Sejarah dan Tokoh Hermeneutika

A. Sejarah Hermeneutika

Hermeneutika sebagai sebuah seni interpretasi di dalam sejarah muncul dan berkembang secara sporadis. Saat itu ia mulai diperlakukan untuk menterjemahkan literatur otoritatif di bawah kondisi-kondisi yang tidak mengijinkan akses kepadanya, karena alasan jarak ruang-waktu atau pada perbedaan bahasa. Sebagai cara untuk memperoleh pemahaman yang benar dan transparan, maka pada awalnya hermeneutika dipergunakan pada tiga kapasitas:
a. Untuk membantu mengenai bahasa dan teks (kosa kata dan tata bahasa).
b. Memfasilitasi eksegesis literatur kitab suci.
c. Untuk menentukan yurisdiksi.
Mathius Flacius (seorang Lutheran) adalah orang pertama yang merumuskan hermeneutika kitab suci sebagai rangkaian reformasi dan dalam pihak oposisinya terhadap dogmatika Gereja Tridentin yang menekankan terhadap interpretasi literal terhadap kitab suci. Flacius mendesak sebuah kemungkinan interpretasi yang secara universal valid dan benar melalui pendekatan hermeneutika.
Setelah menolak dogma apapun yang secara tersirat cenderung menguasai eksegesis, maka hanya sebuah langkah kecil saja yang diperlukan untuk menggabungkan "hermeneutika khusus" terhadap eksegesis kitab suci menjadi "hermeneutika umum" yang menyediakan aturan-aturan bagi interpretasi apapun atas tanda-tanda, entah berasal dari yang profan atau tidak. Secara dasariyah hermeneutika adalah filosofis, sebab hermeneutika merupakan bagian dari seni berpikir. Dan penerapan hermeneutika pun sangatlah luas, yaitu meliputi bidang teologis, filosofis, linguistik (sastra) maupun hukum. Pembagian inilah yang kemudian dikenal dengan "hermeneutika khusus".
Teks sesungguhnya ada dalam bahasa (apakah teks itu berupa sebuah dokumen hukum, kitab keagamaan atau teks sastra), karenanya gramatika selalu digunakan untuk memperoleh sebuah kalimat, terhadap apapun tipe dokumen tersebut. Jika semua prinsip bahasa diformulasikan, ini akan membentuk hermeneutika umum. Hermeneutika inilah yang dapat digunakan sebagai basis dan inti semua "hermeneutika khusus".
Secara historis, bahwa hermeneutika pada aporisme awal hanya merupakan "cara seorang anak menangkap makna baru" struktur kalimat dan konteks makna merupakan petunjuk bagi anak kecil dan merupakan sistem interpretasi bagi hermeneutika umum.

B. Pengertian Hermeneutika

Hermeneutika berasal dari kata hermeneuein (menafsirkan) dan kata hermeneunia (penafsiran). Kata ini selalu diasosiasikan dengan dewa Hermes yang bertugas menyampaikan pesan-pesan dari dewa Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia. Maka sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani oleh sebuah misi tertentu; yang pada akhirnya hermeneutika diartikan sengan "proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti". Dan dalam versi lain Hermes berasal dari bahasa latin sermo, yang berarti to say (mengatakan), dan bahasa latin lainnya verbum (word/kata). Ini mengasumsikan bahwa utusan di dalam memberitakan kata adalah mengumumkan dan menyatakan sesuatu, fungsinya tidak hanya untuk menjelaskan tetapi juga untuk menyatakan. Ada tiga bentuk makna dasar dari kata hermeneuein dan hermeneuia, yaitu:
a. Mengungkapkan kata-kata, misalnya to say.
b. Menjelaskan, seperti menjelaskan situasi.
c. Menterjemahkan, seperti transliterasi dari bahasa lain.

Dengan demikian, interpretasi berarti atau mengacu pada tiga persoalan yang berbeda: pengucapan lisan, penjelasan yang masuk akal, dan transliterasi dari bahasa asing. Hanya saja seseorang bisa mencatat bahwa secara prinsip "proses Hermes" sedang berfungsi dalam ketiga persoalan itu, sesuatu yang asing, ganjil, waktu yang berbeda, tempat atau pengalaman yang nyata, hadir, komprehensif; sesuatu yang membutuhkan representasi, eksplanasi atau transliterasi yang bagaimana pun juga mengarah pada pemahaman diinterpretasi. Oleh karenanya, tugas interpretasi harus membuat sesuatu yang kabur jauh, dan gelap maknanya menjadi sesuatu yang jelas, dekat, dan dapat dipahami.


1. Hermeneuien sebagai "mengatakan"
Dalam pengertian ini interpretasi merupakan bentuk dari perkataan. Demikian juga perkataan lisan atau nyanyian adalah sebuah interpretasi. Karena alasan ini, seseorang diarahkan kepada cara sesuatu diekspresikan (gaya/penampilan). Interpretasi sebagai perkataan dan ekspresi melahirkan prinsip-prinsip fundamental dari interpretasi baik sastra maupun teologi. Ia mengarahkan kita kembali pada bentuk primordial dan fungsi bahasa sebagai suara hidup yang dipenuhi dengan kekuatan ungkapan yang penuh makna. Bahasa seperti ini lahir dari ketiadaan, bukanlah tanda, tapi suara. Bahasa kehilangan kekuatan ekspresifnya (dan keberartiannya) ketika ia direduksi ke dalam gambaran visual—tempat yang sunyi. Oleh karena itu, interpretasi teologi dan sastra harus mentransformasikan kembali tulisan ke dalam pembicaraan.

2. Hermeneutika sebagai to explain
Interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman diskursif. Hal yang paling esensial dari kata-kata bukanlah mengatakan sesuatu saja, namun menjelaskan, merasionalisasikan, dan membuatnya jelas. Area eksplanasi mengetengahkan prosedur pemahaman. Dan di dalam hermeneutika area pemahaman yang diasumsikan ini disebut pra-pemahaman (pre-understanding). Interpretasi eksplanatif membuat kita sadar bahwa eksplanasi bersifat kontekstual "horizontal". Eksplanasi harus dibuat dalam horison makna dan interpensi yang pasti, dia harus melakukan pra-pemahaman subyek dan situasinya sebelum dia dapat memasuki makna itu sendiri. Hanya ketika dia melangkah ke dalam lingkaran misteri dan horison itu sendiri, seorang penafsir bisa mengerti makna tersebut. Inilah lingkaran hermeneutik yang misterius di mana makna sebuah teks tak dapat muncul tanpanya. Dalam konteks ini, fungsi hermenutik eksplanatif dalam penafsiran sastra bisa dilihat sebagai usaha untuk meletakkan fondasi di dalam pra-pemahaman bagi sebuah pemahaman teks.

C. Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834)

Schleiermacher (adalah seorang raksasa intelektual pada zamannya. Kendati tidak pernah menulis suatu traktat yang sistematik tentang hermeneutik dan hanya meninggalkan beberapa catatan kecil kompedium kuliah, Schleiermacher telah meletakkan dasar hermenautika modern. Rekonsepsinya tentang hermeneutika, yang terbit dari refleksinya sebagai ahli eksegetika dan filologi, dipengaruhi oleh Plato, dan dinalar dalam konteks sistem idealisme Schelling, Fichte, dan Hegel.
Schleiermacher melihat dua masalah universal dalam hermeneutika, yakni perjumpaan dengan sesuatu yang asing dan kemungkinan salah paham manakala kita harus memahami pikiran atau sejumlah pikiran lewat kata-kata.
Arah baru yang dibicarakan oleh Schleiermacher adalah tekanan pada pemahaman terhadap hal yang dikatakan dalam suatu dialogia.
Proses komparatif dan divinatorik yang merupakan penetrasi ke dalam struktur kalimat dan struktur pikiran pencipta hingga mengerti keaslian yang berasal dari dalam karya, yaitu proses hermeneutika. Hermeneutika adalah kegiatan mendengarkan yang penetratif tersebut dan disinilah hakikat hermeneutika harus dikaji dan dipelajari.
Bagi Schleiermacher, pemahaman tidak lain adalah mengalami kembali proses kejiwaan pencipta teks. Kita berangkat dari ungkapan yang sudah pasti dan selesai serta meniti kembali kenyataan kejiwaan yang menjadi pangkal tolak ungkapan tersebut.
Semakin tegaslah Schleiermacher bahwa objek operasi hermeneutika terdapat di dalam dua bidang, yakni bahasa dan pikiran. Schleiermacher mengatakan bahwa pemahaman adalah suatu teknologi, bukan proses mekanikal, bukan ilmu, untuk menyusun kembali pikiran/pemikiran orang lain.
Schleiermacher melihat gaya bukan sebagai masalah hiasan. Gaya menandai kesatuan pikiran dan bahasa, kesatuan umum dan khusus di dalam proyek seorang pencipta.
Pemikiran Schleiermacher bergeser dari konsepsi hermeneutika yang terpusat pada bahasa ke konsepsi hermeneutika yang terpusat pada masalah kejiwaan, masalah menentukan atau merekonstruksi suatu proses mental yang yang hakikatnya tidak lagi bersifat kebahasaan. Ia melampaui diskusi tentang bangunan aturan-aturan.
Minatnya pada masalah kejiwaan adalah prestasi khas Schleiermacher, tetapi ia cenderung mengaburkan unsur kesejahteraan dan unsur pentingnya bahasa dalam analisis arti.

D. Wilhelm Dilthey
W. Dilthey (1833-1911Dilthey, berpendapat bahwa definisi-definisi filsafat adalah dokumen sejarah yang dapat memberikan informasi tentang situasi kejiwaan suatu zaman. Tujuan seluruh pemikiran Dilthey tentang hermeneutika adalah mengembangkan metode menganalisis ekspresi kehidupan batin “yang secara objektif sah”. Titik tolak dan titik akhirnya adalah pengalaman konkret.
Dilthey menerangkan hidup, ekstensi manusia, dengan pertolongan konsepsi-konsepsi ilmu alam adalah tidak benar. Ilmu alam memisah-misahkan unsur-unsur, sedangkan hidup, yang berupa kenyataan historikal-sosial tidak dipisahkan ke dalam unsure-unsur. Hidup mempunyai suatu struktur hermeneutikal. Demikian orientasi pemikiran Dithley. Hidup tidak dapat dideduksikan dari prinsip-prinsip. Hidup tidak dapat diterangkan, tetapi dapat dipahami.
Pemahaman, menurut Dilthey adalah nama untuk proses pengetahuan kehidupan kejiwaan lewat ekspresi-ekspresinya yang diberikan pada indra. Pemahaman menunjukkan berbagai tingkatan. Tingkatan, pertama-tama ditentukan minat. Bilamana minat terbatas, pemahaman juga terbatas. Bilamana kita memahami dengan memproyeksikan diri kita pada objek, berarti kita memahami objek sebagai keberadaan yang juga berkesatuan itu.
Dalam pemikiran Dilthey, sifat kesejarahan (historikalitas) hidup senantiasa ditekankan. Mengabaikan hal tersebut berarti menjurus ke dalam objektivitas ilusif sebab manusia yang cirinyua historical tidak mungkin dipahami secara semestinya. Pemahaman terhadap masa lalu bukan merupakan bentuk perbudakan, tetapi bentuk kemerdekaan, yakni kemerdekaan guna mengetahui diri dengan semakin penuh dan kesadaran akan kesanggupannya untuk menuruti hendak menjadi apa.
Hakikat hubungan arti, menurut Dilthey, terletak di dalam hubungan yang dalam proses perjalanan waktu termuat dalam pembentukan hidup yang terjadi secara bertahap. Arti dan keberartian senantiasa bergantung pada hubungannnya, merupakan bagian dari situasi. Arti bersifat historikal yakni berubah bersama waktu. Arti adalah masalah hubungan, menunjuk pada jaringan hubungan budaya yang saling berkaitan dan senantiasa berkaitan dengan suatu perspektif dari sisi peristiwa. Kenyataan adanya lingkaran dalam proses pemahaman mengungkapkan masing-masing bagian mengandaikan yang lain sehingga konsepsi pemahaman tanpa pengandaian tidak mempunyai dasar faktual.
http://ilmutuhan.blogspot.com