Epistemologi Hermeneutika Hans-Georg Gadamer dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Islam

 

A. PENDAHULUAN

Dalam satu atau dua dekade terakhir, perkembangan kajian hermeneutika di Indonesia sedang tumbuh subur dan “menggairahkan”, meskipun baru dalam dunia perguruan tinggi dan kalangan akademis. Perkembangan itu ditandai oleh beberapa kajian-kajian yang disuguhkan oleh sekian banyak peminat dan pecandu metode hermeneutika dalam epistemologi keilmuan untuk mengungkap misteri di balik fenomena teks-teks kitab suci. Di Perguruan Tinggi UIN Sunan KalijagaYogyakarta sendiri tidak sedikit dosen-dosen yang telah menghasilkan beberapa karya mereka sebagai bentuk konstribusi dalam mengembangkan paradigma epistemologis hermeneutik. Sebut saja M. Amin Abdullah, Sahiron Syamsudin, Yudian Wahyudi, dll. Sekalipun disisi lain konsep-konsep mereka menuai kritikan dan kontroversi.

Selain itu, proses hermeneutik pun dari waktu ke waktu semakin berkembang mengikuti alur dialektika manusia yang semakin kompleks dan terbuka di dalam memahami pesan-pesan ketuhanan. Dalam perkembangannya, hermeneutik memiliki tiga model, yaitu hermeneutik sebagai cara atau hermeneutik teoritis, hermeneutik sebagai cara untuk memahami pemahaman atau hermeneutika filosofis, hermeneutik sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman atau hermeneutik kritis.

Problema hermeneutik dalam kajian agama, lebih- lebih filsafat, makin bertambah penting mengingat penafsiran ulang terhadap suatu teks. Dalam proses menerjemahkan ( baca: menafsirkan) tersebut terdapat faktor memahami dan menerangkan sebuah pesan ke dalam medium bahasa. Inilah sesungguhnya rahim historisitas yang kemudian melahirkan hermeneutik. Akan tetapi, proses hermeneutik tidak sekedar memahami, menerjemahkan, dan menjelaskan sebuah pesan. Namun di balik proses hermeneutik berjubel-jubel elemen lain yang saling berkait, seperti praanggapan, tradisi, dialektika, bahasa, dan realitas.

Secara historis, penggunaan hermeneutika dapat ditemukan dalam karya-karya klasik pemikir Yunani kuno, seperti tulisan Aristoteles Peri Hermenias atau de intepretatione. Minat utama Aristoteles dan pemikir-pemikir masa tersebut adalah intepretasi terhadap ungkapan-uangkapan, baik lisan maupun tulisan, yang dilakukan oleh orang yang berbeda-beda. Asumsi hermeneutika pada masa tersebut bersifat personal, bahwa setiap orang mempunyai pengalaman-pengalaman mental sendiri-sendiri sehingga berpengaruh terhadap cara pengungkapan dan gaya bahasa yang berbeda pula. Oleh karena itu, tujuan hermeneutika pada masa itu antara lain untuk memahami bentuk-bentuk ekspresi manusiawi dari peristiwa mental manusia.[1]

Dengan berkembangnya diskursus filsafat ke arah postmodernisme, hermeneutika mulai berperan sebaga salah satu disiplin yang sangat kritis terhadap metodologi memahami teks dan realitas. Ia tidak lagi sebagai teori penafsiran, akan tetapi menempatkan diri sebagi kritikus metode penafsiran. Hermeneutika di sini mulai berubah menjadi “metateori tentang teori intepretasi”.[2]

Olek karena itu, Dalam makalah ini, penulis tidak akan membahas secara keseluruhan tentang konsep-konsep hermeneutika yang dikembangkan oleh beberapa filosof, tapi akan dibatasi pada pemikiran Epistemologi Hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Alasannya agar kita lebih fokus memahami hasil karya besar seorang Hans-Georg Gadamer yang ditulis dalam buku “ Truth and Methode “ dan karya-karyanya yang lain, yang kemudian akan dikembangkan dalam konteks relevansinya bagi pendidikan ( Islam ).

B. SEKILAS TENTANG BIOGRAFI HANS – GEORG GADAMER

Hans-George Gadamer dilahirkan pada 11 Februari di Kota Bresleu dimana ayahnya bekerja pada universitas selaku profesor kimia.[3] Ada juga yang mengatakan bahwa Gadamer lahir di Malburg[4]. Ayahnya dipandang sebagai ahli terpandang di bidangnya. Di mata ayah Gadamer, filsafat dan kesusanstraan dan humaniora secara umum bukan merupakan ilmu pengetahuan yang serius. Tetapi Hans-Georg Gadamer justru merasa tertarik akan humaniora dan khususnya filsafat, sehingga dalam pilihannya itu ia selalu dalam posisi yang berseberangan dengan ayahnya.[5]

Gadamer mulai mempelajari filsafat di Universitas Bresleu, tetapi ketika beberapa bulan ayahnya dipindahkan ke Marburg dan ia melanjutkan studinya di sana. Di Malburg ia mengikuti kuliah beberapa filsuf besar seperti Paul Natorp dan Nicolai Hartman serta berkenalan juga dengan teolog protestan ternama Rudolf Bultman, salah seorang pemikir berpengaruh di bidang hermeneutika. Pada tahun 1922 ia meraih gelar “doktor filsafat” dengan sebuah disertasi tentang Plato yang dikerjakan dibawah bimbingan Paul Nartop. [6] Gadamer sangat mengagumi pemikiran Heidegger dan rasa respek itu akan berlangsung terus menerus sepanjang hidupnya. Dari Heidegger ia belajar secara khusus bahwa konsep-konsep filosofis mempunyai suatu sejarah panjang yang dapat ditelusuri mulai dengan munculnya pertama kali dalam pemikiran Yunani.

Menjelang masa pensiunnya pada tahu 1960, karier filsafat gadamer justru mencapai puncaknya, yaitu melalui publikasi bukunya yang berjudul “ Kebenaran dan Metode “ Wahrheit und Methode. Karya ini merupakan dukungan yang sangat berharga bagi karya Heidegger yang berjudul “ sein und Zeit ”(being and Time). Bahkan gagasan Gadamer cukup berpengaruh pula dalam ilmu-ilmu kemanusia seperti misalnya dalam sosiologi, teori kesusastraan, teologi, sejarah, hukum dan bahkan dalam filsafat pengetahuan umum.[7] Hingga akhirnya Gadamer menutup usianya pada tahun 2002 dengan meninggalkan banyak karya terutama dalam bidang filsafat.

C. TERMINOLOGI HERMENEUTIKA SECARA UMUM

Secara etimologis, kata ‘hermeneutika’ berasal dari kata kerja Yunani hermeneuo yang berarti mengartikan, mengintepretasikan, menafsirkan, menerjemahkan. Baru dalam abad 17 dan ke 18 istilah ini mulai dipakai untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti dalam mengerti dan menafsirkan dengan tepat suatu teks dari masa lampau, khususnya kitab suci dan teks-teks klasik. [8] Sedangkan dalam bahasa inggrisnya hermeneutics yang berarti mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata.[9] Dari beberapa makna ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutik adalah ‘usaha untuk beralih dari suatu yang relatif gelap kepada sesuatu yang lebih terang’ atau ‘proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti’.[10]

Istilah hermeneutik dalam bahasa Yunani mengingatkan kita pada tokoh mitologis yang bernama hermes, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan jupiter kepada manusia. Hermes digambarkan sebagai seseorang yang yang mempunyai kaki bersayap, dan lebih banyak dikenal sebagai sebutan mercurius dalam bahasa latin. Tugas hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. jadi, fungsi hermes adalah penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi umat manusia. oleh karena itu, Hermes harus mampu mengintepretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itu, Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu.[11]

Sebetulnya, secara teologis, peran Dewa Hermes dalam mitilogi Yunani bisa dianalogikan dengan peran Nabi utusan Tuhan. Tugas nabi sebagai utusan, sebagai penerang sekaligus penghubung untuk menyampaikan pesan dan atau ajaran dari Tuhan kepada umat manusia. Dalam mediasi dan proses menyampaikan pesan, yang disandarkan kepada Hermes ini, tercakup dalam 3 (tiga) bentuk makna dasar hermeneuin dan hermenia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk kata kerja hermeneuin, ialah: 1. Mengungkapkan kata-kata, 2. Menjelaskan suatu kondisi, dan 3. Menerjemahkan bahasa Asing. Ketiga makna tadi, bisa diwakili kata kerja bahasa inggris to interpret, yang membentuk makna independen dan signifikan bagi intepretasi. Karena itu, intepretasi mengacu ke 3 (tiga) persoalan berbeda, yaitu: 1. Pengucapan lisan, 2. Penjelasan yang masuk akal, dan 3. Penerjemahan dari bahasa lain.[12]

Menurut Komaruddin Hidayat, ada masalah, bagaimana meneruskan maksud Allah yang sesungguhnya kepada manusia. begitu pula, bagaimana menerangkan isi sebuah teks agama kepada manusia yang hidup dalam tempat dan waktu yang jauh berbeda dari pihak penulisnya.[13] Dengan demikian, menurut R. Palmer agaknya tidaklah berlebihan, bahwa hermeneutika adalah studi pemahaman teks. Dan ada 2 (dua) fokus perhatian di sini; yaitu 1) Peristiwa pemahaman teks, dan 2) Persoalan yang mengarah mengenai apa pemahaman dan intepretasi itu.[14]

D. BEBERAPA PEMIKIRAN HERMENEUTIKA HANS-GEORG GADAMER

Hans-George Gadamer adalah penulis kontemporer dalam bidang hermeneutik yang sangat terkemuka. Karyanya yang berjudul Wahrheit Und Methode (bahasa jerman) dalam bahasa Inggris Truth and Methode ( Kebenaran dan Metode) banyak beredar di perpustakaan-perpustakaan dan sirkulasi filsafat.

Menurut K. Bertens, dalam filsafat dewasa ini, kata hermeneutika sering digunakan dalam arti yang luas sekali dan juga menyangkut hampir seluruh tema filosofis tradisional, sejauh berkaitan dengan masalah bahasa. Inti filsafat ini berefleksi tentang mengerti (verstehen).[15] Dalam hal ini Gadamer melanjutkan pendapat Heidegger sebagai filosof yang ia kagumi pemikiran-pemikirannya tentang hermeneutika. Mengerti oleh Heidegger dalam buku ‘ada dan waktu’, harus dipandang sebagai sikap yang paling fundamental dalam keberadaan manusia. Artinya, mengerti itu adalah cara berada manusia sendiri dan menyangkut semua pengalaman manusia. justru itulah hermeneutika memiliki problem universal.

Di dalam hidupnya, manusia selalu mencari arah baru yang dituju. Untuk menemukan arah yang tepat, manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. Hanya dengan memahami diri secara tepat manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. Dalam proses merumuskan filsafatnya, Gadamer sangat terpengaruh oleh filsafat Heidegger, terutama tentang fenomenologi adanya. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger, yaitu proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. Gadamer memfokuskan hermeneutiknya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. untuk memahami manusia menurutnya, orang harus peduli dan memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya, tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu.[16]

Gadamer menekankan, bahwa mengerti mempunyai struktur lingkaran. Maksudnya, agar seorang dapat mengerti, maka harus ada pengertian. Untuk mencapai pengertian, satu satunya cara ialah bertolak dari pengertian. Misalnya, untuk mengerti suatu teks, mesti ada pengertian tertentu tentang apa yang dibicarakan dalam teks itu. Tanpa hal tersebut, tidak mungkin seseorang memperoleh pengertian-pengertian tentang teks tersebut. Tetapi dilain pihak dengan membaca teks itu prapengertian terwujud menjadi pengetian yang sungguh-sungguh. Proses itulah yang disebut oleh Gadamer dan Heidegger sebagai “hermeneutika lingkaran”. Tetapi tidak dapat di tarik kesimpulan bahwa lingkaran itu baru timbul jika kita membaca teks-teks. Lingkaran ini sudah terdapat pada taraf yang paling fundamental. Lingkaran ini menandai eksistensi diri kita sendiri. “M\engerti” dunia hanya mungkin, kalau ada prapengertian tentang dunia dan tentang diri kita sendiri. Tetapi lingkaran ini tidak merupakan suatu “lingkaran setan”, melainkan justru memungkinkan eksistensi kita.[17]

Reza A.A Watimena dalam tulisannya “Hermeneutika Hans-George Gadamer” mengilustrasikan pandangan Gadamer bahwa, pengertian melibatkan persetujuan. Untuk mengerti juga untuk setuju. Di dalam bahasa Inggris, kalimat yang familiar dapat dijadikan contoh, “we Understand each other”. kata understand bisa berarti mengerti atau memahami, dan bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. Lanjut Watimena dengan mengutip pendapat Grondin, ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. Pertama, bagi Gadamer, untuk memahami juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Di dalam proses pemahaman itu, pembaca dan penulis teks memiliki kesamaan pengertian dasar ( basic Understanding ) tentang makna tersebut. Misalnya saya membaca teks tulisan Imanuel Kant, ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant, namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. Kedua, menurut Gadamer, setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog, baik aktual fisik, ataupun dialog ketika kita membaca suatu teks tulisan tertentu. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia ( linguistic elements of understanding ). Dalam arti ini untuk memahami berarti merumuskan sesuatu dengan kata-kata, dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa.[18] Jadi peran memahami bahasa dalam hal ini sangatlah penting.

Sementara itu Noeng Muhadjir dalam bukunya, pemaknaan bahasa dapat juga disebut sebagai logika linguistic. Kebenaran dicari dengan menganalisis makna simbolik dengan pembacaan heuristik atau pembacaan hermeneutik. Pemaknaan hermeneutik biasanya mengacu pada sumber tunggal, mungkin budaya, mungkin arti bahasa, mungkin otoritas lain. Pemaknaan hermeneutik yang sekarang ini sedangkan berkembang menurutnya adalah pemaknaan hermeneutik dekonstruksi, dimana menolak acuan tunggal kemudian mengembangkan pemaknaan kreatif dan baru.[19]

Dalam lingkaran hermeneutik, dengan mengambil contoh kongkrit umat Islam, ada trilogi yang bersifat fungsional organik. Pertama, teks Al-qur’an sebagai teks yang senantiasa hadir, sebagai objek kajian. Kedua, pembacaan atau pengucapan ayat (teks) Al-Qur’an yang dilaksanakan tiap hari dalam ibadah. Ketiga, tradisi umat Islam yang terbentuk dan terus bertahan sejak masa nabi Muhammad sampai dengan hari ini. Trilogi tersebut telah melahirkan lingkaran hermeneutika. Artinya, Al-Qur’an telah membidani lahirnya komunitas pembaca. Kemudian komunitas pembaca menciptakan tradisi Islami. Lantas, atas dasar tradisi Islami yang diterima, umat Islam menafsirkan Al-Qur’an. Tradisi tersebut telah mampu menciptakan lingkaran hermeneutika sedemikian rupa dan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun.[20]

Meskipun demikian, bukanlah hal yang mudah untuk memahami karya-karya Gadamer, bahkan juga untuk menerjemahkannya; disini kita perlu kerja keras. Sebagai contoh misalnya untuk memahami gagasan tentang “ kesadaran historis yang efektif” (Wirkungsgeschichtliche Bewusstsein)[21] banyak membuat para pembacanya bingung.

Ada dua hal yang kiranya dapat dikatakan sebagai sumber kompleksitas atau kesulitan dalam memahami karya-karya Gadamer, yaitu : Pertama, filsafat Gadamer menurut faktanya juga didasarkan pada pemikiran hermeneutik. Argumen Gadamer sangat mengandalkan analisis kritisnya tentang bahasa, kesadaran historis, serta pengalaman tentang estetika.[22] Untuk memahami analisisnya itu kita bisa melihatnya pada hermeneutikstret dimana kita dihadapkan pada keraguan apakah analisis itu menghapus sama sekali dasar-dasar hermeneutiknya atau menunjukkan kepada kita bahwa gagasan Gadamer itu pada faktanya lebih abstrak, lebih tidak historis, dan lebih orosinal. Kedua, Dalam Truth and Method, menampilkan kesatuan (gagasan) yang tanpa garis batas dan ketertutupan tanpa penjabaran. Gagasan itu menerangkan tentang distingsi/ pembedaan yang tanpa disertai pemisahan/pemilahan perbedaan. Gadamer tidak berpikir dalam “kalimat-kalimat pernyataan” ataupun proposisi, melainkah lebih mengarah kepada “berpikir melalui bertanya”.[23]

Dibawah ini penulis akan menjelaskan beberapa pemikiran-pemikiran pokok hermeneutik Hans-Georg Gadamer, antara lain :

1. Teori “ Prapemahaman” ( Vorverstandnis; pre-understanding)

Pengaruh situasi hermeneutik atau Wirkungsgeschichte tertentu membentuk pada diri seorang penafsir apa yang disebut oleh Gadamer dengan istilah Vorverstandnis; pre-understanding atau “prapemahaman” terhadap teks yang ditafsirkan. Prapemahaman (praanggapan) yang merupakan posisi awal penafsir memang pasti dan harus ada ketika kita membaca teks.[24] Ini memungkinkan adanya obyektifitas di dalam memahami pesan-pesan yang disampaikan dalam teks tersebut. Oleh karena itu, menurut penulis, bahwa sebelum penafsir melakukan intepretasi terhadap makna teks, paling tidak harus memiliki prapemahaman agar tidak terjebak dalam situasi yang “keliru”. Apalagi tidak memiliki pengetahuan tentang itu sebelumnya. Disinilah letak pentingnya prapemahaman tersebut.

Gadamer menjelaskan dalam bukunya secara gamblang tentang ini, sebagaimana diungkapnnya:

Immer ist im Verstehen ein Vorverständnis im Spiel, das seinerseits durch die bestimmende Tradition, in der der Interpret steht, und durch die in ihr geformte Vorurteile geprägt ist.

(Dalam proses pemahaman prapemahaman selalu memainkan peran; prapemahaman ini diwarnai oleh tradisi yang berpengaruh, dimana seorang penafsir berada, dan juga diwarnai oleh prejudis-prejudis [Vorurteile; perkiraan awal] yang terbentuk di dalam tradisi tersebut).[25]

Menurut sahiron Syamsudin, keharusan adanya prapemahaman tersebut, dimaksudkan agar seorang penafsir mampu mendialogkannya dengan isi teks yang ditafsirkan. Tanpa prapemahaman seseorang tidak akan berhasil memahami teks secara baik. Kaitannya dengan hal ini, wajarlah bahwa Oliver R. Scholz dalam bukunya Verstehen und Rationalität berpendapat bahwa prapemahaman yang disebutnya dengan istilah Präsumtion (“asumsi atau dugaan awal”) merupakan “sarana yang tak terelakkan bagi pemahaman yang benar” (unentbehrliche Mittel für das richtige Verstehen). Meskipun demikian, prapemahaman, menurut Gadamer, harus terbuka untuk dikritisi, direhabilitasi dan dikoreksi oleh penafsir itu sendiri ketika dia sadar atau mengetahui bahwa prapemahamannya itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh teks yang ditafsirkan. Hal ini sudah barang tentu dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap pesan teks. Hasil dari rehabilitasi atau koreksi terhadap prapemahaman ini disebutnya dengan istilah Vollkommenheit des Vorverständnisses (“kesempurnaan prapemahaman”).[26]

2. Teori “Penggabungan / Asimilasi Horison” dan Teori “Lingkaran Hermenutik”

Di dalam menafsirkan teks seseorang harus selalu berusaha merehabilitasi prapemahamannya. Hal ini berkaitan erat dengan teori “penggabungan atau asimilasi horison”, dalam arti bahwa dalam proses penafsiran seseorang harus sadar bahwa ada dua horison, yakni (1) “cakrawala [pengetahuan]” atau horison di dalam teks, dan (2) “cakrawala [pemahaman]” atau horison pembaca. Kedua horison ini selalu hadir dalam proses pemahaman dan penafsiran. Seorang pembaca teks memulainya dengan cakrawala hermeneutiknya, namun dia juga memperhatikan bahwa teks juga mempunyai horisonnya sendiri yang mungkin berbeda dengan horison yang dimiliki pembaca. Dua bentuk horison ini, menurut Gadamer, harus dikomunikasikan, sehingga “ketegangan antara keduanya dapat diatasi” (the tension between the horizons of the text and the reader is dissolved). Oleh karena itu, ketika seseorang membaca teks yang muncul pada masa lalu (Überlieferung), maka dia harus memperhatikan horison historis, di mana teks tersebut muncul: diungkapkan atau ditulis. Gadamer menegaskan:

Eine Überlieferung verstehen, verlangt also gewiss historischen Horizont. Aber es kann sich nicht darum handeln, dass man diesen Horizont gewinnt, indem man sich in eine historische Situation versetzt. Mann muss vielmehr immer schon Horizont haben, um sich dergestalt in eine Situation versetzen zu können.

(Memahami sebuah teks masa lalu sudah barang tentu menuntut [untuk memperhatikan] horison historis. Namun, hal ini tidak berarti bahwa seseorang dapat mengetahui horison ini dengan cara menyelam ke dalam situasi historis. Lebih dari itu, orang harus terlebih dahulu sudah memiliki horison [sendiri] untuk dapat menyelam ke dalam situasi historis)

Seorang pembaca teks harus memiliki keterbukaan untuk mengakui adanya horison lain, yakni horison teks yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan horison pembaca. Gadamer menegaskan: “Saya harus membiarkan teks masa lalu berlaku [memberi informasi tentang sesuatu]. Hal ini tidak semata-mata berarti sebuah pengakuan terhadap ‘keberbedaan’ (Andersheit) masa lalu, tetapi juga bahwa teks masa lalu mempunyai sesuatu yang harus dikatakan kepadaku.” Jadi, memahami sebuah teks berarti membiarkan teks yang dimaksud berbicara. Interaksi antara dua horison tersebut dinamakan “lingkaran hermeneutik” (hermeneutischer Zirkel). Horison pembaca, menurut Gadamer, hanya berperan sebagai titik berpijak (Standpunkt) seseorang dalam memahami teks. Titik pijak pembaca ini hanya merupakan sebuah ‘pendapat’ atau ‘kemungkinan’ bahwa teks berbicara tentang sesuatu. Titik pijak ini tidak boleh dibiarkan memaksa pembaca agar teks harus berbicara sesuai dengan titik pijaknya. Sebaliknya, titik pijak ini justru harus bisa membantu memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Di sinilah terjadi pertemuan antara subyektifitas pembaca dan obyektivitas teks, di mana makna obyektif teks lebih diutamakan. [27]

3. Struktur Pengalaman dalam kebenaran epistemologi Hermeneutika Gadamer

Gadamer mulai menguji pengalaman hermeneutisnya dengan mengkritisi konsep pengalaman, dimana dia menemukan konsep pengalaman yang ada terlalu berorientasi ke arah pengetahuan sebagai bentuk perasaan dan pengetahuan sebagai jasad data konseptual. Dengan kata lain, kita saat ini cenderung mendefinisikan pengalaman dalam bentuk pengetahuan sains dan tidak mengindahkan historisitas pengalaman. Jika demikian halnya, kita secara tidak sadar memenuhi tujuan ilmu, yaitu “mengobyektifkan pengalaman yang meniadakan ragam peristiwa historis terhadapnya.” Melalui kekuatan metodis eksprementasi sains menjadikan obyek keluar dari peristiwa historisnya dan merekstrukturisasikannya untuk sesuai dengan metode. Tujuan analogisnya, menurut Gadamer, dipakai dalam teologi dan filologi dengan “metode ktiris historis”, yang dalam beberapa bagian merefleksikan kebiasaan sains untuk membuat sesuatu menjadi obyektif dan jelas (bersifat verifikasi). Sejauh ini berlaku, apa yang nampak (dapat deverifikasi) adalah nyata; tak ada ruang pun lepas dari sisi pengalaman non obyektif dan historis. [28]

Pengalaman sering mendorong perasaan baru dan pemahaman baru. Ia senantiasa dapat dipelajari, dan tak seorangpun yang dapat menutupinya pada kita. Kita ingin menyelamatkan anak kita dari pengalaman pahit yang kita sendiri mengalaminya, dari anak-anak kita tidak akan menghindar dari pengalaman itu sendiri, pengalaman merupakan sesuatu yang dimiliki bagi historis manusia. Karakter pengalaman dialektis direflesikan dalam gerakan dan perjumpaannya dengan negativitas yang diperoleh dalam seluruh kebenaran tindakan penalaran. Gadamer sejauh ini mengatakan bahwa dalam seluruh pengalaman, struktur penalaran dipra-anggapkan. [29]

Sementara itu, bagi Gadamer fokus dari pengalaman tentang bagaimana menemukan kebenaran dalam hermeneutika adalah menemukan pokok permasalah yang diungkapkan oleh teks. Namun musuh utama dari penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. Prasangka membuat orang melihat apa yang mereka ingin lihat, yang biasa negatif dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri, baik kebenaran di level eksistensi manusia maupun kebenaran maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks.

Walaupun bukunnya berjudul Truth and Methode, namun sebenarnya Gadamer tidak bermaksud menjadikan hermeneutik sebagai metode dan berada jauh dari kebenaran. Yang ingin ia tekankan adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Sebab menurut Gadamer, kebenaran menerangi metode-metode individual, sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. Gadamer ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode melainkan melalui dialektika. Sebab di dalam proses dialektik kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara bebas lebih banyak kemungkinannya dibandingkan dengan dalam proses metodis.[30] Pada dasarnya, metode adalah struktur yang dapat membekukan dan memanipulasi unsur-unsur yang memudahkan prosedur tanya jawab, sedangkan proses dialektika tidaklah demikian.

Pada prinsipnya Gadamer menolak konsep hermeneutik sebagai metode. Meskipun hermeneutik menurut dia adalah adalah pemahaman, namun ia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (magang filsafat) ia menulis sebagai berikut : Dapatkah sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensi manusia dalam penalarannya.[31]

4. Konsep tentang Seni (humaniora) dalam Hermeneutika Gadamer

Refleksi-diri logis yang menyertai perkembangan ilmu-ilmu humaniora (seni) pada abad ke Sembilanbelas sepenuhnya didominasi oleh ilmu-ilmu pengetahuan alam. Penglihatan pada sejaran kata Geisteswissenschaften menujukkan hal ini, meskipun makna kata ini hanya dikenal dalam bentuk jamaknya. Ilmu-ilmu humaniora (Geisteswissenschaften) dengan sangat jelas memahami dirinya dari analoginya dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam.[32] Jenis pengetahuan apakah yang memahami segala sesuatu adalah demikian karena ia memahami bahwa ia terjadi demikian? Meskipun seseorang mengakui bahwa ideal dari pengetahuan ini karekter dan maksudnya secara fundamental berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam, seseorang akan masih tergoda untuk mengambarkan jenis pengetahuan ini dengan cara yang semata-mata negatif sebagai ilmu pengetahuan yang eksak.[33] Seakan-akan Gadamer ingin mengatakan bahwa yang dimaksud itu adalah ilmu kesenian (humaniora : termasuk sejarah, musik, sosial,dll).

Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alasan di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran, tetapi bukan kebenaran yang diperoleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya “menentang semua jenis penalaran”. Sebagai contoh misalnya di dalam melukis, garis-garis ditarik miring pada saat seharusnyaditarik lurus, atau campuran warna yang tidak menurut kombinasi yang lazim, seringkali dapat menghasilkan efek kenikmatan estetis. Juga di dalam musik, satu bait melodi dapat mengumandangkan perasaan estetis.[34] Gadamer menganalisis perkembangan dalam ilmu pengetahuan alam mengakibatkan perubahan juga dalam penilaian dalam penilaian manusia terhadap bentuk-bentuk pengenalan yang lain, misalnya pengenalan estetis. Dengan demikian kata Gadamer, pengalaman estetis menjauhkan diri dari realitas dan ia ingin memperlihatkan bahwa karya seni betul-betul menyingkap kebenaran kepada kita (dalam hal ini ia menggunakan pendapat Heidegger tentang kesenian) dan membuat kita mengerti. Karena itu kesenianpun termasuk wilayah hermeneutika, sejauh hermeneutika membicarakan bagaimana manusia mencapai pengertian tentang yang ada. [35]

Ada empat konsep penting Gadamer dalam membahas tentang konsep seni manusia dalam memperkaya nilai-nilai estetik hermeneutik. Empat konsep tersebut, antara lain :

a) Bildung

Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah, weltanschauung (pandangan dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi atau ungkapan, gaya, simbol, yang kesemuanya itu kita mengeti sebagai istilah-istilah dalam sejarah. [36] Kata bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari pada sekedar “kultur” atau kebudayaan. Dengan mengutip pendapat Wilhelm, Gadamer menyatakan bahwa Bildung sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mengarah kepada batin yaitu tingkah laku pikiran kita sendiri yang mengalir secara harmonis dari pengetahuan dan perasaan tentang seluruh usaha moral dan intelektual ke dalam sensibilitas (kemampuan merasakan) dan karakter.[37]

Seperti alam, Bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya sendiri. Bildung sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan intepretasi ilmu-ilmu kemanusiaan, karena di dalam Bildung terdapat keterlibatan sejarah secara menyeluruh.

Pada dasarnya Bildung itu adalah ‘kumpulan kenangan’ yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinya sendiri sebagai yang ideal. Mengingat peristiwa-peristiwa dunia dan melupakan perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggung jawab merupakan bagian dari sejarah hidup seseorang. Dengan demikian, menurut Gadamer, memori atau kenangan harus dibentuk, bahkan perbuatan ‘melupakan’ yang seringkali perbuatan yang tidak diinginkan, juga digunakan di dalam Bildung sehingga pikiran kita mempunyai kesempatan untuk mengadakan pembaruan secara menyeluruh atau total. Secara historis, orang mengembangkan kamampuan untuk memisahkan peristiwa-peristiwa utama dari hal-hal yang bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selama seni dan sejarah masuk dalam Bildung (kebudayaan), orang akan melihat dengan mudah hubungan antara Bildung dengan hermeneutik. Gadamer mengatakan, tanpa Bildung orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu kemanusiaan.

b) Sensus Communis

Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai ‘pendapat umum’ atau pendapat kebanykan orang pada umumnya. Sensus Communis mempunyai kesetaran arti dengan ekspresi dalam bahasa Prancis le born sens, yaitu pertimbangan praktis yang baik. Sejarawan memerlukan Sensus Communis semacam ini dengan mkasud untuk memahami arus yang mendasari pola sikap manusia. sejarah pada dasarnya tidak berbicara tentang seorang manusia yang terpencil, tetapi berbicara tentang kelompok manusia atau komunitas. Gadamer meminjam pandangan J.B Vico dalam usahanya untuk mengembangkan bagian terbesar dari humanistik. Menurut Vico, Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dala ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.[38]

Menurut gadamer seringkali Sensus Communis secara sederhana, yaitu dengan istilah “hati” atau “kalbu” atau “suara hati”, sebab dalam hubungan antar manusia untuk sering mempergunakan istilah “kebijaksanaan suara hati” dari pada akal budi untuk menciptakan pergaulan yang sehat. Sensus Communis mempunyai aspek moral. Dalam hal inilah yang dimaksudkan dengan istilah le bon sens. Contoh yang dapat menjelaskan hal ini sebagai berikut: apa yang harus kita lakukan pada saat melihat seorang petugas meninggal karena sengatan listrik dan tergantung di tiang listrik saat ia berusaha memperbaiki gardu listrik? Dalam keadaan seperti inilah kita memerlukan pertimbangan praktis yang baik.[39]

Dari uraian tersebut di atas, kita melihat pentingnya pandagan Gadamer tentang Sensus Communis untuk menangani metode interpretasi di dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.

c) Pertimbangan

Mungkin karena konsep ini berlangsung pada abad kedelapanbelas jerman sehingga konsep sensus communis sangat erat hubungannya dengan konsep pertimbangan (judgmen). Gesunder Mencshenverstand (‘kesadaran yang baik’) terkadang disebut gemeiner verstand, pada kenyataannya secara luas dicirikan dengan Pertimbangan. Menurut gadamer, perbedaan orang bodoh dan orang berakal bahwa yang pertama adalah tidak memiliki Pertimbangan, dengan kata lain tidak bisa menggolongkan dengan benar dan, oleh karena itu, tidak bisa menerapkan dengan benar apa yang dia pelajari dan ketahui.[40]

Pertimbangan adalah sifatnya universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranyamemiliki hal itu serta mempergunakannya sebagaimana mestinya. Menurut Gadamer Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Bila melalui Pertimbangan dan sensus communis orang memperkembangankan pandangan tentang kebaikan umum atau cinta kemanusiaan, maka atas pertimbangan tersebut orang dapat memilah-milah macam-macam peristiwa. Gadamer sepakat dengan Imanual Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang diperhubungkan dengan pengertian estetis. Dalam pandangan Kant, pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik, minimal dalam pandangan moralnya, sejauh orang ‘apa yang harus ia lakukan’ juga memiliki seni atau pandangan praktis. Gadamer melihat dalam pemikiran Kantian ini sebuah konsep kemanusiaan yang dapat diterapkan dalam hermeneutik dan interpretasi atas ilmu-ilmu tentang hidup.[41]

d) Selera

Konsep manusia yang terakhir ini juga sulit untuk dimengerti. Apa idealnya selera yang baik? Apa yang membuat seseorang memiliki cita rasa yang baik atas makanan (un hombre de buen gusto)? Mungkin orang langsung berpikir tentang selera tinggi sesorang. Namun banyak hal telah menunjukkan bahwa ratu atau pangeran atau orang-orang yang berkelimpahan hartanya memiliki selera itu hanya di mulut saja. Sebab pada kenyataannya, ‘selera’ sulit didefinisikan. Orang bisa saja punya selera, tetapi bisa juga tidak punya selera. Penyelidikan yang lebih jauh tentang selera akhirnya akan sampai pada fakta bahwa pandangan Gadamer dalam hal ini tidak bersangkut paut dengan kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Karena menurutnya orang bisa saja suka yang orang lain tidak suka terhadapnya.

Menurut gadamer selera sama dengan rasa, yaitu dalam pengoperasiaannya tidak tidak memakai pengetahuan akali. Jika selera menunjukkan reaksi negatif atas sesuatu, kita tidak tau sebabnya. Selanjutnya menurut Gadamer konsep selera ini tidak diragukan meliputi mode mengetahui. Melalui selera yang baik ini, kita bisa mundur dari kita sendiri dan prefensi pribadi kita. Jadi selera ini, menurut sifat esensialnya, bukan fenomena pribadi, melainkan fenomena sosial dari tatanan pertama.[42]

Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau perbedaan, tetapi kemampuan ini tidak mampu didemonstrasikan. Selera tidak terbatas pada apa yang indah secara alami dan di dalam seni, tetapi sebaliknya meliputi seluruh moralitas dan prilaku atau tabiat.[43]

Dalam hal ini pula Kant memberikan komentar tentang superioritas kecerdasan yang mengatasi semua aturan estetika. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selerapun yang dapat menilai seni. Menurut Kant, pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera.[44]

Dari empat konsep yang dikemukakan oleh Gadamer di atas, telah cukup memberikan kesadaran kepada kita bahwa hermeneutika adalah konsep pembaruan terhadap nilai-nilai dasar yang memiliki dialektika historis dalam hubungannya dengan nilai-nilai dasar manusia. Bildung misalnya menggambarkan adanya pengakuan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memahami teks-teks di luar dirinya, tanpa menghilangkan eksistensi teks tersebut. Apa fungsinya itu semua? Tidak lain hanyalah manusia harus mampu berdialektika dengan perubahan demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena manusia adalah mahluk yang dinamis dan mencintai perubahan.

5. Urgensi Bahasa dalam Hermeneutika Gadamer

Dalam bukunya, Gadamer juga membahas masalah bahasa. “mengerti” tidak mungkin tanpa bahasa. Dan karena “mengeti” bukan saja dijalankan dalam pergaulan dengan teks-teks masa lampau, tetapi merupakan sikap paling fundamental dalam eksistensi manusia,[45] maka harus disimpulkan bahwa masalah bahasa mempunyai relevansi ontologis dengan apa yang diharapkan dalam hermeneutik Gadamer.

Pemikiran Gadamer tentang bahasa merupakan bagian filsafatnya yang paling sulit dan paling banyak menimbulkan tanda tanya. Dalam hubungannya dengan bahasa salah satu yang sering ditekankan oleh Gadamer adalah bahwa bahasa tidak terutama mengekspresikan pemikiran tetapi obyek itu sendiri. Dalam hal ini ia bereaksi melawan setiap pandangan idealistis tentang bahasa. Menurut gadamer, bahasa berbicara tentang benda-benda dalam dunia; tidak boleh dikatakan bahwa bahasa merupakan suatu realitas subyektif yang menghalangi hubungan kita dengan benda-benda.[46] Dengan demikian, tidak ada perkataan yang dapat mengungkapkan suatu obyek dengan tuntas, melainkan oleh kelebihan manusiawi.

Menurut pendapat Gadamer, banyak problem tentang bahasa tidak dapat dipecahkan, jika orang berpegang teguh pada berpendirian bahwa bahasa merupakan “alat” saja. Tentu saja, bahasa adalah alat untuk kamunikasi dalam pergaulan antar manusia. Tetapi hal ini tidak boleh dianggap makna terdalam bahasa (suatu pendapat yang berkaitan erat dengan pemikiran heidegger tentang bahasa). Bahasa adalah lebih dari suatu sistem tanda-tanda saja. Pendirian yang beranggapan demikian, bertitik tolah dari adanya kata-kata yang memandang obyek-obyek sebagai sesuatu yang kita kenal lewat sumber lain.[47]

Jadi, dalam pemikiran Gadamer, antara kata dan benda terdapat kesatuan begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan-akan melekat pada benda. Demikian pun bahasa dan pemikiran bagi gadamer membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.

E. BAGAIMANA RELEVANSI HERMENEUTIKA GEORG GADAMER BAGI PENDIDIKAN ( ISLAM )

Paling tidak ada tiga sumbangan penting pemikiran Gadamer bagi dunia pendidikan. Pertama, keterbukaan terhadap yang lain. Hal ini bisa ditengarai dari konsep pemahaman Gadamer yang meniscayakan meleburnya latar belakang penafsir dalam dunia makna sehingga melahirkan pluralitas penafsiran. Di sinilah pentingnya keterbukaan terhadap yang lain dalam bingkai saling menghormati dan saling menghargai. Kedua, tidak fanatik terhadap paham atau mazhab yang dianut. Hal ini bisa dilihat dari sikap Gadamer yang tidak pernah melegitimasi sebuah penafsiran sebagai sesuatu yang benar. Sebab, menurut Gadamer, setiap pemahaman dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sang penafsir sehingga penafsiran dan pemahaman akan sebuah teks menjadi sangat beragam. Ketiga, semangat pendidikan untuk perubahan. Hal ini terinspirasi oleh proses pemahaman dan pembacaan terhadap teks yang menurut Gadamer tidak akan pernah berhenti. Proses ini meniscayakan sebuah pembaruan yang terus-menerus terhadap pengetahuan. Dengan semangat ini, seharusnya pendidikan bukan untuk mempertahankan status quo, tetapi untuk mencapai kemajuan di segala bidang.

Selanjutnya, penulis mempertanyakan apakah metode hermeneutika Gadamer visible untuk diintegrasikan ke dalam ilmu tafsir yang selama ini telah berkembang di kalangan ulama dan sarjana muslim? Penulis berasumsi bahwa ide-ide hermeneutik dapat diapalikasikan ke dalam ilmu tafsir, bahkan dapat memperkuat metode penafsiran Al-Qur’an. Dengan merujuk pada DR.Phil. Sahiron Syamsuddin, MA, bahwa ada beberapa alasan yang fundamental, antara lain:

1. Secara terminologi, hermeneutika ( dalam arti ilmu tentang “seni menafsirkan”) dan ilmu tafsir pada dasarnya tidaklah berbeda. Keduanya mengajarkan kepada kita bagaimana kita memahami dan menafsirkan teks secara benar dan cermat.

2. Yang membedakan antara keduanya, selain sejarah kemunculannya, adalah ruang lingkup dan obyek pembahasannya: hermeneutika, sebagaimana yang diungkapkan di atas, mencakup seluruh obyek penelitian dalam ilmu sosial dan humaniora (termasuk di dalamnya bahasa atau teks), sementara ilmu tafsir hanya berkaitan dengan teks. Teks sebagai obyek inilah yang mempersatukan antara hermeneutika dan ilmu tafsir.

3. Memang benar bahwa obyek utama ilmu tafsir adalah teks Alquran, sementara obyek utama hermeneutika pada awalnya adalah teks Bibel, di mana proses pewahyuan kedua kitab suci ini berbeda. Dalam hal ini, mungkin orang mempertanyakan dan meragukan ketepatan penerapan hermeneutika dalam penafsiran Alquran dan begitu pula sebaliknya. Keraguan ini bisa diatasi dengan argumentasi bahwa meskipun Alquran diyakini oleh sebagian besar umat Islam sebagai wahyu Allah secara verbatim, sementara Bibel diyakini umat Kristiani sebagai wahyu Tuhan dalam bentuk inspirasi, namun bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan ilahi kepada manusia adalah bahasa manusia yang bisa diteliti baik melalui hermeneutika maupun ilmu tafsir.

4. Setelah menelaah teori-teori hermeneutika Gadamer, peneliti berkeyakinan bahwa teori-teori tersebut dapat memperkuat konsep-konsep metodis yang selama ini telah ada dalam ilmu tafsir.[48]

F. K E S I M P U L A N

Gadamer boleh kita sebut sebagai hermeneut sejati. Gadamer secara mendasar menegaskan bahwa perseolah hermeneutik bukanlah persoalan tentang metode dan tidak mengajarkan tentang metode, tetapi lebih kepada usaha memahami dan mengintepretasikan sebuah teks, hermeneutik merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia. Dengan kata lain, hermeneutik model Gadamer ini adalah ketebukaan terhadap ‘yang lain’, apapun bentuknya, baik berupa teks, notasi musik ataupun karya seni. Hermeneutik menurut Gadamer adalah sungguh – sungguh sebuah seni.

Gagasan Gadamer tentang hermeneutika filosofis merupakan sebuah gebrakan dalam lapangan hermeneutik. Lewat karya monumentalnya Truth and Method yang lahir pada tahun 1960, Gadamer berhasil mentahbiskan diri sebagai seorang pemikir terkemuka dalam filsafat kontemporer. Dengan progresivitas pemikiran hermeneutik ala Gadamer, impian umat Islam untuk menggapai kejayaan peradaban akan segera terwujud. Sebab, imbas pemikiran Gadamer akan memberikan efek besar terhadap perubahan tradisi Islam yang selama ini terasa sangat kaku dan beku. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini perlu upaya “membumikan” pemikiran Gadamer di kalangan umat Islam yang tengah tertidur lelap. Wallahu a’lam

DAFTAR PUSTAKA

Almirzanah, Sahiron, (Editor), Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis: Teori dan Aplikasi, Yogyakarta, Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2009

E. Palmer, Penerjemah Musnur Huri dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Intepretasi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,2005

Gadamer, Truth and Methode ( Kebenaran dan Metode),Penerjemah Ahmad Sahidah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010

Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta, Rake Sasarin, 2005

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Paramadina, Jakarta, 1996

Bertens, K, Filsafat Barat Kontemporer : Inggris-Jerman, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002

Saenong, Ilham, B, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hasan Hanafi, TERAJU, Jakarta Selatan, 2002, hal: xxi

Sumaryono, Hermeutik: Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1999

Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutik dan Pengembangan Ulumul Qur’an, Yogyakarta, Pesantren Nawasea Press, 2009

________ Integrasi Hermeneutika Hans Georg Gadamer ke dalam Ilmu Tafsir? Sebuah Proyek Pengembangan Metode Pembacaan Al-Qur’an

http://dayatbanyuwangi.webnote.com/news/integrasi-hermeneutika-hans-george-gadamer-ke-dalam-ilmu-tafsir-/

http /rezaantonius.multiply.com/journal/item 243, Hermeneutika Hans- George Gadamer

http:// aa hidayat.wordpress.com/2010/06/hermenetika gadamer/


[1] M.Amin Abdullah, dalam Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hasan Hanafi, ( Jakarta, TERAJU, 2002) hlm: xxi

[2] Ibid,

[3]K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer : Inggris-Jerman, (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), cet. Ke IV, Hlm. 254

[4] E.Sumaryono, Hermeutik: Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta, Kanisius, 1999),hlm. 67

[5] Bertens, Filsafat Barat, hl m. 254

[6] ibid

[7] Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 67-68

[8] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer : Inggris-Jerman, hlm. 257

[9] http:// aa hidayat.wordpress.com/2010/06/hermenetika gadamer/

[10]E.Sumaryono, Hermeutik: Sebuah Metode Filsafat, hlm. 23.

[11] ibid

[12] Richard E. Palmer, Penerjemah Musnur Huri dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Intepretasi, ( Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005) cet.II, , hlm. 15-16

[13] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta, Paramadina, 1996) hlm. 13-14

[14] E.Palmer, Hermeneutika, hlm. 8

[15] K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 257

[16] Reza A.A Watimena, Hermeneutika Hans-Georg Gadamer,ttp/rezaantonius.multiply.com/journal/item 243

[17] Ibid, hlm. 258

[18] Ibid

[19] H. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, ( Yogyakarta, Rake Sasarin, 2005), cet. I, hlm. 26

[20] Hidayat, Memahami, hlm. 258

[21] Hans-Georg Gadamer, Truth and Methode ( Kebenaran dan Metode) Penerjemah, Ahmad Sahidah, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010) cet.II, hlm. 410

[22] E. Palmer, Hermeutika, 166

[23] ibid

[24]Sahiron Syamsuddin, Hermeneutik dan Pengembangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta, Pesantren Nawasea Press, 2009), hlm.46

[25] Ibid, hlm. 47

[26] ibid

[27] Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika Hans-George Gadamer dan Pengembangan Ulumul Qur’an dan Pembacaan Al-qur’an Pada Masa Kontemporer, dalam Syafa’atun Almirzanah dan Sahiron Syamsuddin (editor), Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis, ( yogyakarta, Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009), hlm. 38-39

[28] Ibid, hlm. 231

[29] ibid

[30] Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 69

[31] Gadamer, Philosophical Apprenticeships, 1985, hlm.179

[32] Gadamer, Truth, hlm.3

[33] Ibid, hlm. 5

[34] Sumaryono, hlm. 71

[35] K.Bertens, Filsafat Barat, hlm. 259

[36] Gadamer, Truth, hlm. 10

[37] ibid

[38] Ibid, hlm. 22

[39] Ibid, hlm. 26

[40] Ibid, hlm. 35

[41] Sumaryono, Hermeutik, hlm. 75

[42] Gadamer, Truth, hlm. 41

[43] Ibid

[44] E. Sumaryono, Hermeutik, hlm. 76

[45] Bertens, Filsafat, hlm. 266

[46] Ibid

[47] ibid

[48] Sahiron Syamsuddin, Integrasi Hermeneutika Hans Georg Gadamer ke dalam Ilmu Tafsir? Sebuah Proyek Pengembangan Metode Pembacaan Al-Qur’an, http://dayatbanyuwangi.webnote.com/news/integrasi-hermeneutika-hans-george-gadamer-ke-dalam-ilmu-tafsir-/

EPISTEMOLOGI HERMENEUTIKA HANS-GEORG GADAMER DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

A. PENDAHULUAN

Dalam satu atau dua dekade terakhir, perkembangan kajian hermeneutika di Indonesia sedang tumbuh subur dan “menggairahkan”, meskipun baru dalam dunia perguruan tinggi dan kalangan akademis. Perkembangan itu ditandai oleh beberapa kajian-kajian yang disuguhkan oleh sekian banyak peminat dan pecandu metode hermeneutika dalam epistemologi keilmuan untuk mengungkap misteri di balik fenomena teks-teks kitab suci. Di Perguruan Tinggi UIN Sunan KalijagaYogyakarta sendiri tidak sedikit dosen-dosen yang telah menghasilkan beberapa karya mereka sebagai bentuk konstribusi dalam mengembangkan paradigma epistemologis hermeneutik. Sebut saja M. Amin Abdullah, Sahiron Syamsudin, Yudian Wahyudi, dll. Sekalipun disisi lain konsep-konsep mereka menuai kritikan dan kontroversi.

Selain itu, proses hermeneutik pun dari waktu ke waktu semakin berkembang mengikuti alur dialektika manusia yang semakin kompleks dan terbuka di dalam memahami pesan-pesan ketuhanan. Dalam perkembangannya, hermeneutik memiliki tiga model, yaitu hermeneutik sebagai cara atau hermeneutik teoritis, hermeneutik sebagai cara untuk memahami pemahaman atau hermeneutika filosofis, hermeneutik sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman atau hermeneutik kritis.

Problema hermeneutik dalam kajian agama, lebih- lebih filsafat, makin bertambah penting mengingat penafsiran ulang terhadap suatu teks. Dalam proses menerjemahkan ( baca: menafsirkan) tersebut terdapat faktor memahami dan menerangkan sebuah pesan ke dalam medium bahasa. Inilah sesungguhnya rahim historisitas yang kemudian melahirkan hermeneutik. Akan tetapi, proses hermeneutik tidak sekedar memahami, menerjemahkan, dan menjelaskan sebuah pesan. Namun di balik proses hermeneutik berjubel-jubel elemen lain yang saling berkait, seperti praanggapan, tradisi, dialektika, bahasa, dan realitas.

Secara historis, penggunaan hermeneutika dapat ditemukan dalam karya-karya klasik pemikir Yunani kuno, seperti tulisan Aristoteles Peri Hermenias atau de intepretatione. Minat utama Aristoteles dan pemikir-pemikir masa tersebut adalah intepretasi terhadap ungkapan-uangkapan, baik lisan maupun tulisan, yang dilakukan oleh orang yang berbeda-beda. Asumsi hermeneutika pada masa tersebut bersifat personal, bahwa setiap orang mempunyai pengalaman-pengalaman mental sendiri-sendiri sehingga berpengaruh terhadap cara pengungkapan dan gaya bahasa yang berbeda pula. Oleh karena itu, tujuan hermeneutika pada masa itu antara lain untuk memahami bentuk-bentuk ekspresi manusiawi dari peristiwa mental manusia.[1]

Dengan berkembangnya diskursus filsafat ke arah postmodernisme, hermeneutika mulai berperan sebaga salah satu disiplin yang sangat kritis terhadap metodologi memahami teks dan realitas. Ia tidak lagi sebagai teori penafsiran, akan tetapi menempatkan diri sebagi kritikus metode penafsiran. Hermeneutika di sini mulai berubah menjadi “metateori tentang teori intepretasi”.[2]

Olek karena itu, Dalam makalah ini, penulis tidak akan membahas secara keseluruhan tentang konsep-konsep hermeneutika yang dikembangkan oleh beberapa filosof, tapi akan dibatasi pada pemikiran Epistemologi Hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Alasannya agar kita lebih fokus memahami hasil karya besar seorang Hans-Georg Gadamer yang ditulis dalam buku “ Truth and Methode “ dan karya-karyanya yang lain, yang kemudian akan dikembangkan dalam konteks relevansinya bagi pendidikan ( Islam ).

B. SEKILAS TENTANG BIOGRAFI HANS – GEORG GADAMER

Hans-George Gadamer dilahirkan pada 11 Februari di Kota Bresleu dimana ayahnya bekerja pada universitas selaku profesor kimia.[3] Ada juga yang mengatakan bahwa Gadamer lahir di Malburg[4]. Ayahnya dipandang sebagai ahli terpandang di bidangnya. Di mata ayah Gadamer, filsafat dan kesusanstraan dan humaniora secara umum bukan merupakan ilmu pengetahuan yang serius. Tetapi Hans-Georg Gadamer justru merasa tertarik akan humaniora dan khususnya filsafat, sehingga dalam pilihannya itu ia selalu dalam posisi yang berseberangan dengan ayahnya.[5]

Gadamer mulai mempelajari filsafat di Universitas Bresleu, tetapi ketika beberapa bulan ayahnya dipindahkan ke Marburg dan ia melanjutkan studinya di sana. Di Malburg ia mengikuti kuliah beberapa filsuf besar seperti Paul Natorp dan Nicolai Hartman serta berkenalan juga dengan teolog protestan ternama Rudolf Bultman, salah seorang pemikir berpengaruh di bidang hermeneutika. Pada tahun 1922 ia meraih gelar “doktor filsafat” dengan sebuah disertasi tentang Plato yang dikerjakan dibawah bimbingan Paul Nartop. [6] Gadamer sangat mengagumi pemikiran Heidegger dan rasa respek itu akan berlangsung terus menerus sepanjang hidupnya. Dari Heidegger ia belajar secara khusus bahwa konsep-konsep filosofis mempunyai suatu sejarah panjang yang dapat ditelusuri mulai dengan munculnya pertama kali dalam pemikiran Yunani.

Menjelang masa pensiunnya pada tahu 1960, karier filsafat gadamer justru mencapai puncaknya, yaitu melalui publikasi bukunya yang berjudul “ Kebenaran dan Metode “ Wahrheit und Methode. Karya ini merupakan dukungan yang sangat berharga bagi karya Heidegger yang berjudul “ sein und Zeit ”(being and Time). Bahkan gagasan Gadamer cukup berpengaruh pula dalam ilmu-ilmu kemanusia seperti misalnya dalam sosiologi, teori kesusastraan, teologi, sejarah, hukum dan bahkan dalam filsafat pengetahuan umum.[7] Hingga akhirnya Gadamer menutup usianya pada tahun 2002 dengan meninggalkan banyak karya terutama dalam bidang filsafat.

C. TERMINOLOGI HERMENEUTIKA SECARA UMUM

Secara etimologis, kata ‘hermeneutika’ berasal dari kata kerja Yunani hermeneuo yang berarti mengartikan, mengintepretasikan, menafsirkan, menerjemahkan. Baru dalam abad 17 dan ke 18 istilah ini mulai dipakai untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti dalam mengerti dan menafsirkan dengan tepat suatu teks dari masa lampau, khususnya kitab suci dan teks-teks klasik. [8] Sedangkan dalam bahasa inggrisnya hermeneutics yang berarti mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata.[9] Dari beberapa makna ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutik adalah ‘usaha untuk beralih dari suatu yang relatif gelap kepada sesuatu yang lebih terang’ atau ‘proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti’.[10]

Istilah hermeneutik dalam bahasa Yunani mengingatkan kita pada tokoh mitologis yang bernama hermes, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan jupiter kepada manusia. Hermes digambarkan sebagai seseorang yang yang mempunyai kaki bersayap, dan lebih banyak dikenal sebagai sebutan mercurius dalam bahasa latin. Tugas hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. jadi, fungsi hermes adalah penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi umat manusia. oleh karena itu, Hermes harus mampu mengintepretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itu, Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu.[11]

Sebetulnya, secara teologis, peran Dewa Hermes dalam mitilogi Yunani bisa dianalogikan dengan peran Nabi utusan Tuhan. Tugas nabi sebagai utusan, sebagai penerang sekaligus penghubung untuk menyampaikan pesan dan atau ajaran dari Tuhan kepada umat manusia. Dalam mediasi dan proses menyampaikan pesan, yang disandarkan kepada Hermes ini, tercakup dalam 3 (tiga) bentuk makna dasar hermeneuin dan hermenia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk kata kerja hermeneuin, ialah: 1. Mengungkapkan kata-kata, 2. Menjelaskan suatu kondisi, dan 3. Menerjemahkan bahasa Asing. Ketiga makna tadi, bisa diwakili kata kerja bahasa inggris to interpret, yang membentuk makna independen dan signifikan bagi intepretasi. Karena itu, intepretasi mengacu ke 3 (tiga) persoalan berbeda, yaitu: 1. Pengucapan lisan, 2. Penjelasan yang masuk akal, dan 3. Penerjemahan dari bahasa lain.[12]

Menurut Komaruddin Hidayat, ada masalah, bagaimana meneruskan maksud Allah yang sesungguhnya kepada manusia. begitu pula, bagaimana menerangkan isi sebuah teks agama kepada manusia yang hidup dalam tempat dan waktu yang jauh berbeda dari pihak penulisnya.[13] Dengan demikian, menurut R. Palmer agaknya tidaklah berlebihan, bahwa hermeneutika adalah studi pemahaman teks. Dan ada 2 (dua) fokus perhatian di sini; yaitu 1) Peristiwa pemahaman teks, dan 2) Persoalan yang mengarah mengenai apa pemahaman dan intepretasi itu.[14]

D. BEBERAPA PEMIKIRAN HERMENEUTIKA HANS-GEORG GADAMER

Hans-George Gadamer adalah penulis kontemporer dalam bidang hermeneutik yang sangat terkemuka. Karyanya yang berjudul Wahrheit Und Methode (bahasa jerman) dalam bahasa Inggris Truth and Methode ( Kebenaran dan Metode) banyak beredar di perpustakaan-perpustakaan dan sirkulasi filsafat.

Menurut K. Bertens, dalam filsafat dewasa ini, kata hermeneutika sering digunakan dalam arti yang luas sekali dan juga menyangkut hampir seluruh tema filosofis tradisional, sejauh berkaitan dengan masalah bahasa. Inti filsafat ini berefleksi tentang mengerti (verstehen).[15] Dalam hal ini Gadamer melanjutkan pendapat Heidegger sebagai filosof yang ia kagumi pemikiran-pemikirannya tentang hermeneutika. Mengerti oleh Heidegger dalam buku ‘ada dan waktu’, harus dipandang sebagai sikap yang paling fundamental dalam keberadaan manusia. Artinya, mengerti itu adalah cara berada manusia sendiri dan menyangkut semua pengalaman manusia. justru itulah hermeneutika memiliki problem universal.

Di dalam hidupnya, manusia selalu mencari arah baru yang dituju. Untuk menemukan arah yang tepat, manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. Hanya dengan memahami diri secara tepat manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. Dalam proses merumuskan filsafatnya, Gadamer sangat terpengaruh oleh filsafat Heidegger, terutama tentang fenomenologi adanya. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger, yaitu proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. Gadamer memfokuskan hermeneutiknya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. untuk memahami manusia menurutnya, orang harus peduli dan memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya, tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu.[16]

Gadamer menekankan, bahwa mengerti mempunyai struktur lingkaran. Maksudnya, agar seorang dapat mengerti, maka harus ada pengertian. Untuk mencapai pengertian, satu satunya cara ialah bertolak dari pengertian. Misalnya, untuk mengerti suatu teks, mesti ada pengertian tertentu tentang apa yang dibicarakan dalam teks itu. Tanpa hal tersebut, tidak mungkin seseorang memperoleh pengertian-pengertian tentang teks tersebut. Tetapi dilain pihak dengan membaca teks itu prapengertian terwujud menjadi pengetian yang sungguh-sungguh. Proses itulah yang disebut oleh Gadamer dan Heidegger sebagai “hermeneutika lingkaran”. Tetapi tidak dapat di tarik kesimpulan bahwa lingkaran itu baru timbul jika kita membaca teks-teks. Lingkaran ini sudah terdapat pada taraf yang paling fundamental. Lingkaran ini menandai eksistensi diri kita sendiri. “M\engerti” dunia hanya mungkin, kalau ada prapengertian tentang dunia dan tentang diri kita sendiri. Tetapi lingkaran ini tidak merupakan suatu “lingkaran setan”, melainkan justru memungkinkan eksistensi kita.[17]

Reza A.A Watimena dalam tulisannya “Hermeneutika Hans-George Gadamer” mengilustrasikan pandangan Gadamer bahwa, pengertian melibatkan persetujuan. Untuk mengerti juga untuk setuju. Di dalam bahasa Inggris, kalimat yang familiar dapat dijadikan contoh, “we Understand each other”. kata understand bisa berarti mengerti atau memahami, dan bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. Lanjut Watimena dengan mengutip pendapat Grondin, ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. Pertama, bagi Gadamer, untuk memahami juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Di dalam proses pemahaman itu, pembaca dan penulis teks memiliki kesamaan pengertian dasar ( basic Understanding ) tentang makna tersebut. Misalnya saya membaca teks tulisan Imanuel Kant, ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant, namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. Kedua, menurut Gadamer, setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog, baik aktual fisik, ataupun dialog ketika kita membaca suatu teks tulisan tertentu. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia ( linguistic elements of understanding ). Dalam arti ini untuk memahami berarti merumuskan sesuatu dengan kata-kata, dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa.[18] Jadi peran memahami bahasa dalam hal ini sangatlah penting.

Sementara itu Noeng Muhadjir dalam bukunya, pemaknaan bahasa dapat juga disebut sebagai logika linguistic. Kebenaran dicari dengan menganalisis makna simbolik dengan pembacaan heuristik atau pembacaan hermeneutik. Pemaknaan hermeneutik biasanya mengacu pada sumber tunggal, mungkin budaya, mungkin arti bahasa, mungkin otoritas lain. Pemaknaan hermeneutik yang sekarang ini sedangkan berkembang menurutnya adalah pemaknaan hermeneutik dekonstruksi, dimana menolak acuan tunggal kemudian mengembangkan pemaknaan kreatif dan baru.[19]

Dalam lingkaran hermeneutik, dengan mengambil contoh kongkrit umat Islam, ada trilogi yang bersifat fungsional organik. Pertama, teks Al-qur’an sebagai teks yang senantiasa hadir, sebagai objek kajian. Kedua, pembacaan atau pengucapan ayat (teks) Al-Qur’an yang dilaksanakan tiap hari dalam ibadah. Ketiga, tradisi umat Islam yang terbentuk dan terus bertahan sejak masa nabi Muhammad sampai dengan hari ini. Trilogi tersebut telah melahirkan lingkaran hermeneutika. Artinya, Al-Qur’an telah membidani lahirnya komunitas pembaca. Kemudian komunitas pembaca menciptakan tradisi Islami. Lantas, atas dasar tradisi Islami yang diterima, umat Islam menafsirkan Al-Qur’an. Tradisi tersebut telah mampu menciptakan lingkaran hermeneutika sedemikian rupa dan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun.[20]

Meskipun demikian, bukanlah hal yang mudah untuk memahami karya-karya Gadamer, bahkan juga untuk menerjemahkannya; disini kita perlu kerja keras. Sebagai contoh misalnya untuk memahami gagasan tentang “ kesadaran historis yang efektif” (Wirkungsgeschichtliche Bewusstsein)[21] banyak membuat para pembacanya bingung.

Ada dua hal yang kiranya dapat dikatakan sebagai sumber kompleksitas atau kesulitan dalam memahami karya-karya Gadamer, yaitu : Pertama, filsafat Gadamer menurut faktanya juga didasarkan pada pemikiran hermeneutik. Argumen Gadamer sangat mengandalkan analisis kritisnya tentang bahasa, kesadaran historis, serta pengalaman tentang estetika.[22] Untuk memahami analisisnya itu kita bisa melihatnya pada hermeneutikstret dimana kita dihadapkan pada keraguan apakah analisis itu menghapus sama sekali dasar-dasar hermeneutiknya atau menunjukkan kepada kita bahwa gagasan Gadamer itu pada faktanya lebih abstrak, lebih tidak historis, dan lebih orosinal. Kedua, Dalam Truth and Method, menampilkan kesatuan (gagasan) yang tanpa garis batas dan ketertutupan tanpa penjabaran. Gagasan itu menerangkan tentang distingsi/ pembedaan yang tanpa disertai pemisahan/pemilahan perbedaan. Gadamer tidak berpikir dalam “kalimat-kalimat pernyataan” ataupun proposisi, melainkah lebih mengarah kepada “berpikir melalui bertanya”.[23]

Dibawah ini penulis akan menjelaskan beberapa pemikiran-pemikiran pokok hermeneutik Hans-Georg Gadamer, antara lain :

1. Teori “ Prapemahaman” ( Vorverstandnis; pre-understanding)

Pengaruh situasi hermeneutik atau Wirkungsgeschichte tertentu membentuk pada diri seorang penafsir apa yang disebut oleh Gadamer dengan istilah Vorverstandnis; pre-understanding atau “prapemahaman” terhadap teks yang ditafsirkan. Prapemahaman (praanggapan) yang merupakan posisi awal penafsir memang pasti dan harus ada ketika kita membaca teks.[24] Ini memungkinkan adanya obyektifitas di dalam memahami pesan-pesan yang disampaikan dalam teks tersebut. Oleh karena itu, menurut penulis, bahwa sebelum penafsir melakukan intepretasi terhadap makna teks, paling tidak harus memiliki prapemahaman agar tidak terjebak dalam situasi yang “keliru”. Apalagi tidak memiliki pengetahuan tentang itu sebelumnya. Disinilah letak pentingnya prapemahaman tersebut.

Gadamer menjelaskan dalam bukunya secara gamblang tentang ini, sebagaimana diungkapnnya:

Immer ist im Verstehen ein Vorverständnis im Spiel, das seinerseits durch die bestimmende Tradition, in der der Interpret steht, und durch die in ihr geformte Vorurteile geprägt ist.

(Dalam proses pemahaman prapemahaman selalu memainkan peran; prapemahaman ini diwarnai oleh tradisi yang berpengaruh, dimana seorang penafsir berada, dan juga diwarnai oleh prejudis-prejudis [Vorurteile; perkiraan awal] yang terbentuk di dalam tradisi tersebut).[25]

Menurut sahiron Syamsudin, keharusan adanya prapemahaman tersebut, dimaksudkan agar seorang penafsir mampu mendialogkannya dengan isi teks yang ditafsirkan. Tanpa prapemahaman seseorang tidak akan berhasil memahami teks secara baik. Kaitannya dengan hal ini, wajarlah bahwa Oliver R. Scholz dalam bukunya Verstehen und Rationalität berpendapat bahwa prapemahaman yang disebutnya dengan istilah Präsumtion (“asumsi atau dugaan awal”) merupakan “sarana yang tak terelakkan bagi pemahaman yang benar” (unentbehrliche Mittel für das richtige Verstehen). Meskipun demikian, prapemahaman, menurut Gadamer, harus terbuka untuk dikritisi, direhabilitasi dan dikoreksi oleh penafsir itu sendiri ketika dia sadar atau mengetahui bahwa prapemahamannya itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh teks yang ditafsirkan. Hal ini sudah barang tentu dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap pesan teks. Hasil dari rehabilitasi atau koreksi terhadap prapemahaman ini disebutnya dengan istilah Vollkommenheit des Vorverständnisses (“kesempurnaan prapemahaman”).[26]

2. Teori “Penggabungan / Asimilasi Horison” dan Teori “Lingkaran Hermenutik”

Di dalam menafsirkan teks seseorang harus selalu berusaha merehabilitasi prapemahamannya. Hal ini berkaitan erat dengan teori “penggabungan atau asimilasi horison”, dalam arti bahwa dalam proses penafsiran seseorang harus sadar bahwa ada dua horison, yakni (1) “cakrawala [pengetahuan]” atau horison di dalam teks, dan (2) “cakrawala [pemahaman]” atau horison pembaca. Kedua horison ini selalu hadir dalam proses pemahaman dan penafsiran. Seorang pembaca teks memulainya dengan cakrawala hermeneutiknya, namun dia juga memperhatikan bahwa teks juga mempunyai horisonnya sendiri yang mungkin berbeda dengan horison yang dimiliki pembaca. Dua bentuk horison ini, menurut Gadamer, harus dikomunikasikan, sehingga “ketegangan antara keduanya dapat diatasi” (the tension between the horizons of the text and the reader is dissolved). Oleh karena itu, ketika seseorang membaca teks yang muncul pada masa lalu (Überlieferung), maka dia harus memperhatikan horison historis, di mana teks tersebut muncul: diungkapkan atau ditulis. Gadamer menegaskan:

Eine Überlieferung verstehen, verlangt also gewiss historischen Horizont. Aber es kann sich nicht darum handeln, dass man diesen Horizont gewinnt, indem man sich in eine historische Situation versetzt. Mann muss vielmehr immer schon Horizont haben, um sich dergestalt in eine Situation versetzen zu können.

(Memahami sebuah teks masa lalu sudah barang tentu menuntut [untuk memperhatikan] horison historis. Namun, hal ini tidak berarti bahwa seseorang dapat mengetahui horison ini dengan cara menyelam ke dalam situasi historis. Lebih dari itu, orang harus terlebih dahulu sudah memiliki horison [sendiri] untuk dapat menyelam ke dalam situasi historis)

Seorang pembaca teks harus memiliki keterbukaan untuk mengakui adanya horison lain, yakni horison teks yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan horison pembaca. Gadamer menegaskan: “Saya harus membiarkan teks masa lalu berlaku [memberi informasi tentang sesuatu]. Hal ini tidak semata-mata berarti sebuah pengakuan terhadap ‘keberbedaan’ (Andersheit) masa lalu, tetapi juga bahwa teks masa lalu mempunyai sesuatu yang harus dikatakan kepadaku.” Jadi, memahami sebuah teks berarti membiarkan teks yang dimaksud berbicara. Interaksi antara dua horison tersebut dinamakan “lingkaran hermeneutik” (hermeneutischer Zirkel). Horison pembaca, menurut Gadamer, hanya berperan sebagai titik berpijak (Standpunkt) seseorang dalam memahami teks. Titik pijak pembaca ini hanya merupakan sebuah ‘pendapat’ atau ‘kemungkinan’ bahwa teks berbicara tentang sesuatu. Titik pijak ini tidak boleh dibiarkan memaksa pembaca agar teks harus berbicara sesuai dengan titik pijaknya. Sebaliknya, titik pijak ini justru harus bisa membantu memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Di sinilah terjadi pertemuan antara subyektifitas pembaca dan obyektivitas teks, di mana makna obyektif teks lebih diutamakan. [27]

3. Struktur Pengalaman dalam kebenaran epistemologi Hermeneutika Gadamer

Gadamer mulai menguji pengalaman hermeneutisnya dengan mengkritisi konsep pengalaman, dimana dia menemukan konsep pengalaman yang ada terlalu berorientasi ke arah pengetahuan sebagai bentuk perasaan dan pengetahuan sebagai jasad data konseptual. Dengan kata lain, kita saat ini cenderung mendefinisikan pengalaman dalam bentuk pengetahuan sains dan tidak mengindahkan historisitas pengalaman. Jika demikian halnya, kita secara tidak sadar memenuhi tujuan ilmu, yaitu “mengobyektifkan pengalaman yang meniadakan ragam peristiwa historis terhadapnya.” Melalui kekuatan metodis eksprementasi sains menjadikan obyek keluar dari peristiwa historisnya dan merekstrukturisasikannya untuk sesuai dengan metode. Tujuan analogisnya, menurut Gadamer, dipakai dalam teologi dan filologi dengan “metode ktiris historis”, yang dalam beberapa bagian merefleksikan kebiasaan sains untuk membuat sesuatu menjadi obyektif dan jelas (bersifat verifikasi). Sejauh ini berlaku, apa yang nampak (dapat deverifikasi) adalah nyata; tak ada ruang pun lepas dari sisi pengalaman non obyektif dan historis. [28]

Pengalaman sering mendorong perasaan baru dan pemahaman baru. Ia senantiasa dapat dipelajari, dan tak seorangpun yang dapat menutupinya pada kita. Kita ingin menyelamatkan anak kita dari pengalaman pahit yang kita sendiri mengalaminya, dari anak-anak kita tidak akan menghindar dari pengalaman itu sendiri, pengalaman merupakan sesuatu yang dimiliki bagi historis manusia. Karakter pengalaman dialektis direflesikan dalam gerakan dan perjumpaannya dengan negativitas yang diperoleh dalam seluruh kebenaran tindakan penalaran. Gadamer sejauh ini mengatakan bahwa dalam seluruh pengalaman, struktur penalaran dipra-anggapkan. [29]

Sementara itu, bagi Gadamer fokus dari pengalaman tentang bagaimana menemukan kebenaran dalam hermeneutika adalah menemukan pokok permasalah yang diungkapkan oleh teks. Namun musuh utama dari penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. Prasangka membuat orang melihat apa yang mereka ingin lihat, yang biasa negatif dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri, baik kebenaran di level eksistensi manusia maupun kebenaran maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks.

Walaupun bukunnya berjudul Truth and Methode, namun sebenarnya Gadamer tidak bermaksud menjadikan hermeneutik sebagai metode dan berada jauh dari kebenaran. Yang ingin ia tekankan adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Sebab menurut Gadamer, kebenaran menerangi metode-metode individual, sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. Gadamer ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode melainkan melalui dialektika. Sebab di dalam proses dialektik kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara bebas lebih banyak kemungkinannya dibandingkan dengan dalam proses metodis.[30] Pada dasarnya, metode adalah struktur yang dapat membekukan dan memanipulasi unsur-unsur yang memudahkan prosedur tanya jawab, sedangkan proses dialektika tidaklah demikian.

Pada prinsipnya Gadamer menolak konsep hermeneutik sebagai metode. Meskipun hermeneutik menurut dia adalah adalah pemahaman, namun ia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (magang filsafat) ia menulis sebagai berikut : Dapatkah sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensi manusia dalam penalarannya.[31]

4. Konsep tentang Seni (humaniora) dalam Hermeneutika Gadamer

Refleksi-diri logis yang menyertai perkembangan ilmu-ilmu humaniora (seni) pada abad ke Sembilanbelas sepenuhnya didominasi oleh ilmu-ilmu pengetahuan alam. Penglihatan pada sejaran kata Geisteswissenschaften menujukkan hal ini, meskipun makna kata ini hanya dikenal dalam bentuk jamaknya. Ilmu-ilmu humaniora (Geisteswissenschaften) dengan sangat jelas memahami dirinya dari analoginya dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam.[32] Jenis pengetahuan apakah yang memahami segala sesuatu adalah demikian karena ia memahami bahwa ia terjadi demikian? Meskipun seseorang mengakui bahwa ideal dari pengetahuan ini karekter dan maksudnya secara fundamental berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam, seseorang akan masih tergoda untuk mengambarkan jenis pengetahuan ini dengan cara yang semata-mata negatif sebagai ilmu pengetahuan yang eksak.[33] Seakan-akan Gadamer ingin mengatakan bahwa yang dimaksud itu adalah ilmu kesenian (humaniora : termasuk sejarah, musik, sosial,dll).

Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alasan di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran, tetapi bukan kebenaran yang diperoleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya “menentang semua jenis penalaran”. Sebagai contoh misalnya di dalam melukis, garis-garis ditarik miring pada saat seharusnyaditarik lurus, atau campuran warna yang tidak menurut kombinasi yang lazim, seringkali dapat menghasilkan efek kenikmatan estetis. Juga di dalam musik, satu bait melodi dapat mengumandangkan perasaan estetis.[34] Gadamer menganalisis perkembangan dalam ilmu pengetahuan alam mengakibatkan perubahan juga dalam penilaian dalam penilaian manusia terhadap bentuk-bentuk pengenalan yang lain, misalnya pengenalan estetis. Dengan demikian kata Gadamer, pengalaman estetis menjauhkan diri dari realitas dan ia ingin memperlihatkan bahwa karya seni betul-betul menyingkap kebenaran kepada kita (dalam hal ini ia menggunakan pendapat Heidegger tentang kesenian) dan membuat kita mengerti. Karena itu kesenianpun termasuk wilayah hermeneutika, sejauh hermeneutika membicarakan bagaimana manusia mencapai pengertian tentang yang ada. [35]

Ada empat konsep penting Gadamer dalam membahas tentang konsep seni manusia dalam memperkaya nilai-nilai estetik hermeneutik. Empat konsep tersebut, antara lain :

a) Bildung

Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah, weltanschauung (pandangan dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi atau ungkapan, gaya, simbol, yang kesemuanya itu kita mengeti sebagai istilah-istilah dalam sejarah. [36] Kata bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari pada sekedar “kultur” atau kebudayaan. Dengan mengutip pendapat Wilhelm, Gadamer menyatakan bahwa Bildung sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mengarah kepada batin yaitu tingkah laku pikiran kita sendiri yang mengalir secara harmonis dari pengetahuan dan perasaan tentang seluruh usaha moral dan intelektual ke dalam sensibilitas (kemampuan merasakan) dan karakter.[37]

Seperti alam, Bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya sendiri. Bildung sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan intepretasi ilmu-ilmu kemanusiaan, karena di dalam Bildung terdapat keterlibatan sejarah secara menyeluruh.

Pada dasarnya Bildung itu adalah ‘kumpulan kenangan’ yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinya sendiri sebagai yang ideal. Mengingat peristiwa-peristiwa dunia dan melupakan perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggung jawab merupakan bagian dari sejarah hidup seseorang. Dengan demikian, menurut Gadamer, memori atau kenangan harus dibentuk, bahkan perbuatan ‘melupakan’ yang seringkali perbuatan yang tidak diinginkan, juga digunakan di dalam Bildung sehingga pikiran kita mempunyai kesempatan untuk mengadakan pembaruan secara menyeluruh atau total. Secara historis, orang mengembangkan kamampuan untuk memisahkan peristiwa-peristiwa utama dari hal-hal yang bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selama seni dan sejarah masuk dalam Bildung (kebudayaan), orang akan melihat dengan mudah hubungan antara Bildung dengan hermeneutik. Gadamer mengatakan, tanpa Bildung orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu kemanusiaan.

b) Sensus Communis

Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai ‘pendapat umum’ atau pendapat kebanykan orang pada umumnya. Sensus Communis mempunyai kesetaran arti dengan ekspresi dalam bahasa Prancis le born sens, yaitu pertimbangan praktis yang baik. Sejarawan memerlukan Sensus Communis semacam ini dengan mkasud untuk memahami arus yang mendasari pola sikap manusia. sejarah pada dasarnya tidak berbicara tentang seorang manusia yang terpencil, tetapi berbicara tentang kelompok manusia atau komunitas. Gadamer meminjam pandangan J.B Vico dalam usahanya untuk mengembangkan bagian terbesar dari humanistik. Menurut Vico, Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dala ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.[38]

Menurut gadamer seringkali Sensus Communis secara sederhana, yaitu dengan istilah “hati” atau “kalbu” atau “suara hati”, sebab dalam hubungan antar manusia untuk sering mempergunakan istilah “kebijaksanaan suara hati” dari pada akal budi untuk menciptakan pergaulan yang sehat. Sensus Communis mempunyai aspek moral. Dalam hal inilah yang dimaksudkan dengan istilah le bon sens. Contoh yang dapat menjelaskan hal ini sebagai berikut: apa yang harus kita lakukan pada saat melihat seorang petugas meninggal karena sengatan listrik dan tergantung di tiang listrik saat ia berusaha memperbaiki gardu listrik? Dalam keadaan seperti inilah kita memerlukan pertimbangan praktis yang baik.[39]

Dari uraian tersebut di atas, kita melihat pentingnya pandagan Gadamer tentang Sensus Communis untuk menangani metode interpretasi di dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.

c) Pertimbangan

Mungkin karena konsep ini berlangsung pada abad kedelapanbelas jerman sehingga konsep sensus communis sangat erat hubungannya dengan konsep pertimbangan (judgmen). Gesunder Mencshenverstand (‘kesadaran yang baik’) terkadang disebut gemeiner verstand, pada kenyataannya secara luas dicirikan dengan Pertimbangan. Menurut gadamer, perbedaan orang bodoh dan orang berakal bahwa yang pertama adalah tidak memiliki Pertimbangan, dengan kata lain tidak bisa menggolongkan dengan benar dan, oleh karena itu, tidak bisa menerapkan dengan benar apa yang dia pelajari dan ketahui.[40]

Pertimbangan adalah sifatnya universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranyamemiliki hal itu serta mempergunakannya sebagaimana mestinya. Menurut Gadamer Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Bila melalui Pertimbangan dan sensus communis orang memperkembangankan pandangan tentang kebaikan umum atau cinta kemanusiaan, maka atas pertimbangan tersebut orang dapat memilah-milah macam-macam peristiwa. Gadamer sepakat dengan Imanual Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang diperhubungkan dengan pengertian estetis. Dalam pandangan Kant, pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik, minimal dalam pandangan moralnya, sejauh orang ‘apa yang harus ia lakukan’ juga memiliki seni atau pandangan praktis. Gadamer melihat dalam pemikiran Kantian ini sebuah konsep kemanusiaan yang dapat diterapkan dalam hermeneutik dan interpretasi atas ilmu-ilmu tentang hidup.[41]

d) Selera

Konsep manusia yang terakhir ini juga sulit untuk dimengerti. Apa idealnya selera yang baik? Apa yang membuat seseorang memiliki cita rasa yang baik atas makanan (un hombre de buen gusto)? Mungkin orang langsung berpikir tentang selera tinggi sesorang. Namun banyak hal telah menunjukkan bahwa ratu atau pangeran atau orang-orang yang berkelimpahan hartanya memiliki selera itu hanya di mulut saja. Sebab pada kenyataannya, ‘selera’ sulit didefinisikan. Orang bisa saja punya selera, tetapi bisa juga tidak punya selera. Penyelidikan yang lebih jauh tentang selera akhirnya akan sampai pada fakta bahwa pandangan Gadamer dalam hal ini tidak bersangkut paut dengan kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Karena menurutnya orang bisa saja suka yang orang lain tidak suka terhadapnya.

Menurut gadamer selera sama dengan rasa, yaitu dalam pengoperasiaannya tidak tidak memakai pengetahuan akali. Jika selera menunjukkan reaksi negatif atas sesuatu, kita tidak tau sebabnya. Selanjutnya menurut Gadamer konsep selera ini tidak diragukan meliputi mode mengetahui. Melalui selera yang baik ini, kita bisa mundur dari kita sendiri dan prefensi pribadi kita. Jadi selera ini, menurut sifat esensialnya, bukan fenomena pribadi, melainkan fenomena sosial dari tatanan pertama.[42]

Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau perbedaan, tetapi kemampuan ini tidak mampu didemonstrasikan. Selera tidak terbatas pada apa yang indah secara alami dan di dalam seni, tetapi sebaliknya meliputi seluruh moralitas dan prilaku atau tabiat.[43]

Dalam hal ini pula Kant memberikan komentar tentang superioritas kecerdasan yang mengatasi semua aturan estetika. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selerapun yang dapat menilai seni. Menurut Kant, pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera.[44]

Dari empat konsep yang dikemukakan oleh Gadamer di atas, telah cukup memberikan kesadaran kepada kita bahwa hermeneutika adalah konsep pembaruan terhadap nilai-nilai dasar yang memiliki dialektika historis dalam hubungannya dengan nilai-nilai dasar manusia. Bildung misalnya menggambarkan adanya pengakuan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memahami teks-teks di luar dirinya, tanpa menghilangkan eksistensi teks tersebut. Apa fungsinya itu semua? Tidak lain hanyalah manusia harus mampu berdialektika dengan perubahan demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena manusia adalah mahluk yang dinamis dan mencintai perubahan.

5. Urgensi Bahasa dalam Hermeneutika Gadamer

Dalam bukunya, Gadamer juga membahas masalah bahasa. “mengerti” tidak mungkin tanpa bahasa. Dan karena “mengeti” bukan saja dijalankan dalam pergaulan dengan teks-teks masa lampau, tetapi merupakan sikap paling fundamental dalam eksistensi manusia,[45] maka harus disimpulkan bahwa masalah bahasa mempunyai relevansi ontologis dengan apa yang diharapkan dalam hermeneutik Gadamer.

Pemikiran Gadamer tentang bahasa merupakan bagian filsafatnya yang paling sulit dan paling banyak menimbulkan tanda tanya. Dalam hubungannya dengan bahasa salah satu yang sering ditekankan oleh Gadamer adalah bahwa bahasa tidak terutama mengekspresikan pemikiran tetapi obyek itu sendiri. Dalam hal ini ia bereaksi melawan setiap pandangan idealistis tentang bahasa. Menurut gadamer, bahasa berbicara tentang benda-benda dalam dunia; tidak boleh dikatakan bahwa bahasa merupakan suatu realitas subyektif yang menghalangi hubungan kita dengan benda-benda.[46] Dengan demikian, tidak ada perkataan yang dapat mengungkapkan suatu obyek dengan tuntas, melainkan oleh kelebihan manusiawi.

Menurut pendapat Gadamer, banyak problem tentang bahasa tidak dapat dipecahkan, jika orang berpegang teguh pada berpendirian bahwa bahasa merupakan “alat” saja. Tentu saja, bahasa adalah alat untuk kamunikasi dalam pergaulan antar manusia. Tetapi hal ini tidak boleh dianggap makna terdalam bahasa (suatu pendapat yang berkaitan erat dengan pemikiran heidegger tentang bahasa). Bahasa adalah lebih dari suatu sistem tanda-tanda saja. Pendirian yang beranggapan demikian, bertitik tolah dari adanya kata-kata yang memandang obyek-obyek sebagai sesuatu yang kita kenal lewat sumber lain.[47]

Jadi, dalam pemikiran Gadamer, antara kata dan benda terdapat kesatuan begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan-akan melekat pada benda. Demikian pun bahasa dan pemikiran bagi gadamer membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.

E. BAGAIMANA RELEVANSI HERMENEUTIKA GEORG GADAMER BAGI PENDIDIKAN ( ISLAM )

Paling tidak ada tiga sumbangan penting pemikiran Gadamer bagi dunia pendidikan. Pertama, keterbukaan terhadap yang lain. Hal ini bisa ditengarai dari konsep pemahaman Gadamer yang meniscayakan meleburnya latar belakang penafsir dalam dunia makna sehingga melahirkan pluralitas penafsiran. Di sinilah pentingnya keterbukaan terhadap yang lain dalam bingkai saling menghormati dan saling menghargai. Kedua, tidak fanatik terhadap paham atau mazhab yang dianut. Hal ini bisa dilihat dari sikap Gadamer yang tidak pernah melegitimasi sebuah penafsiran sebagai sesuatu yang benar. Sebab, menurut Gadamer, setiap pemahaman dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sang penafsir sehingga penafsiran dan pemahaman akan sebuah teks menjadi sangat beragam. Ketiga, semangat pendidikan untuk perubahan. Hal ini terinspirasi oleh proses pemahaman dan pembacaan terhadap teks yang menurut Gadamer tidak akan pernah berhenti. Proses ini meniscayakan sebuah pembaruan yang terus-menerus terhadap pengetahuan. Dengan semangat ini, seharusnya pendidikan bukan untuk mempertahankan status quo, tetapi untuk mencapai kemajuan di segala bidang.

Selanjutnya, penulis mempertanyakan apakah metode hermeneutika Gadamer visible untuk diintegrasikan ke dalam ilmu tafsir yang selama ini telah berkembang di kalangan ulama dan sarjana muslim? Penulis berasumsi bahwa ide-ide hermeneutik dapat diapalikasikan ke dalam ilmu tafsir, bahkan dapat memperkuat metode penafsiran Al-Qur’an. Dengan merujuk pada DR.Phil. Sahiron Syamsuddin, MA, bahwa ada beberapa alasan yang fundamental, antara lain:

1. Secara terminologi, hermeneutika ( dalam arti ilmu tentang “seni menafsirkan”) dan ilmu tafsir pada dasarnya tidaklah berbeda. Keduanya mengajarkan kepada kita bagaimana kita memahami dan menafsirkan teks secara benar dan cermat.

2. Yang membedakan antara keduanya, selain sejarah kemunculannya, adalah ruang lingkup dan obyek pembahasannya: hermeneutika, sebagaimana yang diungkapkan di atas, mencakup seluruh obyek penelitian dalam ilmu sosial dan humaniora (termasuk di dalamnya bahasa atau teks), sementara ilmu tafsir hanya berkaitan dengan teks. Teks sebagai obyek inilah yang mempersatukan antara hermeneutika dan ilmu tafsir.

3. Memang benar bahwa obyek utama ilmu tafsir adalah teks Alquran, sementara obyek utama hermeneutika pada awalnya adalah teks Bibel, di mana proses pewahyuan kedua kitab suci ini berbeda. Dalam hal ini, mungkin orang mempertanyakan dan meragukan ketepatan penerapan hermeneutika dalam penafsiran Alquran dan begitu pula sebaliknya. Keraguan ini bisa diatasi dengan argumentasi bahwa meskipun Alquran diyakini oleh sebagian besar umat Islam sebagai wahyu Allah secara verbatim, sementara Bibel diyakini umat Kristiani sebagai wahyu Tuhan dalam bentuk inspirasi, namun bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan ilahi kepada manusia adalah bahasa manusia yang bisa diteliti baik melalui hermeneutika maupun ilmu tafsir.

4. Setelah menelaah teori-teori hermeneutika Gadamer, peneliti berkeyakinan bahwa teori-teori tersebut dapat memperkuat konsep-konsep metodis yang selama ini telah ada dalam ilmu tafsir.[48]

F. K E S I M P U L A N

Gadamer boleh kita sebut sebagai hermeneut sejati. Gadamer secara mendasar menegaskan bahwa perseolah hermeneutik bukanlah persoalan tentang metode dan tidak mengajarkan tentang metode, tetapi lebih kepada usaha memahami dan mengintepretasikan sebuah teks, hermeneutik merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia. Dengan kata lain, hermeneutik model Gadamer ini adalah ketebukaan terhadap ‘yang lain’, apapun bentuknya, baik berupa teks, notasi musik ataupun karya seni. Hermeneutik menurut Gadamer adalah sungguh – sungguh sebuah seni.

Gagasan Gadamer tentang hermeneutika filosofis merupakan sebuah gebrakan dalam lapangan hermeneutik. Lewat karya monumentalnya Truth and Method yang lahir pada tahun 1960, Gadamer berhasil mentahbiskan diri sebagai seorang pemikir terkemuka dalam filsafat kontemporer. Dengan progresivitas pemikiran hermeneutik ala Gadamer, impian umat Islam untuk menggapai kejayaan peradaban akan segera terwujud. Sebab, imbas pemikiran Gadamer akan memberikan efek besar terhadap perubahan tradisi Islam yang selama ini terasa sangat kaku dan beku. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini perlu upaya “membumikan” pemikiran Gadamer di kalangan umat Islam yang tengah tertidur lelap. Wallahu a’lam

DAFTAR PUSTAKA

Almirzanah, Sahiron, (Editor), Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis: Teori dan Aplikasi, Yogyakarta, Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2009

E. Palmer, Penerjemah Musnur Huri dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Intepretasi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,2005

Gadamer, Truth and Methode ( Kebenaran dan Metode),Penerjemah Ahmad Sahidah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010

Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta, Rake Sasarin, 2005

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Paramadina, Jakarta, 1996

Bertens, K, Filsafat Barat Kontemporer : Inggris-Jerman, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002

Saenong, Ilham, B, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hasan Hanafi, TERAJU, Jakarta Selatan, 2002, hal: xxi

Sumaryono, Hermeutik: Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1999

Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutik dan Pengembangan Ulumul Qur’an, Yogyakarta, Pesantren Nawasea Press, 2009

________ Integrasi Hermeneutika Hans Georg Gadamer ke dalam Ilmu Tafsir? Sebuah Proyek Pengembangan Metode Pembacaan Al-Qur’an

http://dayatbanyuwangi.webnote.com/news/integrasi-hermeneutika-hans-george-gadamer-ke-dalam-ilmu-tafsir-/

http /rezaantonius.multiply.com/journal/item 243, Hermeneutika Hans- George Gadamer

http:// aa hidayat.wordpress.com/2010/06/hermenetika gadamer/


[1] M.Amin Abdullah, dalam Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hasan Hanafi, ( Jakarta, TERAJU, 2002) hlm: xxi

[2] Ibid,

[3]K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer : Inggris-Jerman, (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), cet. Ke IV, Hlm. 254

[4] E.Sumaryono, Hermeutik: Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta, Kanisius, 1999),hlm. 67

[5] Bertens, Filsafat Barat, hl m. 254

[6] ibid

[7] Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 67-68

[8] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer : Inggris-Jerman, hlm. 257

[9] http:// aa hidayat.wordpress.com/2010/06/hermenetika gadamer/

[10]E.Sumaryono, Hermeutik: Sebuah Metode Filsafat, hlm. 23.

[11] ibid

[12] Richard E. Palmer, Penerjemah Musnur Huri dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Intepretasi, ( Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005) cet.II, , hlm. 15-16

[13] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta, Paramadina, 1996) hlm. 13-14

[14] E.Palmer, Hermeneutika, hlm. 8

[15] K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 257

[16] Reza A.A Watimena, Hermeneutika Hans-Georg Gadamer,ttp/rezaantonius.multiply.com/journal/item 243

[17] Ibid, hlm. 258

[18] Ibid

[19] H. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, ( Yogyakarta, Rake Sasarin, 2005), cet. I, hlm. 26

[20] Hidayat, Memahami, hlm. 258

[21] Hans-Georg Gadamer, Truth and Methode ( Kebenaran dan Metode) Penerjemah, Ahmad Sahidah, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010) cet.II, hlm. 410

[22] E. Palmer, Hermeutika, 166

[23] ibid

[24]Sahiron Syamsuddin, Hermeneutik dan Pengembangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta, Pesantren Nawasea Press, 2009), hlm.46

[25] Ibid, hlm. 47

[26] ibid

[27] Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika Hans-George Gadamer dan Pengembangan Ulumul Qur’an dan Pembacaan Al-qur’an Pada Masa Kontemporer, dalam Syafa’atun Almirzanah dan Sahiron Syamsuddin (editor), Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis, ( yogyakarta, Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009), hlm. 38-39

[28] Ibid, hlm. 231

[29] ibid

[30] Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 69

[31] Gadamer, Philosophical Apprenticeships, 1985, hlm.179

[32] Gadamer, Truth, hlm.3

[33] Ibid, hlm. 5

[34] Sumaryono, hlm. 71

[35] K.Bertens, Filsafat Barat, hlm. 259

[36] Gadamer, Truth, hlm. 10

[37] ibid

[38] Ibid, hlm. 22

[39] Ibid, hlm. 26

[40] Ibid, hlm. 35

[41] Sumaryono, Hermeutik, hlm. 75

[42] Gadamer, Truth, hlm. 41

[43] Ibid

[44] E. Sumaryono, Hermeutik, hlm. 76

[45] Bertens, Filsafat, hlm. 266

[46] Ibid

[47] ibid

[48] Sahiron Syamsuddin, Integrasi Hermeneutika Hans Georg Gadamer ke dalam Ilmu Tafsir? Sebuah Proyek Pengembangan Metode Pembacaan Al-Qur’an, http://dayatbanyuwangi.webnote.com/news/integrasi-hermeneutika-hans-george-gadamer-ke-dalam-ilmu-tafsir-/
http://syarifel-bimany.blogspot.com