Sekilas Rasionalisme dalam Filsafat

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran yang berdasarkan rasio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu tidak ada sumber kebeneran yang hakiki selajn rasio. Sebuah ungkapan sederhana namun cukup representatif akan arti istilah rasionalisme ialah apa yang telah diungkapkan oleh F. Budi Hardiman, bahwa konsep rasionalisme mengacu pada sebuah aliran falsafah yang berpandangan bahwa pengetahuan (episteme). Tidak didasarkan pada pengalaman empiris, melainkan pada asas-asas a-priori yang ada dalam rasio. Rasionalisme menghadirkan aksioma-aksioma, prinsip-prinsip atau definisi-definisi umum sebagai dasar atau titik tolak, sebelum akhirnya menjelaskan kenyataan atau memahami sesuatu. Sepaham dengan ini, ialah apa yang dikatakan oleh Ahmad Tafsir, bahwa “rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.
Dengan demikian, rasionalisme sebagai sebuah epistemologi atau metode memperoleh pengetahuan, merupakan sebuah aliran falsafah yang ingin mengkaji seluk beluk pengetahuan, dengan menitikberatkan akal sebagai basis dan sumber pengetahuan itu sendiri.
Dalam pandangan rasionalisme, sumber dan dasar pengetahuan adalah akal (reason). Kalangan rasionalis menyatakan bahwa akal itu universal dalam semua manusia, dan pemikiran (akal aktif) merupakan elemen penting manusia. Pemikiran merupakan satu-satunya instrumen kepastian pengetahuan, dan akal merupakan satu-satunya jalan untuk menentukan kebenaran atau kesalahan.
Bagi filosof rasionalis, pengetahuan yang dapat memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah, adalah hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akal. Dalam pandangan kaum rasionalis, akal dipahamai sebagai sejenis perantara khusus, di mana dengan akal kebenaran dapat dikenal dan ditemukan. Karena itu, kunci pengetahuan dan keabsahannya, bagi rasionalisme, adalah akal.
Dalam prosedur praksisnya, kalangan rasionalisme memulai dengan menghadirkan aksioma-aksioma, prinsip-prinsip atau definisi-definisi umum sebagai dasar atau titik tolak, sebelum akhirnya menjelaskan kenyataan atau memahami sesuatu. Aksioma-aksioma yang dipakai dasar pengetahuan itu, diturunkan dari ide yang dipandang sudah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Sebuah contoh sederhana yang sering digunakan kalangan rasionalis untuk mendeskripsikan sistem rasionalisme ialah, aksioma geometri. Bagi para rasionalis, aksioma geometri adalah ide yang jelas lagi tegas, yang dari aksioma itu dapat dideduksikan sebuah sistem yang terdiri dari subaksioma-subaksioma. Misalnya sebuah aksioma geometri yang menyatakan bahwa, “garis lurus merupakan jarak terdekat antara dua titik.” Aksioma ini merupakan prinsip yang sudah ada dalam pikiran, yang dengan prinsip itu semua keadaan serupa dapat dijelaskan (baca: dideduksikan).
Secara khusus Rene Descartes mengetengahkan bahwa agar falsafah, termasuk epistemologi, dapat meraih kepastian absolut dan diakui benar secara universal, sehingga bisa mencapai kebenaran akhir yang pasti, maka falsafah harus menggunakan metode matematika sebagai idealismenya. Karena bagi Descartes, hanya matematikalah satu-satunya disiplin yang dapat menghasilkan pemikiran yang terbukti dan pasti. Artinya, bila falsafah ingin menemukan hasil atau pemikiran yang pasti, maka harus menjadikan metode matematika sebagai idealismenya.
Menurut Descartes, matematika mungkin melakukan itu lantaran ia mempunyai dua pengoperasian mental. Di mana dengan dua hal itulah, pengetahuan yang sesungguhnya akan bisa diraih.
Pertama, intuisi. Intuisi merupakan pemahaman kita atas prinsip bukti diri. Misalnya persamaan aritmatika bahwa, 2 + 5 = 7. Pembuktian akan kebenaran persamaan ini adalah menggunakan pemikiran atau akal, dirasiokan. Dalam hal ini, matematika mempunyai prinsip-prinsip yang kebenarannya telah diakui dalam akal, yang dipahami bahwa itu benar.
Kedua, deduksi. Deduksi yang dimaksud di sini ialah pemikiran atau kesimpulan logis yang diturunkan dari prinsip bukti diri. Persamaan aritmatika di atas misalnya, dengan persamaan itu kita bisa mendeduksikan, yakni menurunkan kesimpulan-kesimpulan lain yang serupa.
Jadi, intuisi dan deduksi itulah yang ada dalam metode matematika. Ketika sebuah metode pengetahuan (baca: epistemologi) mampu beroperasi seperti metode matematika itu, maka, bagi kalangan rasionalis, pasti akan menghasilkan pengetahuan yang tidak bisa diragukan lagi, pengetahuan yang tetap dan pasti, absolut dan universal.
Zaman Rasaionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII.Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuik menemukan kebenaran..Adalah Rene Descartes (1596-1650), selain disebut sebagai bapak filsafat modern ,ia adalah bapak rasionalisme.Ide terkenelnya bahwa cogito ergo sum (Prancis : je pense, Donc Je Suis), telah menjadi tonggak awal bagi babak baru falsafah , yaitu era modern. Di samping Descartes , ada Baruch Spinoza atau Benedictus de Spinoza (1632-1677), dan Gotiefried Wilhelm von Leibniz (1646-1716).
Rasionalisme baru kemudian muncul bahwa ternyata kebenaran akal yang pada awalnya titik tekannya pada kebenaran matematis, akan tetapi tidak hanya itu, kebenaran rasional harus bisa mengakomodasi hal yang anmatematis.
CopyPaste: Surga makalah®
*Dikutip dari berbagai sumber