Karl Marx : Pemikiran Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung


http://www.pic.iran-forum.ir/images/20sfhrm5o10ijuhlscm.jpg
Karl Marx
 Mendengar nama-nama Pemikir berhaluan “kidal”, seperti Lenin, Stalin atau pun Mao, mungkin bisa membuat bulu kudu berdiri alias merinding. Merinding karena mereka secara berani, cadas dan mungkin kejam, menerapkan ajaran-ajaran suci Sang Nabi kaum buruh (Proletar) yaitu Karl Marx. Ketiga-nya baik Lenin, Stalin dan Mao, mencoba menafsirkan isi ajaran Marx tentang agenda pembebasan kaum miskin (buruh) dari jerat eksploitasi pemilik modal (Borjuis).  Senafas dengan Marx, ketiganya se-iya dan se-kata bahwa agenda pembebasan harus dilakukan melalui revolusi tanpa kenal ampun dan belas kasihan. Perubahan melalui nir-kekerasan tampak bagi mereka adalah omong kosong. Karena pemilik modal, dengan segala tipu dayannya, tidak akan pernah menyerah.
Meski demikian, baik Lenin, Stalin dan Mao, masing- masing memiliki perbedaan dalam menafsirkan agenda perubahan. Selain itu mereka juga memiliki perbedaan dengan induk semangnya yaitu Karl Marx. Tulisan ini mencoba mencari titik kesamaan dan perbedaan ketiga pemikir komunis pasca Marx. Atau dengan kata lain, mencoba menjawab sejumlah pertanyaan untuk memetakan kesamaan dan perbedaan dari pemikiran Marx dan pasca-Marx (Lenin, Stalin dan Mao). Pertanyaan-pertanyaan itu adalah: Bagaimana para kapitalis atau pemilik tanah mengeksploitasi para buruh? Mengapa harus melakukan revolusi? Di mana revolusi harus terjadi? Siapa yang akan melakukan revolusi? Apakah revolusi harus terjadi dalam periode yang singkat? Apakah ekonomi menjadi faktor determinan dari segala sesuatu atau apakah ideologi yang menjadi penentu?
Untuk menjawab seluruh pertanyaan di atas, yang harus dilakukan adalah dengan menggambarkan pemikiran Karl Marx. Karena ketiga tokoh ini (Lenin, Stalin dan Mao) adalah anak kandung dari pemikran Marx. Pada bagian awal saya akan menjelaskan beberapa poin-poin penting dari pemikiran Marx yang pada akhirnya dikembangkan oleh Lenin, Stalin dan Mao. Sesudah itu saya akan menunjukan di mana letak persamaan dan perbedaan dari masing-masing tokoh. Sebelum melangkah ke tujuan itu semua, rambu-rambu yang harus ditaati dalam membaca tulisan ini adalah “jangan pernah berharap untuk menemukan kandungan pemikiran Marxisme secara utuh dan komprehensif dari tulisan singkat ini”. Usaha pembacaan ulang dan karya-karya asli dari pemikiran Marxisme harus dan wajib dilakukan guna menemukan penafsiran yang baru dan lebih kokoh.
Karl Marx: Empat Gagasan Dasar
Lenin

Karl Marx akan selalu dikenang dan dieluh-eluhkan oleh setiap orang yang merasakan keprihatinan akan nasib kaum miskin yang selalu tertindas dan teraniaya. Seruannya untuk pembebasan kaum buruh dari cekikan para pemuja modal membuat Karl Marx sejajar dengan (bahkan melampaui) para Nabi dan Wali. Ajarannya yang sangat egaliter mendorong seseorang untuk berfikir dan bertindak sesuai manifesto pemikiran Marx. Tidak heran, jika gaung dari Pemikiran Marx menggema di setiap belahan bumi manusia. Sebagai anak kandung pencerahan, setidaknya ada empat poin yang paling mendasar dari pemikiran Marx.

Poin yang pertama, kita bisa menemukannya di dalam sumbangsih Karl Marx pada disiplin ilmu sosiologi. Kalau kita sering diskusi (membaca) Marx dalam domain sosiologi maka kita akan menemukan adagium Marx bahwa ekonomi adalah faktor yang paling penting di dalam masyarakat apa pun. Bagi Marx, semua masyarakat terdiri dari dua bagian yang paling mendasar: fondasi (infrastruktur) dan superstruktur.  Istilah yang pertama (infrastruktur) merujuk pada sumberdaya dan teknologi (sarana produksi) yang tersedia di masyarakat, yang pada akhirnya menentukan bentuk sistem ekonomi. Superstruktur terdiri dari ideologi, hukum, pemerintahan, nilai, kepercayaan, pendidikan, agama, atau seni yang diciptakan dan digunakan untuk mendukung infrastruktur (Leon P. Baradat, 1988).
Contohnya seperti ini, jika dasarnya adalah monarki absolut  maka Raja atau Ratu akan menjadi kelas penguasa; jika dasarnya adalah feodalisme maka para aristokrat (pemilik tanah) akan mendominasi para budak; dan jika dasarnya adalah kapitalisme maka para borjuis (pemilik modal) akan mengatur kehidupan masyarakat. Persolan ini menjadi langkah awal bagi Marx untuk merumuskan agenda revolusi dan kebebasan.
Poin dasar yang kedua dari gagasan Marx adalah tentang teori sejarahnya yang sering dikenal dengan materialisme dialektis. Marx meyakini bahwa sejarah adalah konflik antar kelas-kelas yang berbeda. Melalui materialisme dialektis-nya, Marx meyakini bahwa manusia telah melalui empat tahapan sejarah yang pada akhirnya akan memasuki tahapan kelima dan paling akhir. Masing-masing sejarah dicirikan dengan sistem ekonomi tertentu (infrastruktur) yang mengarh pada sistem politik tertentu (suprastruktut)( Leon P. Baradat, 1988).
Sejarah yang paling awal adalah komunisme purba (primitif). Selama periode ini manusia hidup tidak terorganisir dan tidak ada pemilikan alat produksi, yaitu kebutuhan dipenuhi secara bersama-sama. Selanjutnya dengan munculnya konsep tentang pemilikan pribadi, manusia mulai membedakan barang-barang yang dimilikinya dan mengontrol barang-barangnya secara individu. Apalagi, ketika satu suku (kelompok) menjadi lebih kuat maka mereka mulai mendiskriminasikan dan mengatur suku (kelompok) yang lain. Peristiwa ini kemudian mengarah pada era (sejarah) baru. Era baru yang merupakan tahapan ke-dua sejarah manusia, yaitu masa perbudakan. Suku yang berkuasa adalah kerajaan di dalam era perbudakan. Kelompok yang menentang raja adalah barbarian.
Stalin
Ketika barbarian mengalahkan kerajaan, maka sistem ekonomi-politik yang baru muncul. Sistem ini dikenal dengan nama feodalisme. Karena tanah para aristokrat bergantung pada sejumlah besar untuk memenuhi dirinya dan mengabaikan aspek perniagaan dan keuntungan memungkinkan untuk memunculkan kelas baru yaitu kapitalis. Munculnya kelas kapitalis merupakan tahapan ke-empat dari sejarah manusia. Era kapitalisme telah meningkatkan produktivitasnya demi memenuhi kebutuhan dasar manusia. Tetapi karena kapitalisme berwatak eksploitatif dan distribusi barang-barang secara tidak sama, maka muncul sebuah kelompok baru yaitu proletariat (buruh). Marx meyakini bahwa ketegangan antara dua kelas ini merupakan bentuk ketegangan dialektis yang pada akhirnya mengakhiri sejarah manusia. Marx mengatakan bahwa kemenangan proletariat adalah keniscayaan; kemenangan kaum yang dieksploitasi terhadap golongan yang suka mengeksploitasi. Ketika kapitalisme hancur (punah) sejarah manusia akan berakhir di ranjang komunisme. Di dalam masyarakat ini, semua orang akan menemukan tempat dan kebahagiannya.
Gagasan dasar ke-tiga dari Marx adalah tentang teori ekonominya. Teori ekonomi Marx digunakan untuk menjelaskan bagaimana para kapitalis mengeksploitasi para pekerja industri. Di dalam teori ekonominya Mark menjelaskan tentang teori kerja, alienasi, teori nilai kerja, dan teori nilai lebih (surplus). Pada seluruh bagian ini Marx mencoba melegitimasi seluruh bangunan teorinya secara ilmiah. Ada kondisi objektif bahwa pemilik modal telah menghisap keringat dan darah buruh.
Gagasan dasar yang terakhir dari Marx adalah teori revolusi. Marx memiliki pandangan yang sangat optimistik terhadap sifat manusia. Dia meyakini bahwa kaum proletar memiliki kesadaran untuk melakukan revolusi. Oleh karena itu, revolusi akan menyembul ketika mereka tidak mentolerir tindakan eksploitatif para pemilik modal. Meminjam diktum Marx “bahwa buah yang sudah matang tidak perlu kita petik karena buah itu akan jatuh oleh mereka sendiri”. Untuk membantu menigkatkan kesadaran kelas, Marx memberikan peran ini pada para pengikutnya.
Meski demikian, menarik untuk meneliti bahwa Marx tidak membolehkan mereka untuk mengorganisir dan memimpin revolusi. Dia melihat fungsinya sebagai pendidik ketimbang partisipatoris. Selanjutnya, karena agenda Marx bersifat Internasional maka dia mengungkapkan bahwa revolusi harus terjadi di negara kapitalis yang paling maju. Karena dia percaya bahwa negara yang paling maju adalah negara yang paling eksploitatif. Oleh karena itu, revolusi harus dilakukan di Inggris, Jerman, Prancis, Belgia dan Belanda (Leon P. Baradat, 1988).
Apa yang Marx anjurkan sesudah revolusi? Setelah revolusi, Marx meyakini bahwa kontrol terhadap masyarakat akan beralih dari kelompok pemilik modal ke diktator proletariat. Selain itu, beberapa ketidaksetaraan pendapatan tetap diteruskan guna mempertahankan keuntungan kerja dan membuat sistem politik baru bisa diterima. Kebaikan, menurut Marx, harus didistribusikan sejalan dengan prinsip “masing-masing memperoleh sesuai kemampuannya”. Marx juga meyakini bahwa ada beberapa pra-kondisi yang harus dipenuhi di tahapan awal sosialisme sebelum melangkah ketahapan komunisme (H. Stephen Gardner, 1998).
Pertama, masyarakat harus meningkatkan pembangunan ekonomi agar kekayaan melimpah ruah. Kedua, manusia harus menghilangkan kepentingannya. Artinya, kerja bukan hanya dilihat sebagai pemenuhan kebutuhan tetapi keutamaan hidup yang harus dikembangkan. Ketiga, semua revolusi sosialis harus disebarkan (terjadi) pada semua negara sebelum komunisme dimunculkan di setiap negara. Kelas pekerja di satu negara tidak akan sanggup mengakhiri dominasi kelas borjuis karena mereka menanamkan dominasinya di setiap negara. Setelah memenuhi semua kondisi ini komunisme baru bisa diterapkan.
Revolusi dalam kacamata Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung
Mao Tse Tung
Uraian di atas adalah kerangka untuk membaca palung pemikiran politik sesudah Marx. Mengapa Lenin, Stalin dan Mao? Kalau kita mencermati kandungan pemikiran Marx dan gerak sejarah konstelasi politik global, maka jawabannya mudah untuk ditemukan. Ketiga tokoh itu adalah pemikir sekaligus praktisi yang menggubah idealisasi perjuangan Marx dalam bentuk kongkrit. Meskipun banyak tokoh-tokoh lain yang menerapkan marxisme sebagai gaya hidup tetapi gaungnya tidak sebesar tiga tokoh ini. Baik Lenin, Stalin dan Mao adalah penggubah awal doktrin perjuangan politik yang membuat para Marxis tercengang. Saya akan mencoba menunjukan bagaimana ketiga tokoh ini menggubah pemikiran Marx sesuai kondisi kehidupan mereka. Saya akan memulainya dari Lenin, kemudian Stalin dan terakhir Mao.
Lenin, seorang pemimpin Russia, telah mengikuti dan mentransformasi beberapa pemikiran Marx ke dalam pemikirannya sendiri. Seperti Marx, Lenin juga memilih revolusi berdarah karena meyakini bahwa para pemilik modal tidak akan pernah menyerah melalui jalan damai. Namun, tidak seperti Marx, Lenin percaya bahwa proletar tidak memiliki kesadaran akan revolusi. Sehingga mereka harus diorganisir dan diarahkan oleh kelompok elit revolusioner yang dia sebut Bolshevick. Lenin emoh menunggu waktu jatuh buah yang sudah matang. Menurutnya, sekolompok orang harus mengambil buah yang sudah matang itu.
Sementara Marx menyerukan tentang revolusi yang harus terjadi di negara-negara yang sudah maju seperti Inggris, Jerman, Prancis, Belgia atau Belanda, Lenin lebih berkeyakinan bahwa revolusi harus terjadi di negara yang baru sedang berkembang. Keyakinan ini berdasarkan pada teorinya tentang imperialisme. Dalam teori itu, Lenin mengatakan bahwa para pekerja di negara-negara kolonial lebih menderita ketimbang di negara-negara maju. Sebabnya para kapitalis mencoba meregangkan tekanan buruh di negara maju yang sudah sampai di ubun-ubun. Caranya dengan mengambil (mengeruk) keuntungan dari negara kolonial sembari membagikannya kepada para buruh di negara maju melalui kebijakan negara. Oleh karena itu, bagi Lenin revolusi harus terjadi di Russia dan negara yang sedang berkembang lainnya (Chhay Haksym, 2005).
Kalau disawang-pinawang (dilihat-lihat) Marx lebih demokratis daripada Lenin. Karena setelah revolusi, Marx menginginkan diktator proletariat berfungsi mengatur ke tahapan berikutnya. Tetapi bagi Lenin, para proletariat harus berada di bawah kontrol Bolshevik. Aspek lain yang membedakan Lenin dengan Marx adalah tentang terjadinya revolusi. Bagi Marx revolusi harus terjadi di negara kapitalis yang paling kompetitif dan harus ditularkan ke negara-negara maju lainnya. Ini tidak berlaku untuk Lenin. Revolusi bagi Lenin harus terjadi di negara berkembang dan baru kemudian ditularkan ke seluruh dunia. Meski demikian keduanya tetap kompak dalam artian bahwa agenda revolusi adalah agenda Internasional.
Sepeninggalan Lenin, tongkat estafet revolusi Russia diteruskan oleh Stalin. Meski Stalin hidup dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh dengan Lenin, pandangan dia tentang doktrin Marx memiliki perbedaan penting. Sebelum membicarkan perbedaan itu,saya akan menyinggung kesamaannya denga Lenin. Stalin sependapat dengan Lenin, bahwa buruh tidak memiliki kesadaran akan revolusi. Agenda revolusi harus dikontrol dan dipandu oleh elit revolusioner. Stalin juga sependapat dengan Lenin dan Marx, bahwa pemerintah tidak akan dibutuhkan lagi jika eksistensi borjuis sudah hilang.
Stalin tidak sependapat dengan Lenin dalam dua hal. Pertama adalah mengenai fungsi diktator proletariat. Meskipun keduanya melihat bahwa peran diktator proletariat adalah mengontrol para proletar. Stalin menginginkan tidak hanya sekedar kontrol tetapi kekerasan pun diwajibkan guna menjaga stabilitas revolusi. Poin kedua adalah Stalin menganggap bahwa revolusi tidak harus ditularkan ke penjuru dunia. Karena komunisme di satu negara adalah mungkin (Steven Rosefielde, 1996).
Karena China adalah negara pertanian, Mao telah memodifikasi Marxist, teori Lenin dan beberapa teori baru diciptakan guna menyesuaikan dengan budaya Asia. Seperti Marx dan Lenin, Mao juga memilih revolusi non-cinta damai untuk mengakhiri imperialisme (kapitalis) dan kepemilikan tanah (China). Tetapi karena kebanyakan orang China adalah petani, Mao memberikan peran penting kepada para petani untuk mengendalikan revolusi yang hal ini jelas berbeda dengan Marx dan Lenin. Dari model revolusi seperti ini-lah maka ada istilah “dari desa (petani) mengepung kota”.
Aspek lain yang menarik dari pemikiran Mao adalah penentangan dia tentang determinisme ekonomi. Maksudnya Mao lebih memilih untuk meyakini bahwa ideologi sebagai dasar yang penting untuk menjaga revolusi daripada ekonomi. Dan dari sini-lah rentang waktu revolusi Mao sangat lama. Sedangkan bagi Marx dan Lenin rentang waktu revolusi berjalan secara singkat. Di China, mao mengenalkan teori tentang revolusi permanen. Contoh kecilnya adalah kebijakan dia tentang revolusi kebudayaan, gerakan seratus bunga dan sebagainya. Selain itu, Mao adalah seorang nasionalis yang jelas berbeda dengan Marx dan Lenin (Chhay Haksym, 2005).

Referensi:
Baradat, Leon P.,  Political Ideologies (printed in the United States of America, 1998).
Gardner, H. Stephen,  Comparative Economic System (Second Edition, Printed in the United of America, 1998).
Haksym, Chhay, Communism, Fascism, and Democracy: Compare and Contrast the basic ideas of Marxism, Marxism-Leninism, and Maoism. What are the strengths and weaknesses of each of these ideologies?, December 03, 2005 lihat di www. chhayhaksym.files.wordpress.com
Rosefielde, Steven. “Stalinism in Post-Communist Perspective: New Evidence on Killings, Forced Labour and Economic Growth in the 1930’s”, Europe-Asia Studies, 48, 6, September 1996, pp. 959-987.
http://iyarsiswo.wordpress.com