laporan-laporan” dan “masukan” dari bagian tubuh yang lain. Oleh karena itu, jika tak terlalu parah ada baiknya tak usah minum obat, tapi cukup dengan banyak minum air dan beristirahat. Akan tetapi jika sudah mengganggu atau kenaikan suhu tubuh mencapai titik yang membahayakan seperti mencapai 39 derajat celcius atau lebih, maka intervensi dari obat-obatan diperlukan.
Obat demam atau panas yang tergolong populer adalah paracetamol atau acetaminophen. Obat ini tergolong antipyretic (penurun panas), dan analgesic (penghilang rasa sakit). Untuk dewasa biasanya 500 mg per tablet, 3x sehari jika perlu. Jangan sampai meminumnya lebih dari satu tablet sekali minum, dan tentunya sebaiknya sesuai dengan anjuran dosisnya (jika 3x sehari artinya diminum setiap 6-8 jam). Paracetamol ini muncul dalam berbagai kemasan obat dengan merek yang berbeda-beda (silakan diteliti di label kemasan obat) baik pada obat penurun panas, maupun sebagian obat batuk, atau flu. Jika anda sudah mengkonsumsi paracetamol, pastikan anda tidak mengkonsumsi obat batuk atau flu yang juga mengandung paracetamol.
Selain paracetamol, terdapat juga golongan senyawa obat lain yang juga bisa berfungsi menurunkan panas yakni dari golongan anti-radang non-steroid (NSAIDs, Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs). Contoh obat-obatan golongan ini adalah dari jenis salicylates ( seperti : acetyl salicylic acid atau aspirin, sodium salicylate, choline salicylate, dll), ibuprofen, ketoprofen, naproxen. Obat jenis ini juga berfungsi menghilangkan rasa sakit (terutama akibat peradangan).
Pilek dan flu adalah suatu kondisi atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Pilek ditandai dengan hidung berair, hidung tersumbat, bersin-bersin, juga bisa sakit kepala, sakit tenggorokan, sedangkan flu ditandai dengan demam, batuk, lemah, capek, sakit di sekujur tubuh, dsb selain sebagian gejala-gejala pilek.
Tak ada obat yang dikatakan tepat untuk menyembuhkan pilek dan flu. Obat-obatan yang ada lebih bersifat mengurangi gejala-gejala tak nyaman sebagaimana disebutkan di atas. Khusus untuk flu saat ini ada obat yang memang bersifat menyerang virus penyebab flu seperti Tamiflu, Relenza; akan tetapi digunakan hanya bila dirasa perlu dan harus atas resep dokter. Pilek atau flu yang relatif biasa akan hilang sendiri (melemah) dalam beberapa hari terutama jika diiringi dengan istirahat yang banyak, banyak minum air, dan bantuan suplemen dan vitamin.
Jika dirasa perlu maka obat-obatan yang mengurangi gejala-gejala tak nyaman yang dirasakan penderita pilek atau flu bisa dikonsumsi. Jika diikuti dengan demam, maka paracetamol bisa dikonsumsi (untuk anak-anak dan remaja, saya membaca tak boleh menggunakan aspirin ketika berpenyakit yang disebabkan virus termasuk flu). Untuk rasa tak nyaman di hidung (berair, dan tersumbat), maka ada senyawa obat yang bersifat decongestant yang mempersempit pembuluh darah di hidung sehingga mencegah keluarnya cairan dari pembuluh darah dan hidung tersumbat.
Senyawa obat yang bersifat decongestant di antaranya pseudoephedrine dan phenylephrine. Selain itu juga ada senyawa yang disebut phenylpropanolamine dimana ditemukan di dalam obat-obatan flu yang beredar di Indonesia, walaupun di Amerika Serikat sudah dilarang sama sekali peredarannya karena berisiko pendarahan otak dan stroke (Indonesia berdalih dosis yang digunakan sangat rendah dan aman, sedangkan di Amerika Serikat dosis tinggi sering disalahgunakan untuk melangsingkan tubuh, akan tetapi saya pribadi sekarang memilih tak memakai obat yang mengandung phenylpropanolamine).
Obat-obatan flu dan pilek biasanya juga dilengkapi dengan antihistamine, yang berfungsi mengurangi reaksi yang bersifat alergi seperti bersin-bersin dan sebagainya (tak heran, obat ini juga digunakan untuk penderita alergi). Obat antihistamine ini biasanya bersifat sedative (menimbulkan kantuk). Contohnya yang terkenal di Indonesia adalah ctm (chlorpheniramine maleas), diphenhydramine, cetirizine, loratidine, fexofenidine (Tips : perhatikan saja di label obat-obat flu yang beredar, biasanya yang berakhiran “amine” atau “ine” kemungkinan sifatnya antihistamine; untuk memastikannya tentu anda perlu mengecek lebih lanjut).
Kemudian untuk batuk, baik yang muncul terpisah maupun beriringan dengan pilek dan flu, terdapat dua jenis obat batuk sesuai kategori batuk : batuk kering atau batuk berdahak. Batuk berdahak (terkadang di awal-awal sakit tak jelas berdahak, tapi penderita tahu ada banyak lendir di tenggorokan, dan suara batuknya biasanya lebih “tebal) maka gunakanlah obat batuk yang bersifat expectorant yang mendorong pengeluaran atau penipisan cairan lendir di saluran pernapasan. Kandungan senyawa obat untuk ini di antaranya yang cukup populer adalah guaifenesin (bisa ditemukan dalam label beberapa obat batuk yang beredar).
Untuk batuk kering (biasanya ditandai dengan suaranya yang melengking), maka gunakanlah obat batuk yang sifatnya suppressant. Contoh senyawa obat yang populer dan banyak ditemui dalam kemasan obat untuk jenis suppressant ini adalah dextromethorphan. Selain itu juga ada codeine, hydrocodone yang biasanya lebih jarang ditemui bebas di pasaran.
Ada catatan penting untuk pilek, flu, dan batuk. Jangan langsung mengkonsumsi obat antibiotik karena antibiotik yang sifatnya membunuh bakteri tak akan ada efeknya terhadap penyakit yang disebabkan virus sebagaimana pada pilek, flu, dan sebagian batuk. Malahan dengan mengkonsumsi antibiotik secara sembarangan akan berbahaya karena beresiko membuat bakteri kebal terhadap antibitok, selain sebagiannya membunuh mikroba yang baik bagi tubuh. Baru ketika yakin terjadi infeksi (biasanya ditandai dengan peradangan di saluran pernapasan, lendir yang berwarna dan kental) maka antibiotik bisa digunakan atau sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter.
Kemudian yang tak kalah pentingnya, obat-obatan yang disebutkan di atas lebih bersifat sebagai “pertolongan pertama”. Jika dalam tiga hari tak ada perkembangan, maka hentikan pemakaian obat dan segeralah kunjungi dokter. Kemudian, obat-obatan di atas tak semuanya aman bagi kelompok tertentu seperti anak-anak, ibu hamil, menyusui dan orang-orang yang berpenyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit-penyakit / resiko lainnya seperti alergi obat (konsultasikan dengan dokter).
Jika anda sudah mengkonsumsi suatu merek obat tertentu, pastikan komposisi di dalamnya (dibaca pada label obat untuk memastikan golongan obatnya : penurun panas, penghilang rasa sakit, decongestant, antihistamine, obat batuk) sebelum anda memutuskan untuk menambah mengkonsumsi jenis obat tertentu demi mencegah anda secara tak sengaja mengkonsumsi dua jenis obat atau lebih dari golongan yang sama yang bisa membahayakan. Tentunya tak ada pilihan yang lebih baik selain berkunjung ke dokter ketika sakit.
Untuk penutup tulisan, pada pembahasan terdapat jelas pilihan obat untuk penurun panas, obat batuk, dan alergi. Jika anda hanya demam, maka anda cukup meminum obat paracetamol saja misalnya. Begitu juga ketika alergi (misalnya cukup meminum obat ctm). Sedangkan untuk batuk ada dua pilihan : obat batuk kering atau berdahak sebagaimana penjelasan di atas. Untuk pilek dan flu, maka obat-obatan pembantunya tergantung dari gejala atau gangguan yang dirasakan : apakah disertai demam, gejala alergi seperti bersin-bersin, hidung berair/tersumbat, batuk, dsb, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.
Semoga pembahasan tentang obat penurun panas (demam), batuk, pilek, flu, dan alergi di atas bisa bermanfaat bagi pembaca.