Hedonisme : Agama Baru

Budaya merupakan suatu perilaku, tindakan atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat dan biasanya berkembang menjadi sebuah gaya hidup masyarakat yang memilikinya. Budaya juga dapat dikatakan sebagai karakter suatu kelompok orang atau masyarakat. Berbagai bentuk budaya yaitu sistem agama dan politik, gaya hidup, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Dalam ilmu kependudukan, budaya merupakan sebuah hal penting yang tidak dapat dipisahkan dengan penduduk. Kaitan budaya dengan perencanaan wilayah sangatlah mempengaruhi kebutuhan masyarakat yang mendiaminya. Apabila masyarakat perkotaan yang budayanya konsumtif maka sarana prasarana yang dibutuhkan pastilah yang berhubungan dengan perdagangan dan jasa seperti mall, berbeda dengan masyarakat pedesaan yang budaya tradisionalnya masih kuat seperti tradisi bertani secara turun temurun memerlukan sarana prasana yang dapat mendukung hal tersebut seperti koperasi.

Budaya-budaya yang positif memang harus dipertahankan keutuhannya sebagai simbol identitas suatu kelompok orang atau masyarakat. Namun bagaimana dengan budaya yang buruk?? Budaya sendiri dapat dikatakan baik atau buruk apabila dilihat dari sisi-sisi tertentu. Contoh budaya yang mungkin dapat dikatakan buruk yaitu gaya hidup hedonis masyarakat kota-kota besar. Anggapan bahwa materi atau kesenagan adalah segalanya rupanya menjadi prinsip banyak orang yang tinggal di kota-kota metropolis. Mereka berlomba-lomba untuk dapat meraih apa yang mereka impikan walaupun mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkannya. Clubbing, liburan ke luar negeri, sekolah cuma mau yang internasional atau bahkan home schooling, kemana-mana harus bawa mobil, tinggal di apartemen, koleksi gadget serba mahal, belanja dan makan serba mewah, perawatan ke salon termahal, olah raga golf, atau masih banyak kegiatan “hedon” lain yang mereka biasa kerjakan demi memperoleh kepuasan. Tapi apa benar hedonisme itu buruk??

Menurut Wikipedia, Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Jadi anggapan yang menyatakan bahwa hedonisme adalah buruk tidak dapat dikatakan sepenuhya benar. Tidak semua orang yang mengejar kesenangan selalu merepotkan atau merugikan orang lain. Seseorang dikatakan merepotkan atau merugikan orang lain apabila seseorang tersebut menggunakan hak atau uang orang lain untuk mendapatkan kesenangannya. Kehidupan di kota-kota besar banyak menuntut masyarakatnya untuk mencari kesenangan setelah seharian menjalani rutinitas yang padat dan menjemukan. Tidak dapat dipungkiri kesenangan yang mereka cari menuntut banyak uang untuk meraihnya. Entah itu uang yang mereka peroleh berasal dari hasil kerja keras mereka sendiri ataupun yang mereka dapat secara tidak baik.

Gaya hidup konsumtif dan serba bermewah-mewahan tersebut memang membawa pengaruh negatif apabila hal tersebut dapat membutakan masyarakat kota besar untuk hanya memikirkan bagaimana memperoleh uang yang banyak tanpa melihat keadaan yang sebenarnya. Namun di sisi lain kebiasaan tersebut dapat memotivasi seseorang untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Tergantung pada cara memperoleh kesenangan yang diinginkan. Apabila dilakukan secara benar dan tidak merugikan orang lain, seperti contohnya seorang mahasiswa yang berbisnis konveksi atau bekerja sambilan demi memperoleh cita-citanya membeli mobil tanpa merepotkan orang tuanya merupakan hal yang patut diacungi jempol daripada seorang pejabat negara yang dengan seenaknya melakukan korupsi demi memenuhi kebutuhan untuk berfoya-foya dan mengikuti tren hidup mewah.Namun apabila dilihat dari segi kependudukan Indonesia, budaya hedonisme tidaklah pantas dijadikan sebuah gaya hidup. Menurut saya budaya hedonisme hanya cocok bagi masyarakat negara maju yang memang mendukung dan mendorong akan hal itu. Namun bagaimana dengan negara berkembang yang masih banyak memiliki masalah kependudukan baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik dimana jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin masih sangat lebar?? Hal ini dapat dikatakan miris apabila seseorang berfoya-foya sementara orang-orang di sekitarnya menderita atau serba kekurangan. Jadi kesimpulannya, pembaca sendirilah yang patut menilai budaya hedonisme itu baik atau buruk tergantung dari mana pembaca melihatnya.
http://metaholic.wordpress.com/2012/04/09/budaya-hedonisme/